Filipina vs Argentina, FIBA WC 2014 : Was He Jimmy Alapag?

Siaran olahraga memang untuk sementara waktu ditiadakan, tetapi sepertinya ada tontonan yang tidak kalah seru. Yaitu, menonton pertandingan yang sudah ditandingkan. Hari ini, beranda youtube saya merekomendasikan pertandingan FIBA World Cup 2014, antara Filipina vs Argentina, di pertandingan fase grup B.

Kebetulan, tidak seperti sepak bola dan bulutangkis, dahulu saya tidak mengikuti setiap saat perkembangan tentang basket. Sekarangpun juga begitu sebenarnya, masih cenderung lebih memahami perkembangan sepak bola dan bulutangkis beserta analisa dan cerita di belakangnya. Tetapi sejak perkembangan IBL mulai menarik perhatian dan transformasi basket yang banyak berubah karena keahlian tembakan 3 poin Stephen Curry menginspirasi banyak pemain dan pola offense, ada dorongan untuk memahami dunia basket sedikit lebih dalam.


Kuarter pertama dimulai dengan dominasi Filipina. Andrey Blatche, pemain Filipina berketurunan Amerika Serikat, membuka skor dengan bank shoot-nya. Filipina sempat memimpin dengan jarak double digit 10 poin. Tapi perlahan-lahan Argentina berusaha bangkit melalui team play-nya yang sangat rapi. Walter Hermann mengakhiri kuarter pertama dengan 3 poin, tetapi Filipina menjaga keunggulan dengan skor 25-23.

Memasuki kuarter kedua, pertandingan berjalan lebih sengit. Filipina sempat menjauh kembali dengan perbedaan 8 poin, tetapi Argentina mulai lebih mendapatkan ritme permainannya. Marcos Mata mendapatkan momentumnya ketika kuarter kedua kurang dari 1:19 menit. Tembakan 3 poinnya, memanfaatkan operan Luis Scola, mengubah keunggulan menjadi milik Argentina. Half time berakhir dengan keunggulan Argentina 43-38, juga lewat tembakan tiga angka Marcos Mata.

Di kuarter 3 saya melihat seseorang yang sekarang saya kagumi sebagai pelatih San Miguel Alab Pilipinas di kompetisi ABL, ketika masih menjadi pemain. Jimmy Alapag, hadir untuk menjaga asa Filipina agak tidak tertinggal terlalu jauh dari Argentina. Meskipun kuarter 3 diakhiri oleh keunggulan Argentina dengan skor 71-61, tetapi Alapag mulai mendapatkan peran lebih di pertandingan ini,

Alapag menjaga pengaruhnya di kuarter keempat. Filipina memulai kuarter keempat dengan mengembalikan dominasinya, kembali lewat pola offense tembakan 3 poin. Pola tersebut sempat berjalan dengan baik, hingga berturut-turut tembakan 3 poin dari Alapag dan Ranidel De Campo memperkecil jarak menjadi hanya 2 poin. Tetapi setelah itu, Argentina menjaga kelasnya yang di atas dari Filipina, kembali lewat Marcos Mata dan Luis Scola. Alapag kembali mencetak 2 kali tembakan 3 poin, tetapi sayang, pertandingan diakhiri dengan kemenangan dengan skor 85 - 81. Berdasarkan website fiba.basketballtop performer dari masing-masing tim adalah Marcos Mata dan Andrey Blatche.

Score evolution dari website fiba.basketball

Filipina terlihat lebih efektif dari tembakan yang masuk dibandingkan Argentina, tetapi tidak secara permainan tim

Permainan tim Argentina yang lebih baik sangat terlihat dari statistik ini

Top performer
---
There were a lot of surprise to see Jimmy Alapag. Selain lewat kompetisi ABL (Asean Basketball League), saya mengetahui kepribadian dan pandangan Alapag lebih dalam lewat channel youtube Rocky Padilla. Ada banyak hal yang Alapag ceritakan ke Rocky di dalam video tersebut, dan salah astunya mengenai pertandingan di FIBA WC 2014. Tetapi saya pikir, setelah selesai menonton pertandingan yang direkomendasikan youtube, I realize that he is not only good with his mouth. His feet on the court follows his thought too.

Saya mau menghitung beberapa kali Filipina hampir menyerah dengan kualitas Argentina, tapi saya juga menghitung berapa kali juga Alapag menyelematkan asa dan hasrat tim. Dan harapan untuk menjaga kualitas basket Asia Tenggara, atau bahkan meningkatkannya lewat karir kepelatihannya, rasanya bukan ekspektasi yang berlebihan.

Good luck, Jimmy Alapag.

Diambil dari fiba.basketball

Komentar