Sebuah Kontemplasi Sikap Hidup di Awal 2020

Hampir seminggu ini badan sakit, hingga harus bed rest. Awalnya hanya sakit kepala, dan dicoba dengan minum panadol dan minum teh hangat. Kebetulan stok untuk membuat teh, seperti daun telang, jahe, atau sariwangi biasa masih banyak tersedia di rumah. Tetapi dalam keberjalanan waktu, suhu badan naik turun, tubuh mulai makin sering pegal, terutama di sekitar leher bagian belakang dan punggung bagian bawah, serta mulai sering sakit kepala.

Puncaknya hari kamis di minggu kemarin, sehari setelah bertemu dengan mahasiswa yang ingin diskusi mengenai desain teknologi dalam mitigasi bencana, bertemu dengan dua kawan lama yang dulu sama gilanya berusaha mengubah budaya kampus kami yang kami pikir terlalu arogan, dan juga malamnya, mengalah sedikit untuk melayani mantan yang ingin menelpon, karena hal-hal yang seperti biasa saya tidak bisa mengerti alasannya. Besoknya, badan segitu panas, bahkan bergerakpun sulit, karena segitu menggigil merespon Bandung yang sangat dingin. Sekarang di saat badan sudah mendingan, dan mendengarkan lagu Nathaniel Rateliff  - And It's Still alright, saya mencoba melanjutkan lagi menuliskan apa yang saya rasakan dan pikirkan selama ini.

Live Performance Nathaniel Rateliff - And It's Still Alright

Sebagai bagian dari meditasi, menulis bisa menguraikan apa yang ada di kepala. Memang harus diakui, hampir semua situasi agak mendesak kepala. Ada banyak siklus tidak sehat yang berputar dalam kehidupan akhir-akhir ini, baik dari soal pekerjaan, keluarga, pertemanan, relationship, pendidikan master, bisnis, komunitas, dan juga ketuhanan. Escape saya selama ini memang banyak ke rokok, olahraga, dan komunitas. Syukurlah, meskipun secara spiritual saya masih dalam proses membangun ulang dari dasar, saya tidak terjebak untuk siklus hidup tidak sehat, yang hanya menginginkan kepuasan jangka pendek. Mungkin kecanduan membuka smartphone atau laptop salah satu kecanduan tidak sehat. Dan mungkin juga, saya udah sangat butuh traveling lagi atau kembali ke gunung.

Karena menyebut traveling, saya jadi merindukan kembali ke Pulau Molas, momen dimana  kerjaan saya hanya melamun saja seharian di pinggir pantai, sambil mendengarkan ombak laut yang masih bersih dari sampah. Dari pagi hingga petang. Sesekali akan dipanggil dari rumah warga setempat yang sangat baik untuk segera makan karena sudah dimasak. Ketika tertidur di pinggir pantai, akan ada sapi yang tiba-tiba melintas, mencari rumput liar yang akan dimakan. Sesekali juga kalau lagi ingin berjalan sepanjang pinggir pantai, saya akan mungut kerang-kerang cantik yang kebawa ombak, yang kemudian hari jadi asbak dan pajangan di kamar. Malamnya kembali melamun atau sesekali ikut main kartu dengan warga, atau sekedar memperhatikan gelak tawa mereka. Dulu waktu kesana saya tidak membaca buku, karena sayang sekali, belum terpikirkan untuk membawa buku di dalam tas carrier. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tak apa juga, sepertinya waktu itu saya sudah lama tidak melamun. Apalagi ketika smartphone di sekitar tangan, main game atau ngebacot di twitter saja terus kerjaan kalau udah bosan sedikit.

Waktu itu, sekitar pertengahan akhir tahun 2015, sepertinya otak dan tubuh sudah sangat butuh momen jeda. Ditambah keadaan yang tidak sekedar belum lulus kuliah, tapi menimbang-nimbang pilihan mana yang terbaik : lulus atau enggak dari kampus yang katanya terbaik di Indonesia.

Overthinking? Maybe.
---

Akan ada suatu momen dimana rasanya bakal sangat berat, sangat beratnya sehingga merasa sangat ingin menyerah. Karena yang terpikirkan hanyalah tentang kegagalan. Mungkin sedikit lebih parah, ketika ekspektasi ke diri sendiri tidak dengan ukuran yang tepat.

Saya mempunyai kecenderungan untuk melihat banyak hal sekaligus, dan juga hal tersebut secara kompleks. Kemudian, seringkali, dengan ketidakmampuan saya mengukur kemampuan pribadi dengan tepat, saya merasa bertanggung jawab ketika merasa udah menemukan problem yang berat dan merasa mengerti solusi apa yang bisa dilakukan. Terkadang, saya memang berhasil melakukannya. Tapi terkadang juga, semuanya tak terselesaikan oleh saya. Ketika tidak terselesaikan, frustasi dari alam bawah sadar mulai menyeruak. Pemikiran gagal sering kali tidak bisa diterima, dan sikap keras kepada diri sendiri bukan lagi sesuatu sikap yang berpendirian atau tangguh. Ketika hal yang membuat frustasi sudah semakin banyak, perasaan untuk menyerah menyeruak.

Saya mencoba mengambil sisi positif bahwa hal ini cepat atau lambat akan saya lewati. Terutama di umur akan melewati 30, dimana beban emosi dari lampau akan keluar di waktu yang tak terduga. Dan proses pengambilan keputusan menjadi makin sangat tak beraturan dan menjadi ujian untuk pribadi sendiri. Apakah akan meloncat atau tenggelam. Setiap manusia bakal melewati hal itu.

Dan untuk hal ini juga, secara personal, disinilah pentingnya makna legowo. Bahwa terkadang ada hal-hal yang tidak bisa dipahami. Ada hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Dan ada hal-hal yang tidak bisa diubah. Yang tinggal adalah trust, terutama ke diri sendiri. Percaya bahwa kaki akan tetap bergerak ke depan, and it's still alright.
---

Pertama mengetahui Nataniel Rateliff ketika secara iseng sedang eksplorasi lagu-lagu di Spotify. Lagu yang ditemukan pertama kali adalah ketika dia bersama dengan bandnya, The Night Sweats, yang berjudul S.O.B. Singkat cerita, lagu yang keluar pada tahun 2015 ini bercerita tentang perjuangan orang yang berusaha sembuh dari ketergantungan minuman beralkohol. Emosi yang impulsif dan tak terkontrol mencoba digambarkan dalam liriknya yang penuh kata umpatan, tetapi juga butuh pegangan tangan.

Sekarang, lagu And It's Still Alright yang berasal dari album dengan nama yang sama, yang release di pertengahan Februari 2020, rasanya lagi bersambut dengan frekuensi yang sama dengan kepala saya.
Hey, tonight if you think about it
Remembering all the times that you pointed out
Say, the glass is clear but all this fear
Starts a-leaving a mark
Your idle hands are all that stands
From your time in the dark
But it's still alright

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo