Kegelisahan
Mungkin jika ditulis ke blog, jadi lebih plong, walau ntah
siapa yg bakal lihat hahah.
Dimulai dari melihat postingan blog oleh twit @MuslimPlayers
tentang Ibrahim Afellay, pemain bola muslim terkenal dari Belanda. Ini postnya
gan : http://muslimfootballers.blogspot.com/2012/10/afellay-mengalahkan-ulama-
Menjadi gelisah.
Gelisah.
Teramat.
Bukan karena si Afellaynya, tapi karena kehidupannya! Kehidupan yang benar-benar saya inginkan waktu masih kecil! Sejak kelas 2 SD malah! Pemain bola terkenal, membanggakan orang tua dan negara, terus kuat membela agama sendiri!
Ingin jadi pemain bola karena lihat Del Piero lawan Cagliari, ingin membanggakan negara karena prestasi Indonesia yang tidak ada apa-apanya dulu, membela agama karena tidak ada satupun terdengar dulunya pemain bola terkenal muslim.
Gelisah.
Teramat.
Bukan karena si Afellaynya, tapi karena kehidupannya! Kehidupan yang benar-benar saya inginkan waktu masih kecil! Sejak kelas 2 SD malah! Pemain bola terkenal, membanggakan orang tua dan negara, terus kuat membela agama sendiri!
Ingin jadi pemain bola karena lihat Del Piero lawan Cagliari, ingin membanggakan negara karena prestasi Indonesia yang tidak ada apa-apanya dulu, membela agama karena tidak ada satupun terdengar dulunya pemain bola terkenal muslim.
Sebenarnya ini sudah lama, bahkan sebenarnya sudah sejak SMA.
“Saya bakal jadi apa ntar waktu udah dewasa?” Bukannya saya tidak menikmati
kehidupan saya saat ini di ITB, banyak hal
menarik untuk dipelajari, termasuk tugas akhir-akhir ini, yaitu Tugas
Pendahuluan Praktikum sebanyak 74 soal dalam 2 hari (di hari itu juga ada UTS).
Bukan sekedar soal, karena dituntut menjelaskan jawabannya juga. Dan itu
menarik. Sangat menarik karena ternyata saya dan teman-teman saya bisa
menyelesaikannya.
Tapi tetap saja dengan kenyataan bahwa saya tidak bisa memenuhi
keinginan masa kecil saya. Saya tidak
mau menyalahkan orang tua saya, orang tua saya sebenarnya mempunyai tujuan
baik. Ibu saya seorang yang visioner dan bisa membaca keadaan. Kondisinya saat itu sangat jarang terdengar
para olahragawan yang setelah pensiun kehidupannya sangat nyaman. Negara tidak
peduli, walau para pahlawan tersebut sudah sangat berjasa. Mereka disia-siakan.
Walau seorang juara dunia. “Habis manis, sepah dibuang”. Dan orang tua saya
tidak ingin masa depan saya seperti itu. Dunia makin edan, era globalisasi
semakin luas. Orang berpendidikan seperti orang tua saya harus merencanakan
semuanya dengan matang. Sehingga keinginan menggebu2 saya harus dibuat redup.
Seredup-redupnya. Demi masa depan yang lebih cerah. Dan sayangnya orang tua saya
saat itu belum melihat cerita kesuksesan Alan Budikusuma dan Susi Susanti
setelah pensiun.
Saat ini dunia sepakbola sudah kemasukan generasi baru. Generasi
kelahiran tahun 1990-an. Macam Marrone, Pogba, El Sharrawy atau Andik
Vermansyahlah. Pemain-pemain idola waktu kecil banyak yang udah dekat pensiun
atau bahkan udah jadi pelatih. Dan apa yang di dalam dada benar-benar
bergejolak. Antara marah, sedih, dan ketidakberdayaan.
Saya tahu, dalam hidup tidak boleh lemah dengan kenyataan. Cuma
satu hal, satu hal yang bisa saya lakukan. Harus tetap semangat memberikan
suntikan tenaga konstan untuk visi saya tentang kehidupan saya saat ini. Walau
tiap tengah minggu atau weekend TV menayangkan perjuangan kehidupan yang
berbeda.
Atau setidaknya kalau misalnya ada keajaiban datang.
Komentar
Posting Komentar