Babak Baru Covid-19 di Indonesia

Perkembangan virus Corona sudah memasuki pertengahan bulan Maret. Event sudah banyak yang dibatalkan, baik itu konser musik, turnamen olahraga, dan lain-lainnya. Komite Olimpiade semakin mempertimbangkan untuk membatalkan event yang akan diadakan di tengah tahun ini. Dari 118 negara di dunia, 114 sudah diidentifikasi mempunyai kasus Covid-19. Atas kondisi demikian, WHO sudah memberikan statement ke publik dunia, bahwa penyebaran Covid-19 sudah tergolong sebagai pademik.

Pertanyaan selanjutnya, what next?

Di beberapa data yang sudah diupdate dari berbagai sumber, terlihat China sudah mengalami perlambatan, dan bahkan penurunan, dengan beberapa orang dinyatakan telah sembuh dari virus Corona. Yang menjadi persoalan adalah penanganan di luar China, ledakan lanjutan sepertinya sudah terjadi. Di Eropa, Italia dan Prancis sudah mengalami angka ribuan kasus.

Di Italia dan Iran, beberapa tenaga kesehatan sudah bercerita sangat kelelahan dengan penanganan ledakan pademik ini lewat kolom sosial media, wawancara dengan media, ataupun tulisan yang disebar luaskan. Salah satu concern mereka adalah betapa telatnya mereka sebagai negara merespon penyebaran virus, sehingga tidak siap untuk menghadapi keadaan krisis. Sayangnya untuk kasus Iran, dampak kepercayaan yang sangat menurun kepada pemerintah sejak awal tahun 2020, juga berdampak lebih jauh dalam penanganan menghadapi krisis.

Di Indonesia sendiri seperti apa ceritanya? Terhitung pada hari ini, sejak diumumkannya pengidap pertama oleh Jokowi, jumlah pengidap Corona sudah mencapai angka 27. Memang secara jumlah angka masih tergolong kecil dibanding negara lain, tapi rate peningkatan yang Indonesia sesuangguhnya tidak berbeda jauh.

Dengan beberapa negara sudah memberlakukan kebijakan lockdown dan bahkan beberapa orang petinggi atau juga olahragawan (yang sudah kebiasaan menjaga kesehatan) sudah tersentuh virus, tentu menjadi pertanyaan, bagaimana Indonesia merefleksikan ini semua?

Memang sudah ditunjuk juru bicara khusus dari istana negara untuk menjadi komunikasi publik mengenai perkembangan dan juga kampanye hidup disebarkan dimana-mana. Tetapi menjadi tidak ada artinya ketika perpindahan virus ini tidak ada proses kontaminasi. Ditambah, virus Corona sangat mudah menular meskipun tidak mematikan dengan pendahulunya, SARS.

Ekonomi sudah pasti terdampak. Tetapi jika tidak ada langkah yang sangat taktis dan terukur secara harian, yang juga dikomunikasikan secara transparan kepada masyarakat, penyebaran virus masih akan dengan mudah menemui jalannya ditularkan, walau semua orang sudah diminta evaluasi kehidupannya masing-masing.

Komentar