Kepemimpinan di Masa Sulit
Berdasarkan tulisan Warren Benis dan Robert J. Thomas di Harvard Business Review, ada 4 kemampuan penting yang akan membentuk karakter kepemimpinan seseorang, untuk mampu menghadapi momen berat.
Pertama, kemampuan untuk bisa engage dengan banyak orang dalam makna yang bisa dipahami secara bersama. Ketika krisis terjadi, ada banyak pandangan yang muncul, dan di antara mereka akan saling bertabrakan. Kempuan mencari dan menemukan titik bersama ini akan penting di awal dan ke depannya.
Kedua, suara yang kuat dan menarik banyak orang untuk mendengar. Situasi choas, banyak suara yang menguak dalam suatu ruang publik (atau juga personal). Di dalam situasi dan kondisi tersebut, dibutuhkan kemampuan memaksakan diri untuk mengambil posisi titik tengah akan menjadi krusial.
Ketiga, rasa integritas (termasuk sekelompok nilai yang kuat). Meskipun mempunyai suara yang kuat dan mampu mengambil titik tengah, tetapi jika tidak dijaga konsistensi yang kuat, langkah awal akan menjadi sia-sia di sepanjang perjalanan waktu. Intergritas nilai yang kuat lah yang akan menjaganya.
Keempat, kapasitas untuk adaptif. Dalam hal ini, secara esensi, berlaku tentang kreatifitas --kemampuan yang seperti sulap yang mampu mengubah kesulitan, dengan semua hal yang membuat stress, untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dalam hal ini, ada dua hal yang membentuknya, yaitu kemampuan memahami konteks dan daya tahan.
Kemampuan memahami konteks ini berkaitan untuk mempertimbangkan semua faktor, termasuk dari bagaimana berbagai kelompok orang menginterpretasi situasi dan kondisi yang sedang terjadi dalam perspektif mereka. Jika hal ini gagal mereka lakukan, mereka akan terputus dengan konstituennya.
Daya tahan, seperti yang terdengar, adalah ketekunan dan ketangguhan yang mendorong orang untuk keluar dari keadaan yang menghancurkan tanpa harus kehilangan harapan.
Kombinasi dari dari daya tahan dan kemampuan memahami konteks yang tak hanya membuat orang bisa keluar dari keadaan yang menyiksa, tapi juga belajar darinya, dan bahkan menjadi lebih kuat, lebih engage, dan lebih berkomitmen. Atribut ini yang akan membebaskan seorang pemimpin untuk tumbuh dari masa sulit, daripada dihancurkan olehnya.
---
Awalnya saya mencoba menghubungkan dengan konteks akhir-akhir ini, terutama concern pribadi kepada pemerintah terpusat. Tetapi selain saya sudah terlalu sering membicarakannya di media sosial dan blog ini, sehingga tidak baik memberikannya makanan terus menerus, tentang kepemimpinan juga tentang bagaimana memimpin diri sendiri. Bahkan artikel HBR yang dibagikan dalam hyperlink juga menceritakan beberapa contoh yang diwawancari oleh mereka dalam beberapa paragraf.
Dan memang, banyak cerita klasik yang menggaris bawahi musuh yang paling sulit untuk dihadapi adalah diri sendiri.
Pertama, kemampuan untuk bisa engage dengan banyak orang dalam makna yang bisa dipahami secara bersama. Ketika krisis terjadi, ada banyak pandangan yang muncul, dan di antara mereka akan saling bertabrakan. Kempuan mencari dan menemukan titik bersama ini akan penting di awal dan ke depannya.
Kedua, suara yang kuat dan menarik banyak orang untuk mendengar. Situasi choas, banyak suara yang menguak dalam suatu ruang publik (atau juga personal). Di dalam situasi dan kondisi tersebut, dibutuhkan kemampuan memaksakan diri untuk mengambil posisi titik tengah akan menjadi krusial.
Ketiga, rasa integritas (termasuk sekelompok nilai yang kuat). Meskipun mempunyai suara yang kuat dan mampu mengambil titik tengah, tetapi jika tidak dijaga konsistensi yang kuat, langkah awal akan menjadi sia-sia di sepanjang perjalanan waktu. Intergritas nilai yang kuat lah yang akan menjaganya.
Keempat, kapasitas untuk adaptif. Dalam hal ini, secara esensi, berlaku tentang kreatifitas --kemampuan yang seperti sulap yang mampu mengubah kesulitan, dengan semua hal yang membuat stress, untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dalam hal ini, ada dua hal yang membentuknya, yaitu kemampuan memahami konteks dan daya tahan.
Kemampuan memahami konteks ini berkaitan untuk mempertimbangkan semua faktor, termasuk dari bagaimana berbagai kelompok orang menginterpretasi situasi dan kondisi yang sedang terjadi dalam perspektif mereka. Jika hal ini gagal mereka lakukan, mereka akan terputus dengan konstituennya.
Daya tahan, seperti yang terdengar, adalah ketekunan dan ketangguhan yang mendorong orang untuk keluar dari keadaan yang menghancurkan tanpa harus kehilangan harapan.
Kombinasi dari dari daya tahan dan kemampuan memahami konteks yang tak hanya membuat orang bisa keluar dari keadaan yang menyiksa, tapi juga belajar darinya, dan bahkan menjadi lebih kuat, lebih engage, dan lebih berkomitmen. Atribut ini yang akan membebaskan seorang pemimpin untuk tumbuh dari masa sulit, daripada dihancurkan olehnya.
---
Awalnya saya mencoba menghubungkan dengan konteks akhir-akhir ini, terutama concern pribadi kepada pemerintah terpusat. Tetapi selain saya sudah terlalu sering membicarakannya di media sosial dan blog ini, sehingga tidak baik memberikannya makanan terus menerus, tentang kepemimpinan juga tentang bagaimana memimpin diri sendiri. Bahkan artikel HBR yang dibagikan dalam hyperlink juga menceritakan beberapa contoh yang diwawancari oleh mereka dalam beberapa paragraf.
Dan memang, banyak cerita klasik yang menggaris bawahi musuh yang paling sulit untuk dihadapi adalah diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar