Harga untuk Mitigasi

Hari ini saya bakal mendatangi diskusi santai yang dengan pihak terkait mengenai mitigasi bencana. Andaikan masih ada yang belum familiar dengan isitilah ini, mitigasi bencana adalah bentuk manajemen kesiapsiagaan dari semua pihak dalam menghadapi kebencanaan di area terkait, baik sebelum bencana maupun sesudahnya. Well, itu pemaknaan dari saya pribadi sih, sebagai orang yang pernah beberapa kali mengalami bencana alam. Sepertinya arti mitigasi bencana KBBI, para peneliti, atau juga bahkan stakeholder akan beda lagi. Tapi saya rasa tidak akan jauh-jauh dari "kesiapsiagaan".

https://www.instagram.com/p/B9gIjTYFo1z/

Saya diajak ke mengunjungi diskusi ini oleh pihak yang mengadakan acara ini, yaitu Bandung Mitigasi Hub (BMH). Selain diajak untuk memahami lebih jauh seperti apa perkembangan dari mitigasi bencana, minimal dari sudut pandang peneliti dan pengambill kebiajakan, kehadiran saya diekspektasikan untuk akan memberikan perspektif teknologi IT dan ketenagalistrikan, karena latar belakang saya saat ini yang bekerja di bidang IT dan lulusan teknik tenaga listrik.

Saya rasa pembahasan pagi ini sepertinya akan cukup memuaskan, terutama minimal bagi diri pribadi. Pada saat bencana alam terjadi, situasi dan kondisi yang berputar di tengah-tengah masyarakat berada sangat rentan. Meskipun ada banyak solusi-solusi ideal yang bisa diimplementasikan, baik dari sisi manajemen, teknologi, pendanaan, budaya, bantuan kemanusiaan, atau juga hal lainnya, tidak serta merta bisa dilakukan karena bertabrakan dengan hal sulit lainnya yang juga di saat bersamaan harus dihadapi. Ada sebuah ekspektasi bagi saya, bahwa diskusi ini akan memetakan benturan-benturan yang sering terjadi.

Dalam perspektif teknologi sendiri, secara singkat cerita, selain infrastruktur yang tersedia tidak terlalu didesain untuk mendukung dalam kondisi bencana alam terjadi (satu pohon saja bisa membuat blackout di jaringan Jawa-Madura-Bali, apalagi bencana alam terjadi), pembahasan tentang aplikasi teknologi juga masih tergolong baru. Tidak hanya di Indonesia, jika saya tidak salah baca di salah satu online course di Edx, konferensi dunia mengenai penggunaan teknologi beserta regulasi yang pertama baru dilaksanakan sekitar pertengahan 2000an dan di Jepang. Cukup menakjubkan jika dipikirkan kembali, karena Jepang sendiri sudah sangat dikenal sebagai salah satu negara yang sering mengalami bencana alam.

Tentunya Indonesia harus mempertimbangkan ini lebih serius lagi. Beberapa riset geologi sudah menunjukan rentannya Indonesia terhadap kebencanaan alam, dan nenek moyang juga sudah menyadari tersebut melalui eksplorasi produk-produk budaya mereka yang diwariskan. Dalam kepadatan populasi yang makin intens dan pergerakan yang semakin mobile, pemahaman dan kesiapsiagaan ini juga harus ditingkatkan. Jika ada opini yang mengatakan terlalu mahal harga yang harus disediakan untuk persiapan kesiapsiagaan ini, mungkin pemahaman di kepalanya harus diputar balik dahulu, berapa harga yang harus dibayar ketika bencana alam terjadi. Kota Aceh, jika saya tidak salah ingat, 3 bulan mengalami kelumpuhan setelah tsunami.

Komentar