Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (1)
Di dalam postingan beberapa hari lalu saya menyebutkan tentang pengalaman saya ngobrol panjang lebar dengan seorang bapak yang baru saja dikenal di atas kapal, dalam perjalanan dari Labuan Bajo ke pelabuhan Sape. Posisi saya sedang duduk di atas kursi yang mengitari meja lingkaran, memikirkan banyak hal sambil menahan rasa sakit di kepala akibat tidak bisa tertidur, tidak seperti teman saya yang gampang langsung tertidur di sebelah saya di atas lantai. Ketika sedang melamun, seorang bapak bersama temannya muncul,
(*kurang lebih percakapannya seperti ini, jika tidak salah ingat.)
"Mas, boleh duduk di kursi ini?" Situasi dan kondisi memang lagi sedikit sulit akibat meletusnya gunung berapi di Banyuwangi, sehingga space kosong saja menjadi rebutan di antara penumpang yang lumayan banyak.
"Ohya, silahkan pak, memang kursi itu kosong."
"Terimakasih. Itu temannya kenapa?"
"Sedang istirahat saja pak. Kebetulan memang badannya agak sedikit kurang baik juga. Situasi memang lagi sulit juga pak, jadi setelah turun gunung, kamu harus cepat mengambil keputusan dan bergerak, tanpa punya banyak waktu untuk beristirahat."
"Oh begitu. Yaudah ini Mas, ada buah-buahan kalau mau."
"Wah baik pak, terimakasih." Saya benar-benar sedang ingin berbasa-basi secukupnya.
Awalnya saya tidak terlalu ingin berbicara banyak dengan beliau, tidak hanya dari keinginan saya, tetapi juga beliau sendiri juga sibuk dengan dengan temannya berbicara. Mungkin memperhatikan kepala saya sedang berpikir banyak hal, beliau kembali membuka obrolan dengan saya.
"Mas, ayo silahkan dimakan pisangnya."
"Oke baik pak, terimakasih banyak." Selain sepertinya badan sudah harus diisi nutrisi, saya juga mulai tidak enak hati mengabaikan pisangnya.
"Habis dari mana mas? Habis travelling kah?"
"Oh tidak pak. Sekitar hampir sebulan kemarin saya berada di Waerebo, ada pekerjaan yang sedang saya lakukan disana."
"Terus sekarang mengejar balik kampung halaman?"
"Iya pak, kami mengejar momen berlebaran di kampung."
"Oh begitu. Kalau boleh bapak tahu, ngapain saja selama di Waerebo?"
Saya ceritakanlah secara singkat apa yang saya lakukan di kampung pedalaman tersebut dengan proyek PLTMH dan kopi, dan arah kegiatannya seperti apa. Tentu hambatan yang sedang saya hadapi tidak langsung saya ceritakan langsung. Setelah bercerita tersebut, seorang pemuda datang, sekitar umur awal 30an, juga ingin menumpang kursi kosong yang tersisa di antara kami.
"Bapak sendiri dari mana dan menuju kemana?"
"Saya habis road trip dengan motor memutari pulau Flores. Nanti turun dari Sape, saya akan melanjutkan hingga pulau Sumba (kalau tidak salah ingat)."
"Wah terdengar seru. Asli orang Sumba pak?" Saya mulai tertarik untuk mengobrol.
"Bukan, saya orang Jawa Timur. Di pantai barat pulau Sumba, saya bekerja dengan nelayan bareng orang setempat. Ikannya kita kumpulkan dan beli, dari nelayan yang mau mengikuti aturan dari kita, agar tidak ngerusak lingkungan dan kualitas yang oke. Di Labuan Bajo kita juga ada kerjasama kayak gitu."
"Tetapi di masa sulit karena gelombang sedang tidak baik begini, bukannya aturan kayak gitu bukannya malah sulit ya buat nelayan? Maksud saya, tentunya tidak ada pemasukan."
Pertanyaan saya dipotong dan dijawab oleh pemuda yang baru datang, yang ternyata juga bekerja sama dengan nelayan setempat (saya lupa dimana tempatnya).
"Justru itulah tugas pemerintah, memberikan insentif kepada para nelayan. Agar mereka tidak mengalami susahnya gak ada uang."
"Maksudnya?" Tanya si bapak.
"Jadi pemerintah membuat anggaran, yang nantinya akan dioper ke nelayan atau bisnis yang terkait waktu musim badai kayak gini."
"Begini. Mas mungkin ada benarnya, nelayan di masa seperti itu memang akan sulit, karena uang masuk jadi berkurang. Tapi bukan berarti enggak ada. Ya bisa diatur lah, bisa dari sisi nelayannya, kurang-kurangi mabuk kalau lagi musim badai, atau diatur benerlah keuangannya. Atau juga dari kita yang membeli ikan dari nelayan, manajemen keuangan, gudang, atau penjualan juga bisa. Atau bikin tambak ikan juga bisa."
"Tetap aja, kalau pemasukan bakal tidak stabil."
"Lho, kalau memang tidak stabil, apa salahnya?"
Bapak ini melanjutkan bicaranya dengan menunjuk pengembangan kopi yang sedang saya kembangkan di Waerebo, "Seperti yang mas ini lakukan di pedalaman. Kopi tidak selalu musim panen kan? Hanya sekali setahun. Itu bisa diatur dengan hasil perkebunan buah atau sayur lain, jadi ya masih enak ngatur duit. "
Perdebatan masih berlanjut, yang kadang beberapa kali mereka seperti tanpa sadar meminta saya mengambil posisi. Sejujurnya perdebatan mereka menarik, karena setiap tersebut mempunyai sisi positif dan negatif yang sama-sama layak dipertimbangkan, tergantung konteksnya. Tentu saya punya pandangan pribadi yang menyatukan argumen mereka, tetapi saya sepertinya tidak tertarik untuk melakukan hal tersebut waktu itu. Saya lebih memilih diam mendengarkan mereka berdua, sambil menyadari kepala saya yang mulai semakin sakit karena ombak laut. Toh mereka lebih dewasa daripada saya, terutama bapak yang bernama Pak Yasin ini (baru ingat nama beliau di tengah menulis tulisan ini).
Singkat cerita, si pemuda menjadi sangat jengkel dengan perdebatan tersebut, dan memilih meninggalkan kami setelah diam beberapa saat. Saya tidak menahan pemuda ini, karena hal tersebut adalah pilihannya. Menjaga kadar emosional disaat situasi dan keadaan yang tidak stabil akibat meletusnya gunung berapi dan ombak laut yang sangat tidak stabil, adalah pilihan bijak, menurut saya.
"Anak muda sekarang memang banyak keras kepala, tidak mau mendengarkan terlebih dahulu." Setelah diam beberapa lama, Pak Yasin kembali membuka obrolan.
"Hahaha. Tidak apa-apa pak. Namanya juga perbedaan pendapat." Saya berusaha terdengar bijak.
"Ayo mas, dimakan lagi pisangnya."
"Tapi pak, kalau boleh berpendapat, memang sebenarnya saya lebih setuju ke bapak. Sayangnya itu hal yang justru lebih berat dilakukan."
"Begitukah?"
"Iyep, kurang lebih begitu yang saya pikirkan."
Langit semakin gelap menuju magrib, pembicaraan kita semakin berlanjut di tengah lautan ganas.
(*kurang lebih percakapannya seperti ini, jika tidak salah ingat.)
"Mas, boleh duduk di kursi ini?" Situasi dan kondisi memang lagi sedikit sulit akibat meletusnya gunung berapi di Banyuwangi, sehingga space kosong saja menjadi rebutan di antara penumpang yang lumayan banyak.
"Ohya, silahkan pak, memang kursi itu kosong."
"Terimakasih. Itu temannya kenapa?"
"Sedang istirahat saja pak. Kebetulan memang badannya agak sedikit kurang baik juga. Situasi memang lagi sulit juga pak, jadi setelah turun gunung, kamu harus cepat mengambil keputusan dan bergerak, tanpa punya banyak waktu untuk beristirahat."
"Oh begitu. Yaudah ini Mas, ada buah-buahan kalau mau."
"Wah baik pak, terimakasih." Saya benar-benar sedang ingin berbasa-basi secukupnya.
Awalnya saya tidak terlalu ingin berbicara banyak dengan beliau, tidak hanya dari keinginan saya, tetapi juga beliau sendiri juga sibuk dengan dengan temannya berbicara. Mungkin memperhatikan kepala saya sedang berpikir banyak hal, beliau kembali membuka obrolan dengan saya.
"Mas, ayo silahkan dimakan pisangnya."
"Oke baik pak, terimakasih banyak." Selain sepertinya badan sudah harus diisi nutrisi, saya juga mulai tidak enak hati mengabaikan pisangnya.
"Habis dari mana mas? Habis travelling kah?"
"Oh tidak pak. Sekitar hampir sebulan kemarin saya berada di Waerebo, ada pekerjaan yang sedang saya lakukan disana."
"Terus sekarang mengejar balik kampung halaman?"
"Iya pak, kami mengejar momen berlebaran di kampung."
"Oh begitu. Kalau boleh bapak tahu, ngapain saja selama di Waerebo?"
Saya ceritakanlah secara singkat apa yang saya lakukan di kampung pedalaman tersebut dengan proyek PLTMH dan kopi, dan arah kegiatannya seperti apa. Tentu hambatan yang sedang saya hadapi tidak langsung saya ceritakan langsung. Setelah bercerita tersebut, seorang pemuda datang, sekitar umur awal 30an, juga ingin menumpang kursi kosong yang tersisa di antara kami.
"Bapak sendiri dari mana dan menuju kemana?"
"Saya habis road trip dengan motor memutari pulau Flores. Nanti turun dari Sape, saya akan melanjutkan hingga pulau Sumba (kalau tidak salah ingat)."
"Wah terdengar seru. Asli orang Sumba pak?" Saya mulai tertarik untuk mengobrol.
"Bukan, saya orang Jawa Timur. Di pantai barat pulau Sumba, saya bekerja dengan nelayan bareng orang setempat. Ikannya kita kumpulkan dan beli, dari nelayan yang mau mengikuti aturan dari kita, agar tidak ngerusak lingkungan dan kualitas yang oke. Di Labuan Bajo kita juga ada kerjasama kayak gitu."
"Tetapi di masa sulit karena gelombang sedang tidak baik begini, bukannya aturan kayak gitu bukannya malah sulit ya buat nelayan? Maksud saya, tentunya tidak ada pemasukan."
Pertanyaan saya dipotong dan dijawab oleh pemuda yang baru datang, yang ternyata juga bekerja sama dengan nelayan setempat (saya lupa dimana tempatnya).
"Justru itulah tugas pemerintah, memberikan insentif kepada para nelayan. Agar mereka tidak mengalami susahnya gak ada uang."
"Maksudnya?" Tanya si bapak.
"Jadi pemerintah membuat anggaran, yang nantinya akan dioper ke nelayan atau bisnis yang terkait waktu musim badai kayak gini."
"Begini. Mas mungkin ada benarnya, nelayan di masa seperti itu memang akan sulit, karena uang masuk jadi berkurang. Tapi bukan berarti enggak ada. Ya bisa diatur lah, bisa dari sisi nelayannya, kurang-kurangi mabuk kalau lagi musim badai, atau diatur benerlah keuangannya. Atau juga dari kita yang membeli ikan dari nelayan, manajemen keuangan, gudang, atau penjualan juga bisa. Atau bikin tambak ikan juga bisa."
"Tetap aja, kalau pemasukan bakal tidak stabil."
"Lho, kalau memang tidak stabil, apa salahnya?"
Bapak ini melanjutkan bicaranya dengan menunjuk pengembangan kopi yang sedang saya kembangkan di Waerebo, "Seperti yang mas ini lakukan di pedalaman. Kopi tidak selalu musim panen kan? Hanya sekali setahun. Itu bisa diatur dengan hasil perkebunan buah atau sayur lain, jadi ya masih enak ngatur duit. "
Perdebatan masih berlanjut, yang kadang beberapa kali mereka seperti tanpa sadar meminta saya mengambil posisi. Sejujurnya perdebatan mereka menarik, karena setiap tersebut mempunyai sisi positif dan negatif yang sama-sama layak dipertimbangkan, tergantung konteksnya. Tentu saya punya pandangan pribadi yang menyatukan argumen mereka, tetapi saya sepertinya tidak tertarik untuk melakukan hal tersebut waktu itu. Saya lebih memilih diam mendengarkan mereka berdua, sambil menyadari kepala saya yang mulai semakin sakit karena ombak laut. Toh mereka lebih dewasa daripada saya, terutama bapak yang bernama Pak Yasin ini (baru ingat nama beliau di tengah menulis tulisan ini).
Singkat cerita, si pemuda menjadi sangat jengkel dengan perdebatan tersebut, dan memilih meninggalkan kami setelah diam beberapa saat. Saya tidak menahan pemuda ini, karena hal tersebut adalah pilihannya. Menjaga kadar emosional disaat situasi dan keadaan yang tidak stabil akibat meletusnya gunung berapi dan ombak laut yang sangat tidak stabil, adalah pilihan bijak, menurut saya.
"Anak muda sekarang memang banyak keras kepala, tidak mau mendengarkan terlebih dahulu." Setelah diam beberapa lama, Pak Yasin kembali membuka obrolan.
"Hahaha. Tidak apa-apa pak. Namanya juga perbedaan pendapat." Saya berusaha terdengar bijak.
"Ayo mas, dimakan lagi pisangnya."
"Tapi pak, kalau boleh berpendapat, memang sebenarnya saya lebih setuju ke bapak. Sayangnya itu hal yang justru lebih berat dilakukan."
"Begitukah?"
"Iyep, kurang lebih begitu yang saya pikirkan."
Langit semakin gelap menuju magrib, pembicaraan kita semakin berlanjut di tengah lautan ganas.
Komentar
Posting Komentar