[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo

Ali Moertopo adalah tokoh kontroversial dalam sejarah Indonesia. Posisinya tersebut mendorong Majalah Tempo melakukan riset tentang beliau dalam pergerakannya selama sebagai orang kepercayaan Presiden kedua Indonesia, yang hasilnya dapat dilihat dalam buku saku .
Ali Moertopo, yang tidak mengetahui kapan tanggal kelahiran secara pasti, besar di Blora, Jawa Tengah. Pada usia beranjak dewasa, sebelum terlibat di dalam TNI Angkatan Darat, Ali terlebih dahulu memasuki tentara keamanan untuk Belanda, dalam menghadapi gempuran dari Jepang. Kemudian setelah kemerdekaan, Ali sempat bergabung dengan Laskar Hizbullah sebagai komandan peleton.

Sebelum menjadi orang kepercayaan Soeharto sebagai presiden kedua, di Angkatan Darat Ali terlibat aktif dalam gerakan pembebasan Papua Barat menjadi negara boneka di Operasi Trikora. Kemudian setelah kekuasaan Soekarno runtuh secara perlahan-lahan sejak G30S tahun 1965, Ali yang sebelumnya asisten Soeharto di Kostrad, mulai bekerja sama lebih intens. Diantaranya adalah dimulai dari pemberantasan antek-antek PKI komunis (hingga yang hanya terduga), perbaikan hubungan Malaysia dan Indonesia yang mengalami ketegangan di penghujung masa Soekarno, pencarian dana untuk  Operasi Khusus yang di bawah pengawasan langsung Soeharto, merancang pemenangan Golkar sejak tahun 1971, serta menyusun rencana jangka panjang pembangunan orde baru.

Dari uraian kegiatan-kegiatan Ali Moertopo tersebut, dalam pelaksanaannya banyak hal yang menjadi sangat kontroversial. Seperti, untuk membantu pemenangan Golkar di Pemilu tahun 1971, Ali Moertopo merangkul orang-orang bekas pergerakan DI/TII untuk melakukan pergerakan lagi. Sehingga akan mendorong propaganda tentang posisi pergerakan kelompok Islam dalam negara yang berdaulat dan menganut Pancasila, atau biasa disebut ekstrim kanan. Propaganda tersebut bertujuan untuk menggembosi raihan suara partai PPP, yang merupakan pesaing terkuat Golkar dalam pemilu. Adapun Danu Muhammad, bekas petinggi DI/TII yang kabarnya dirangkul Ali Moertopo, dilepas setelah tujuan untuk kemenangan Golkar sudah tercapai. Hal yang beberapa rekan Jenderal lainnya sering melakukan protes keras ke Ali dan Presiden Soeharto.

Selain itu hal lain peran Ali Moertopo di Orde Baru adalah ketika menjadi Menteri Penerangan. Posisinya tersebut mendorong Ali untuk mengontrol arus informasi yang berkembang di dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah ketika dibawah kepemimpinan Ali, majalah tempo sempat dilarang beredar. Selain itu, dibawah kepemimpinannya, Festival Film Indonesia (FFI) dimulai.

Ada banyak lagi, cerita tentang Ali Moertopo sebelum serangan jantung menghentikan kehidupannya pada tahun 1984. Tetapi hal prinsipal yang sangat kontroversial adalah ketika Ali selalu mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia meyakini “right or wrong is my country”. Tetapi teman-temannya sering menilai Ali sering salah dalam membedakan antara my country dan my president.

sumber : Nusantara.news

Hasil riset Tempo ini dikeluarkan dalam bentuk buku saku, yang berjudul Rahasia-Rahasia Ali Moertopo

Komentar