Self Quarantine dan Amarah
Sudah hampir sebulan kondisi krisis pandemik ini dinyatakan oleh pemerintah. Dan lebih dari sebulan juga saya mencoba bertenang dan melakukan hal-hal yang sudah seharusnya saya lakukan dan nikmati. Beberapa hal sudah saya coba uraikan dalam beberapa postingan. Tetapi ada suatu hal yang saya tak menyangka akan sering muncul akhir-akhir ini, yaitu amarah.
Apakah pemicu awalnya dari kelambanan pemerintah negara ini? Mungkin iya, mungkin tidak. Mungkin iya karena kasus kekacauan disiinformasi dan koordinasi mengenai status pasien di Cianjur sangat memicu amarah saya. Tapi sepertinya saya udah mengatur ekspektasi saya dengan cukup baik mengenai pemerintah, membaca kondisi pandemik secara global secara tidak berlebihan, mencoba melihat, menganalisa, dan memaknakannya secara luas, mengatur jarak dan frekuensi bermain sosial media, dan mengatur frekuensi sikap kritis atas semua isu publik. Sejauh ini, proses disiplin diri cukup berjalan baik, walau kurang lancar, tetapi rasanya tidak masalah. Saya harus menjaga diri juga untuk tidak terlalu keras.
Lagipula, rencana mitigasi di dalam keluarga sudah ditata cukup baik sejauh ini. Jadi bahan pikiran karena pandemik cukup bisa ditangani. Yang berarti juga, memang benar adanya bahan amarah lainnya di pikiran ini sedang sering muncul beberapa hari terakhir, mencoba menguasai kepala dan perasaan.
Perkara self-quarantine ini memang susah gampang untuk dijalankan. Sekilas hanya ekstrovert yang sedang tersiksa akibat pandemik ini. Bagi introvert, sekilas ada banyak hal yang dimanfaatkan awalnya. Entah membaca buku, bermain dan bercengkrama dengan keluarga, menulis, atau juga menonton film dan series.
Tetapi, pada dasarnya hampir semua manusia berada dalam momen yang harus menghadapkan mereka dengan diri sendiri. Berlama-lama di rumah atau kamar, ketika rutinitas pengalih perhatian tidak lagi mampu memenuhi hasrat atau menggantikan kebiasaan, pikiran lah yang berkelana. Pikiran ini masuk ke dalam saraf-saraf otak, layaknya terowongan di dalam goa, melewati memori yang sempat terlupakan atau memilih dipendam, dan setelahnya masuk lagi ke dalam. Melihat lagi perasaan yang pernah dirasakan.
Everyone are being pushed to face their own demon. Dan dalam kasus pribadi, amarah itu lah yang muncul.
Amarah karena kekecewaan terhadap ekspektasi yang tidak tercapai, baik ke diri sendiri maupun orang lain, dan juga melihat proses kehidupan yang terlihat masih terlalu berliku. Dan amarah itu semakin sering muncul ketika bersinggungan dengan orang-orang yang benar-benar saya sayangi dan lindungi.
Pertama kalinya melihat saya menyebut kalimat "orang yang saya sayang" di blog ini?
Memang benar, jika yang membaca blog ini berpikir demikian. Saya tidak terbiasa mengutarakan perasaan ke publik. Mungkin saja setelah sebulan, postingan ini akan disembunyikan. Perasaan saya lebih sering terlihat di dalam sikap, implisit atau eksplisit, yang dibalut dengan susunan kata-kata yang terlihat logis.
Memang benar, jika yang membaca blog ini berpikir demikian. Saya tidak terbiasa mengutarakan perasaan ke publik. Mungkin saja setelah sebulan, postingan ini akan disembunyikan. Perasaan saya lebih sering terlihat di dalam sikap, implisit atau eksplisit, yang dibalut dengan susunan kata-kata yang terlihat logis.
Seorang teman kemarin malam mengatakan saya seperti Al Gore, mempunyai banyak potensi, tapi terkubur karena perkara eksternal. Mungkinkah seperti itu? Saya sendiri beberapa kali memang merasakan hal yang sama, tetapi tidak tahu apakah benar-benar hal tersebut yang terjadi. Apakah saya tidak mempunyai kemampuan mengatur faktor eksternal, tidak tahu juga.
Satu hal yang jelas dari social quarantine ini adalah sepertinya ada banyak hal yang harus saya maafkan dan serahkan sisanya kepada yang di Atas, akan kuasa-Nya atas aliran air di sungai. Bisa jadi, amarah ini yang mendorong banyak faktor eksternal menghambat langkah hidup.
Mungkin, or may be whatever.
Mungkin, or may be whatever.
Komentar
Posting Komentar