Postingan

Menampilkan postingan dengan label Contemplation

Kereta Api Bergerak Mundur

  Well , sebuah plan kembali mundur beberapa langkah ke belakang. Kemunduran yang sudah agak mendorong pikiran berputar dalam beberapa hari terakhir, dan bahkan mungkin sebenarnya sudah terjadi beberapa hari sebelum keberlanjutan kabar akan rencana ini diumumkan. Tentunya saya mengerti kenapa kabar ini, baik atau buruknya, mengganggu pikiran. Tidak lain dan tidak bukan, langkah ini juga menjadi bagian dari langkah domino yang sudah saya bayangkan ke depannya. Tetapi, kehidupan memang suka berbicara berbeda. Di umur sudah hampir menyentuh kepala tiga, segala perbenturan beserta langkah jejak yang sudah dilalui, pengalaman berasa lebih nyata penampakan dan hawa yang dirasakan. Tidak lagi seperti ketika remaja, dengan mudah sebuah kemunduran untuk dilalui dan dianggap seperti angin lalu di langkah berikutnya. Jangan ditanya mengenai pengalaman masa bayi. Angin dan waktu seperti pada kecepatan yang sama, terlalu cepat. Dengan mudah untuk dilalui. Jadi untuk saat ini, saya belajar mener...

Mengatakan "I Don't Know"

Pada Maret 2020, Matthew Backus dan Andrew T. Little menulis jurnal yang berjudul "I Don't Know". Penelitian mereka membahas bagaimana seorang pengambil kebijakan publik politikus mengambil pilihan dalam dunia yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian. Dalam proses tersebut, pengambil keputusan akan bertanya kepada para ahli mengenai pandangan mereka. Tentu sekilas hal yang normal untuk dilakukan, dan memang seharusnya terjadi. Tetapi tidak ketika seorang ahli sangat peduli dengan reputasi akan kompetensinya. Dalam posisi tersebut, para ahli akan sulit untuk mengakui tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui atau belum dipahami. Bisa diperkirakan, ketika mereka terjebak oleh, katakanlah ego pribadi, kelancaran bisnis di masa depan, atau historikal pengalaman, pandangan yang akan diberikan kepada pengambil keputusan akan menjadi bias. Jurnal ini berusaha menggambarkan dampak dan mencari hasil optimum yang terbaik dengan menggunakan pemodelan Markov Sequential Equilibrium,...

Recovery Journey and Commitment

Seorang rahib menghadap Buddha dan berkata :      "Apakah jiwa orang saleh luput dari maut?" Seperti biasanya Buddha tidak menjawab. Tetapi rahib itu mendesak. Setiap hari ia mengulangi pertanyaan yang sama. Setiap hari pula ia tidak dijawab. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan mengancam mau meninggalkan pertapaan, kalau pertanyaan mahapenting ini tidak dijawab. Sebab, untuk apa ia mengorbankan segala sesuatu untuk hidup membiara, kalau jiwa orang saleh tidak akan luput dari maut? Lalu Buddha dalam belaskasihannya berkata:     "Engkau bagaikan seorang yang kena anak panah beracun dan hampir mati. Sanak keluarganya mendatangkan seorang dokter. Tetapi orang sakit itu tidak mau anak panah dicabut atau menerima pengobatan apapun terhadap lukanya jika tiga pertanyaan pokok ini belum terjawab: Pertama, orang yang memanahnya kulitnya putih atau hitam? Kedua, ia berbadan tinggi atau pendek? Dan ketiga, ia seorang brahmana atau paria? Sebelum jawaban atas ketiganya diberik...

Belajar Kehidupan Einstein : Perkara Memaafkan

Seiring bertambah umur, perkara memaafkan bukan perkara yang gampang ternyata. Waktu berjalan, begitu juga dengan pengalaman. Memang ada konsep relativitas dalam memahaminya, dimana ada perbedaan makna dari setiap objek yang mengalami pengalaman tersebut. Tetapi, sepertinya jumlah pengalaman pada suatu objek, berbanding lurus dengan kecepatan dan posisi objek itu bergerak dalam hidupnya. Dan dalam pengalaman tersebut, tentu bisa saja berkaitan dengan pengalaman sebelumnya, sedikit banyaknya, walau belum tentu berkaitan. Mungkin itu yang dirasakan oleh Mileva Maric, Hans Albert Einstein, dan Eduard Einstein. Di saat dunia menyoroti dunia Einstein, yang memberikan perubahan dengan teori relativitas umum dan persamaan ekuivalensi massa-energi, serta menantang kekuasaan Hitler, terlepas dari baik dan buruknya sorotan tersebut, keluarga pertama Einstein terlihat hidup dalam kegelapan. Demi memuaskan hasrat Einstein untuk menemukan cara alam bekerja, Maric harus merelakan keinginan masa keci...

Pandemik dan Bulan Puasa

Hari ini sudah memasuki hari ke enam bulan puasa. Jika mengingat selama beberapa tahun terakhir saya tidak berpuasa secara penuh, bahkan tidak berpuasa sama sekali, sepertinya perlu diapresiasi juga bahwa fisik, pikiran, dan mentalitas saya cukup stabil dalam melewatinya. Puasa memang masih ada tersisa 24 hari, tapi langkah awal yang baik juga bagian penting dalam perjalanan. Sebuah kebetulan yang pas, ketika memikirkan bulan puasa ini datang di saat pandemik Covid-19. Dengan menjaga jarak dan aktivitas yang harus dilakukan, pikiran yang sudah mulai dibiasakan dengan lebih banyak di rumah, menjadi terbiasa berlanjut. Tentu menilai keberjalanan puasa saya ini pun tidak bisa mengabaikan keberadaan internet, dimana kehadirannya memberikan ruangan yang lebih luas, dan sayangnya juga liar. Yang dimaksud liar disini tidak hanya tentang dark web atau sebagainya,   tetapi bagi yang tidak bijak berada di dalamnya, mereka akan tersesat di dalamnya. Contoh simpelnya, berapa orang yang ...

Jam Tidur Berubah, Apa Selanjutnya?

Saya pernah bercerita bagaimana siklus jam tidur menjadi langkah awal untuk pengaruhi aktivitas secara kesuluruhan. Dan itu bener terasa saat ini. Dalam hampir dua minggu terakhir, jam bangun tidur berhasil diubah menjadi antara jam tiga hingga setengah lima. Separah-parahnya, jika adzan sudah berkumandang, saya pasti akan kebangun, meski baru tidur jam 3 dini hari karena menonton film atau perasaan "nanggung" ketika membaca buku. Untuk memaksa perubahan jam bangun tidak mudah. Bagi seseorang yang terbiasa tidur hingga larut sejak zaman kuliah, baik karena tugas, organisasi, aktivisme, bermain game , atau menonton film, yang ternyara berlanjut lebih jauh lagi setelah tingkat 4 dan memasuki masa profesional atau organisasi, hingga di awal pandemik ini, pola tersebut sudah menjadi kebiasaan. Pada prses awalnya, memaksa mata terpejam setelah jam 12 sangat tidak ampuh. Tidak hanya perlu berjam-jam untuk kepala agar istirahat, tetapi juga saya tidak merasa segar ketika ...

Yang Di Dalam, Yang Terlupakan

Ada tiga buah cerita. (Diambil dari buku Burung Berkicau , karangan Pater Anthony de Mello yang diterjemahkan oleh Romo A. Soenarja.) --- Seseorang tetangga melihat Nasruddin berjongkok sambil mencari sesuatu. "Apa yang sedang Anda cari, Mullah?" "Kunciku yang hilang." Dua-duanya terus berjongkok mencari kunci yang hilang itu. Sebentar kemudian tetangga itu bertanya, "Di mana kuncimu yang hilang?" "Di rumah" "Astaga! Lantas mengapa Anda mencarinya di sini?" "Karena di sini lebih terang." --- Tanya rahib : "Semua gunung dan sungai ini, bumi dan bintang-bintang - dari manakah asalnya?" Kata Guru : "Pertanyaanmu dari manakah asalnya?" --- Khotbah sang Guru pada hari itu hanya terdiri dari kalimat penuh teka-teki. Ia tersenyum lemah dan mulai berkata, "Satu-satunya yang aku kerjakan disini hanyalah duduk di pnggir sungai dan menjual air sungai." Dan khotbahnya sudah se...

Tentang Kobe Bryant dan Glenn Fredly

Sebuah berita yang tidak baik bagi penggemar Glenn Fredly kemarin malam. Akibat penyakit meningitis yang dideritanya, beliau meninggalkan anaknya yang baru berumur 40 hari untuk tumbuh kembang tanpa bapaknya. Saya juga merasakan berita tidak baik ini. Pada akhir Januari tahun ini, Kobe Bryant meninggal. Pada hari tesebut, ia sedang dalam perjalanan menuju Mamba Sport Academy, yang dikelola langsung oleh Bryant, helikopter yang ditumpanginya bersama anak perempuannya, Gianna, dan rekan setimnya. Nasib berkata lain, bukan tim basket yang akan ia latih untuk ditemui, tetapi kematian. --- Sekitar awal tahun 2000 hingga pertengahan satu dekade setelahnya, ketika saya belum terlalu diselamatkan dari tayangan televisi yang tidak ada habisnya dan alur narasi yang begitu saja, saya tidak terlalu paham dengan fans Nike Ardilla terhadap seseorang yang meninggal akibat kecelakaan mobil pada tahun 1995. Mereka begitu setia mengunjungi makan, mengadakan kumpul rutin komunitas, atau seked...

Setelah Sebulan Rutin Setiap Hari Menulis Blog ...

Terhitung sejak tanggal 2 Maret, saya mencoba (baca : memaksakan) pembiasaan diri menulis blog satu post setiap hari. Sebuah keputusan yang awalnya terlihat tidak terlalu sulit ketika dilakukan, karena di kepala ini sepertinya berputar terus. Seorang teman menilai saya ini bekerja seperti CPU server. Dan sepertinya realitasnya memang seperti itu. Ide, analisa, pengalaman, pengetahuan dan media yang dikonsumsi, atau juga kontemplasi yang berputar di dalamnya, seperti tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Meskipun tulisan saya sering berkutat seputar pandemik Covid-19, mungkin karena concern  pribadi juga sebagai seseorang yang pernah menjadi korban bencana, tetapi masih ada banyak ruang yang bisa dikembangkan dan dituliskan. Contohnya, seperti ulasan tentang film, series, atau buku. Dan meskipun terkadang saya seperti belum melepaskan diri mengenai topik Corona, saya mencoba menuliskan dalam bentuk kontemplasi, optimis, atau juga membahas sisi lain yang jarang dimunculka...

Observasi Langkah

Sudah hampir sebulan saya lebih sering di rumah. Sejauh ini, rutinitas menulis blog dan workout  tetap bisa dilakukan. Bahkan sudah mengarah dalam bentuk kebiasaan. Ketika suatu hari mengniatkan diri untuk tidak ingin melakukan hal tersebut, ternyata niat tersebut terkalahkan disaat laptop sudah dihidupkan dan badan sudah dibawa bergerak setelah beranjak dari tempat tidur. Ritme bangun tidur dan belajar mandiri online course mulai sering terganggu. Yang awalnya setelah sakit (beberapa minggu sebelum kasus pertama Covid 19 diumumkan di pemerintah pusat Indonesia) saya terbiasa bangun jam 3an dini hari, perlahan-lahan berubah menjadi ketika subuh, kemudian berubah lagi menjadi jam 6, jam 9an, dan sekarang menjadi beberapa kali terbangun di sekitar jam 11. Belajar mandiri pun juga mulai beberapa kali menemui kendala, walau tidak sesering bangun pagi. Setelah bangun, biasanya pikiran akan dibawa berlama-lama mendengarkan musik atau video lucu, sebelum membaca atau menonton ha...

Self Quarantine dan Amarah

Sudah hampir sebulan kondisi krisis pandemik ini dinyatakan oleh pemerintah. Dan lebih dari sebulan juga saya mencoba bertenang dan melakukan hal-hal yang sudah seharusnya saya lakukan dan nikmati. Beberapa hal sudah saya coba uraikan dalam beberapa postingan. Tetapi ada suatu hal yang saya tak menyangka akan sering muncul akhir-akhir ini, yaitu amarah. Apakah pemicu awalnya dari kelambanan pemerintah negara ini? Mungkin iya, mungkin tidak. Mungkin iya karena kasus kekacauan disiinformasi dan koordinasi mengenai status pasien di Cianjur sangat memicu amarah saya. Tapi sepertinya saya udah mengatur ekspektasi saya dengan cukup baik mengenai pemerintah, membaca kondisi pandemik secara global secara tidak berlebihan, mencoba melihat, menganalisa, dan memaknakannya secara luas, mengatur jarak dan frekuensi bermain sosial media, dan mengatur frekuensi sikap kritis atas semua isu publik. Sejauh ini, proses disiplin diri cukup berjalan baik, walau kurang lancar, tetapi rasanya tidak masal...

Dunia yang Tak Mengenal Sepak Bola dan Beckham

Gambar
Ketika kontemplasi dan menuliskan bagian ke dua dari  "Bapak Tua Idealis dan Penjelajah" . Rasanya, ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah ditonton, saya menjadi teringat film dokumenter dengan David Beckham sebagai tokoh utama. Film yang berjudul David Beckham : Into The Unknown , ditayangkan pertama kali di tahun 2014 dan oleh BBC. Kompas TV mengambil hak siarnya, yang kemudian ditayangkan kepada para penonton yang masih belum tidur di kala tengah malam akhir minggu tiba. Dan saya lah salah satu penontonnya. Sewaktu film ini akan diproduksi, meskipun sudah pensiun, Becks berpikir tentang personalitas dan pengalamannya yang sangat mengakar kuat di sepak dunia bola. Tentu dunia tersebut yang mengembangkannya selama berpuluh tahun. Tetapi faktor ini juga yang membuat ia merasa tak memahami banyak hal di luar dunianya. Kehadiran orang-orang yang hanya dekat dengan Becks karena sesuatu hal yang ingin mereka dapatkan dari dirinya, mempersulit memahaminya. Dengan dor...

Air Mengalir

Sudah hampir 2 minggu saya lebih sering di rumah, atau bahkan di kamar. Tidak hanya disebabkan karena tidak ada tuntutan mendesak harus keluar rumah -- akan official resign dari perkejaan sebelumnya di tanggal 1 April dan kegiatan komunitas dihentikan --, tetapi juga saat ini saya sedang mengambil langkah mundur untuk meresapi semua hal. Momen yang sangat pas dengan merebaknya pandemik Corona. Rutininitas harian saya saat ini yang syukurnya sudah bisa dilakukan adalah belajar bahasa Esperanto, menulis blog, dan  workout  setiap hari. Kegiatan yang masih sering bolong yang tidak sesuai harapan frekuensinya adalah bangun tidur dini hari, menonton film, online course , kembali belajar bahasa Inggris untuk persiapan program master, membaca buku, serta memberi fokus lebih untuk menata ulang spiritual. Meski begitu, saya berusaha tidak terlalu keras ke diri sendiri, sehingga dengan lebih mudah meresapi semua yang sedang atau akan dilakukan. Mencoba bergerak seperti air yang ...

Realitas yang Terlewatkan

Giorgio Chiellini, kapten tim sepak bola Juventus dan berkewarganegaraan Italia, beberapa hari lalu berbicara tentang Covid-19 kepada Webathon.it , yang diterjemahkan oleh media online Football Italia . Dalam dunia sepakbola yang semakin cepat, Chiellini berpikir terkadang sedang kehilangan realitas, di dalam dunianya yang berharga. Dan Covid-19 mengubah waktu yang sedang kosong untuk dihabiskan lebih banyak dengan putrinya. " Our world is golden and sometimes you lose touch with reality. Now I'm in isolation on my own and can't wait to pass time with my daughters. " Chiello, panggilan populernya oleh fans Juventus, pun menambahkan, " We are active, compliments of initiative. We are all locked in the house and we try to ease the time for many people without forgetting to help the health system that is experiencing a difficult moment and needs us. This is a challenge that we must overcome together, there is no loyalty to one team or another. I'm a person w...

Musim Pandemik = Musim Mengubah Kebiasaan

Hari Sabtu, jam 9.39, tanggal 21 Maret 2020, sambil mendengarkan  Spotify sedang memutar playlist Chilled Jazz  dan segelas teh jahe di sebelah laptop, saya memulai lagi menulis postingan blog di hari ini. Biasanya di pagi ini, saya sedang sedikit bersantai, entah melanjutan membaca buku, menonton film atau NBA, atau juga sedikit stretching . Lewat jam 12 siang, kalau misalnya jalanan lagi tidak begitu terganggu karena proyek jalan layang pemerintah, saya sudah akan bersiap-siap main futsal dengan JCI Chapter Bandung  di kawasan Antapani dan bermain hingga sekitar jam 4. Itu sudah termasuk pendinginan dan ngobrol santai sambil ketawa-tawa. Lewat lagi dari magrib, posisi badan akan berada di Cimbeluit, karena keringatnya butuh dikeluarkan lagi untuk main basket dengan Kaskus Basketball Bandung . Di antara kegiatan bersebut atau setelah pulang ke rumah, menonton bola atau basket akan jadi bagian rutinitas akhir minggu. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Eh b...

[Copas Tulisan] Kahlil Gibran on Silence, Solitude, and the Courage to Know Yourself

"In much of your talking, thinking is half murdered. For thought is a bird of space, that in a cage of words may indeed unfold its wings but cannot fly." Something strange and wondrous begins to happen when one spends stretches of time in solitude, in the company of trees, far from the bustle of the human world with its echo chamber of judgments and opinions --- a kind of rerooting in one's deepest self-knowledge, a relearning of how to simply be oneself, one's most authentic self. Wendell Berry knew this when he observed that "true solitude is found in the wild place, where one is without human obligation" --- the places where "one's inner voices become audible." But that inner, I have found, exists in counterpoise to the outer voice --- the more we are tasked with speaking, with orienting lip and ear to the world without, the more difficult it becomes to hear the hum of the world within and feel its magmatic churns of self-knowledge, ...

Sopir Angkot, Anjing Mati, dan Anak Kecil Ketabrak

Kemarin hari saya mempunyai obrolan yang cukup nyambung dengan supir angkot Caheum-Ledeng. Saya sedang dalam perjalanan dari Setiabudi menuju daerah Pelisiran, setelah malam sebelumnya menginap di rumah kenalan selama berorganisasi dulu yang cukup dekat, untuk bertemu teman kuliah selama seharian penuh. Ketika naik, saya adalah satu-satunya penumpang dalam angkot tersebut dan duduk di kursi depan. Sedang bersantai mendengarkan lagu di Spotify , sopir angkot ini tiba-tiba menyeletuk, "Ada orang minta tolong dibawain anjing mati ke rumah sakit." "Oh ya kang?" Saya sepertinya lagi sedang ingin bebas ngobrol dengan siapapun dan tentang apapun. "Iya. Saya langsung ragu, soalnya takut bau nanti angkotnya. Ini baru pagi, enggak sempat buat bersih-bersih." "Tapi orangnya mau bayar lebih kang? Atau ongkosnya segitu-gitu aja?" Lagu sudah dimatikan dan headset pun dilepas. "Enggak tau juga, orangnya enggak ngomong mau bayar berapa. Cuma saya udah...

Persiapan Master Degree : Berpikir Fokus

Melihat yang sedang dialami sedikit pelik akhir-akhir ini, sepertinya langkah realistis ke depannya adalah serius untuk mengambil program master. Ada banyak alasan tentang hal ini, yaitu dimulai dengan sepertinya badan ini sudah terlampau lama di bandung, tetapi pikiran bergerak ke daerah-daerah lain atau belajar di luar negeri. Kemudian lagi pemikiran bahwa sudah cukup dengan semua yang sudah dilakukan untuk pekerjaan, berkomunitas, dan relationship  selama ini, dan juga perasaan untuk melangkah lebih jauh lagi. Sial beribu sial, kesalahan saya selama ini yang tidak dengan serius mengurus IELTS atau TOEFL membuat keadaan repot. Sehingga ketika berdiskusi dengan konsultan pendidikan dari lembaga yang sepertinya sudah lumayan dikenal di Indonesia, ditambah GPA yang tidak terlalu bagus selama berkuliah dan periodisasi pendaftaran kuliah dan beasiswa yang semakin sempit, beliau menyarankan untuk sedikit realistis bahwa kemungkinan besar tidak akan berkuliah di tahun ini. Well, defin...

Penyesalan di Atas Laut

Gambar
Dua hari lalu saya menonton video lanjutan Watchdoc Documentary dalam perjalanan mereka mengelilingi Indonesia, yang dinamai Ekspedisi Indonesia Biru. Video yang saya tonton kali itu adalah tentang pengalaman mereka merayakan Idul Fitri di tengah perjalanan kapal dari Merauke Kepulauan Morotai, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Watchdoc, yang dipimpin Dandhy Laksono, dikenal sebagai produsen film dokumenter perjuangan kaum tertindas dari ketimpangan kuasa, tetapi bagi saya, video berdurasi pendek seperti ini sama pentingnya. Selama menonton video ini saya jadi teringat momen perjalanan pribadi, pada sekitar tahun 2015. Ada sedikit kesamaan situasi dengan perjalanan Dandhy Laksono, dimana saat itu berdekatan hari lebaran. Setelah berada di pedalaman flores hampir sebulan, tanggal di kalender mendekati hari lebaran. Di awal ketika datang ke pedalaman saya , saya beberapa kali mengutarakan ke teman yang juga satu tim proyek bahwa besar kemungkinan untuk merayakan lebaran d...

Hari Libur

Kenapa ada istilah "hari libur"? Pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul di kepala, ketika setelah semingguan lebih, saya sedang terbiasa bangun tengah malam. Saat ini waktu menunjukkan pukul 3:29 AM, dan mesjid di sekitar rumah sedang berusaha membangunkan orang-orang dari lelapnya tidur dan dalamnya mimpi. Biasanya, jam segini saya akan mencoba membaca buku atau terlentang melamun atau juga minum air putih, mengurangi kebiasaan buruk pikiran bawah sadar yang langsung membuka smartphone  untuk sekedar membuka Instagram atau Twitter. Yah, semua orang sepertinya sudah tahu mengenai penyakit manusia modern, yang awalnya sekedar, keberlanjutannya bisa berjam-jam. Di hari libur akhir minggu ini, kegiatan rutin saya adalah antara main futsal, main basket, dan menonton tv. Yang saya tonton pun sering kali bervariasi, antara tayangan dokumenter atau perjalanan di National Geographic, mencoba mencari tayangan menarik di kompas TV dan CNN Indonesia, pertandingan sepakbola Serie A,...