Postingan

Menampilkan postingan dengan label Covid-19

[Copas Tulisan] Enough with Modeling

I've read many arguing that we got caught blindsided by the virus because the human mind has trouble understanding exponentials. My grandma would tell you that you don't need to understand exponentials to know that the virus is dangerous. Humbleness would suffice. The humbleness of looking at the makeshift hospital beds built in China and at Spain converting an ice rink into a morgue because the crematoriums in Madrid are saturated and realizing that this could be your future would be enough. The humbleness at realizing that Lombardy is not the third world, and what happened there will happen in other countries to, unless they react faster and more effectively. It's easy to know how to best react - it would suffice to look at what worked (in Taiwan, Singapore, South Korea, and China) and at what didn't (in Italy) and to do more of the former and less of the latter. Unfortunately, some people prefer sounding smart than doing what works, so we have models. Proba...

Respon Cina dan Hong Kong terhadap Virus Corona oleh Gary Liu

Jika yang membaca blog ini belum tahu, dalam seminggu terhitung dimulai dari tanggal 23 Maret, TED , platform untuk orang-orang saling berbagi dan mendengarkan ide atau pandangan, membuat program diskusi harian yang bisa diakses secara live streaming . Program ini tentu saja berkaitan dengan pandemik Corona, sehingga diberi judul TED Connects : Community and Hope . Untuk waktu Indonesia bagian barat, live streaming dimulai sekitar jam 11 malam. Jika sekiranya butuh pengingat melalui  email , silahkan diklik tombol "Get TED Connects Reminder" pada hyperlink di atas. Kemarin malam, Gary Liu , CEO dari South China Morning Post , mempunyai kesempatan untuk bercerita mengenai perkembangan pandemik Corona sejak pertama kali merebak di Cina, terutama Wuhan, dan dampak kepada sektor publik lainnya. Ada beberapa poin yang menjadi catatan dari paparan Gary. 1 . Pemerintah Cina sempat menghambat arus informasi mengenai penyebaran virus. Ketika pertama kali peringatan diberitah...

Realitas yang Terlewatkan

Giorgio Chiellini, kapten tim sepak bola Juventus dan berkewarganegaraan Italia, beberapa hari lalu berbicara tentang Covid-19 kepada Webathon.it , yang diterjemahkan oleh media online Football Italia . Dalam dunia sepakbola yang semakin cepat, Chiellini berpikir terkadang sedang kehilangan realitas, di dalam dunianya yang berharga. Dan Covid-19 mengubah waktu yang sedang kosong untuk dihabiskan lebih banyak dengan putrinya. " Our world is golden and sometimes you lose touch with reality. Now I'm in isolation on my own and can't wait to pass time with my daughters. " Chiello, panggilan populernya oleh fans Juventus, pun menambahkan, " We are active, compliments of initiative. We are all locked in the house and we try to ease the time for many people without forgetting to help the health system that is experiencing a difficult moment and needs us. This is a challenge that we must overcome together, there is no loyalty to one team or another. I'm a person w...

Musim Pandemik = Musim Mengubah Kebiasaan

Hari Sabtu, jam 9.39, tanggal 21 Maret 2020, sambil mendengarkan  Spotify sedang memutar playlist Chilled Jazz  dan segelas teh jahe di sebelah laptop, saya memulai lagi menulis postingan blog di hari ini. Biasanya di pagi ini, saya sedang sedikit bersantai, entah melanjutan membaca buku, menonton film atau NBA, atau juga sedikit stretching . Lewat jam 12 siang, kalau misalnya jalanan lagi tidak begitu terganggu karena proyek jalan layang pemerintah, saya sudah akan bersiap-siap main futsal dengan JCI Chapter Bandung  di kawasan Antapani dan bermain hingga sekitar jam 4. Itu sudah termasuk pendinginan dan ngobrol santai sambil ketawa-tawa. Lewat lagi dari magrib, posisi badan akan berada di Cimbeluit, karena keringatnya butuh dikeluarkan lagi untuk main basket dengan Kaskus Basketball Bandung . Di antara kegiatan bersebut atau setelah pulang ke rumah, menonton bola atau basket akan jadi bagian rutinitas akhir minggu. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Eh b...

Sopir Angkot, Anjing Mati, dan Anak Kecil Ketabrak

Kemarin hari saya mempunyai obrolan yang cukup nyambung dengan supir angkot Caheum-Ledeng. Saya sedang dalam perjalanan dari Setiabudi menuju daerah Pelisiran, setelah malam sebelumnya menginap di rumah kenalan selama berorganisasi dulu yang cukup dekat, untuk bertemu teman kuliah selama seharian penuh. Ketika naik, saya adalah satu-satunya penumpang dalam angkot tersebut dan duduk di kursi depan. Sedang bersantai mendengarkan lagu di Spotify , sopir angkot ini tiba-tiba menyeletuk, "Ada orang minta tolong dibawain anjing mati ke rumah sakit." "Oh ya kang?" Saya sepertinya lagi sedang ingin bebas ngobrol dengan siapapun dan tentang apapun. "Iya. Saya langsung ragu, soalnya takut bau nanti angkotnya. Ini baru pagi, enggak sempat buat bersih-bersih." "Tapi orangnya mau bayar lebih kang? Atau ongkosnya segitu-gitu aja?" Lagu sudah dimatikan dan headset pun dilepas. "Enggak tau juga, orangnya enggak ngomong mau bayar berapa. Cuma saya udah...

Aing Mau Ngomel Corona Deui

Gambar
Mendorong kebiasaan menulis satu blog per hari ini sepertinya agak sedikit menjadi bumerang. Bukan disebabkan bingung mau menuliskan apa, karena itu adalah hal biasa yang akan terjadi. Tetapi keadaan krisis virus Corona akhir-akhir ini dan respon pemerintah Indonesia cukup menyita perhatian. Tempo hari adalah hari dimana saya tiap sebentar membuka twitter , berita online, atau juga tulisan terkait atau yang penting dibaca. Saking seringnya, ketika mengecek aplikasi screen time pada sekitar jam 4 sore, saya sudah membuka twitter  hampir 4 jam kemarin. Belum terhitung dari jam lainnya untuk membaca artikel atau menonton video. Kekacauan akibat penanganan Corona di Indonesia cukup membuat saya muak. Beruntung, final All England berhasil menarik perhatian saya, seenggaknya sejam setengah jam sebelum dimulai. Hal pertama yang mengganggu adalah tiada langkah kongkrit yang benar dari pemerintah pusat hingga saat ini. Meskipun memaksa alur informasi dan kebijakan harus dari p...

Babak Baru Covid-19 di Indonesia

Perkembangan virus Corona sudah memasuki pertengahan bulan Maret. Event sudah banyak yang dibatalkan, baik itu konser musik, turnamen olahraga, dan lain-lainnya. Komite Olimpiade semakin mempertimbangkan untuk membatalkan event yang akan diadakan di tengah tahun ini. Dari 118 negara di dunia, 114 sudah diidentifikasi mempunyai kasus Covid-19. Atas kondisi demikian, WHO sudah memberikan statement ke publik dunia, bahwa penyebaran Covid-19 sudah tergolong sebagai pademik. Pertanyaan selanjutnya, what next? Di beberapa data yang sudah diupdate dari berbagai sumber, terlihat China sudah mengalami perlambatan, dan bahkan penurunan, dengan beberapa orang dinyatakan telah sembuh dari virus Corona. Yang menjadi persoalan adalah penanganan di luar China, ledakan lanjutan sepertinya sudah terjadi. Di Eropa, Italia dan Prancis sudah mengalami angka ribuan kasus. Di Italia dan Iran, beberapa tenaga kesehatan sudah bercerita sangat kelelahan dengan penanganan ledakan pademik ini lewat kolom s...

Over Buying Karena Virus Corona

Gambar
Dua hari terakhir menjadi ledakan pembelian di supermarket, pasar, atau minimarket. Pemicunya adalah statement  dari presiden Jokowi mengenai dua orang yang dikonfirmasi telah terserang virus Corona. Meskipun  jajaran pemerintah sudah meminta  kepada masyarakat untuk tidak panik menghadapi keadaan pademik Covid-19, tetapi asumsi yang sudah berkembang tidak terkontrol yang mengarah ketakutan dan kepanikan, membuat perilaku over buying menjadi sesuatu yang seharusnya bisa diperkirakan akan terjadi. Barang-barang yang banyak dibeli adalah masker, hand sanitizer, dan sembako. Khusus untuk masker, barang ini sudah mengalami peningkatan pembelian beberapa minggu sebelum pengumuman. Over buying tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Australia, di negara yang dikatakan mempunyai tingkat pendidikan lebih baik dari Indonesia, dilaporkan oleh ABC , ketakutan akan wabah yang akan terjadi menyebabkan merebaknya over buying dimana-mana. Bahkan dalam laporan berita tersebut, salah na...