Bahwa Isi dan Cara Menyampaikan Sesuatu Sama Pentingnya
Sore hari di Bandung, 20 November 2017, yang diisi dengan hujan yang begitu dingin, marilah menonton video stand up comedy audisi SUCI 7 Kompas TV berikut ini.
Video ini agak mendorong saya untuk menuliskan tentang suatu hal.
Singkat cerita, ketika saya sedang mencoba mencari suatu video youtube, di beranda muncul video ini sebagai rekomendasi untuk ditonton. Mungkin karena pikiran saya lagi melantur dan tidak fokus, saya langsung tertarik dengan kata-kata "Si Muka Datar" jadi tagline videonya. Mengingat betapa lucunya Coki yang muka sangat datar, saya mencoba menonton video ini.
Dan muka seseorang yang bernama Raka ini memang sangat datar, tapi ada sesuatu yang berbeda dengan Coki.
Begini. Dalam penuturannya, dia mengatakan sebagai anak STM Teknik Bangunan. sering mengalami banyak kesulitan. Misalkan ketika harus tawuran dengan anak SMK lainnya, mereka sering tidak terlalu dianggap. Sehingga muncul punchline sebagai berikut.
"Dua jam tawuran jadi pondasi, Dua hari tawuran jadi garasi, Dua abad tawuran jadi prasasti."
Saya harus bilang, ini punchline lucu banget. Sayangnya, meskipun ini lucu banget, menurut saya pribadi, Raka tidak menyampaikan dengan cara yang baik. Sehingga, meskipun Pandji sebagai salah satu juri tertawa dengan bitnya, saya kira masuk akal jika Pandji mikir agak cukup lama, apakah akan meluluskan Raka audisi SUCI 7 atau tidak. Dan respon tersebut semakin masuk akal, ketika nama Raka tidak ada dalam list finalis SUCI 7.
Apakah karena muka datar yang menjadi penghalang? Saya kira tidak. Karena Coki lulus sebagai finalis dan sudah banyak orang yang kadang juga bosan dengan pembawaan yang berlebihan. Dodit pun sering tanpa ekspresi, walau beberapa kali show atau di film, Dia menunjukkan sedikit ekspresi. Dan Dodit melakukannya tidak berlebihan. Saya melihatnya untuk memberikan sedikit efek kejut.
Dengan uraian tersebut, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa ada yang salah dengan cara penyampaian Raka.
Salah Satu Komentar di Youtube |
Ribut Tiada Henti di Indonesia
Sejak Pemilihan Pemilu Presiden Indonesia tahun 2019, ada suatu segmentasi yang terbentuk di antara masyarakat (terutama daerah urban). Dimulai dengan antara pendukung Jokowi dan Prabowo, yang berlanjut hingga Pilkada Jakarta. Ditambah lagi dengan proses pengambilan keputusan para elitis politik (tidak hanya yang sedang menjabat), segmentasi semakin menganga. Dalam perkembangannya, segmentasi yang terbentuk mengarah ke persoalan nasionalisme dan agama, dan terkesan sengaja dibiarkan atau masyarakat gampang disegmentasi dengan hal tersebut.
Segmentasi tersebut sangat terlihat ketika Pilkada Jakarta. Hampir setahun sebelum pilkada Jakarta, segmentasi ini begitu heboh ditampilkan. Dari media cetak maupun elektronik, sosial media, dan kemudian penwajatahan aksi berkali-kali dari masing kubu. Hal ini semakin diperumit dengan perkataan Ahok, Gubernur Jakarta sebelum dipenjara, mengenai Surat Al-Maidah ayat 51 dan kata "pribumi" dalam pidato pelantikan Anies Baswedan. Setelah Pilkada pun masih banyak narasi yang dikembangkan, seperti revolusi putih atau klaim dari para pendukung Ahok. Dan hal tersebut dilakukan secara kontinu.
Dalam setahun kedepan, setelah Pilkada Jakarta, bakal ada Pilkada serentak di beberapa wilayah di Indonesia dan setelah itu Pemilu pada tahun 2019. Dengan berpijak pada kondisi 3 tahun ke belakang (minimal, karena ada cerita yang terlalu panjang jika ditarik ke belakang), seberapa jauh Indonesia bisa melewatihari tersebut tanpa ada segmentasi yang terlalu semakin melebar seperti saat ini?
Apalagi kalau melihat dalam perkembangan sejarah Indonesia sejak zaman merdeka, keributan di Ibukota seringkali melebar kemana-mana, seperti kejadian Gestapu dan krisis 1998. Ditambah dengan zaman yang semakin digital (atau bisa dibilang menuju revolusi industri keempat), eskalasi isu begitu mudah melebar ke daerah lain. Sayangnya hal tersebut belum tentu berlaku sebaliknya, seperti keributan di Papua akhir-akhir ini.
Berkaca ke Raka
Dari sini, saya asumsikan bahwa sebenarnya argumen yang disampaikan oleh masing-masing kubu memang benar. Hal tersebut tidak tertutup kemungkinannya, karena tidak hanya dalam beda kubu, tetapi tiap manusia sendiri jika dibandingkan hingga mendetail, akan ada banyak perbedaan. Dan itu fitrah. Belum lagi jika membicarakan konteks sosial dan geografis, ada suatu kompleksitas yang terjadi diantara individu atau kelompok.
Maka, menurut saya disini akan terdapat 2 pilihan, yaitu berdialog atau perang/debat yang mengarah kusir (pertengkaran dalam individu), atau bisa jadi sekaligus dijalankan.
Jika benar-benar ingin mengedepankan dialog atau diskusi (maknanya bisa berbeda), hal yang dihadapi oleh Raka dan keraguan Pandji bisa menjadikan titik pijak untuk hal lain yang harus juga diperhatikan. Yaitu, kemampuan mengkomunikasikan hal-hal yang ingin diutarakan.
Menurut suatu artikel di TedX, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang gagal menjadi komunikator yang baik.
- Ingin terlihat baik
Ketika setiap yang berkomunikasi hanya ingin benar-benar kelihatan baik di hadapan yang lain, baik itu perihal latar belakang, prestasi, atau hal-hal lainnya. Tidak hanya menghambat untuk mendengar sudut pandang yang lain, tetapi sangat memungkinkan dengan bersikap demikian, akan menghambat diri sendiri untuk mengembangkan diri atau minimal untuk instropeksi. - Ingin terlihat benar
Logika penjelasan tentang ini tidak beda jauh dengan nomor satu. Bedanya, apapun yang salah satu komunikator bilang, itu harus terlihat benar dan tidak mungkin untuk dibantah. Komunikator yang seperti ini sering kali terlihat melakukan interupsi. - Menyenangkan orang lain
Ini merupakan versi ekstrim dari nomor 1 dan 2. Seorang komunikator tipe ini melakukan hal tersebut tidak atas dasar untuk memperlihatkan sesuatu yang baik atau pemahaman yang benar dari dirinya, tetapi hanya ingin menyenangkan orang lain. Sehingga bisa jadi ini orang sering gagal melihat value dari dirinya sendiri. - Setiap saat hanya untuk memperbaiki
Tipe komunikator sering kali menyampaikan sesuatu atas dasar karena hanya ingin memperbaiki sesuatu yang menurut dia tidak benar, tanpa ada niat untuk mendengarkan atau membebaskan pihak lain untuk mengutarakan isi pikirannya. Hal ini berbahaya, karena sesuatu yang tak terduga dari efek lanjutnya sering kali terjadi. Analoginya adalah, ketika suatu tong air diisi air terus menerus, tetapi semua aliran air dihambat agar tidak bocor, pada akhirnya tong itu akan meledak oleh tekanan dari air tersebut.
Dari 4 poin dan penjelasannya di atas, tidak ada yang otomatis benar atau otomatis salah. Hal tersebut sangat bergantung konteks yang sedang dihadapi komunikator.
Sehingga, jika dilihat dari Raka, kesalahan yang mungkin dilakukannya adalah menjadi nomor 4. Tanpa membiarkan orang lain tertawa terlebih dahulu terhadap punchlinenya. Atau ada kemungkinan juga nomor 2, tidak menimbang bahwa apakah leluconnya lucu atau tidak, sehingga dia memilih untuk lanjut saja tanpa memberikan ekspresi atau jeda.
Kalau mengenai ribut-ribut politik Indonesia, saya pikir take your mirror, and choose your type. :))
Komentar
Posting Komentar