Dunia yang Tak Mengenal Sepak Bola dan Beckham
Ketika kontemplasi dan menuliskan bagian ke dua dari "Bapak Tua Idealis dan Penjelajah". Rasanya, ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah ditonton, saya menjadi teringat film dokumenter dengan David Beckham sebagai tokoh utama. Film yang berjudul David Beckham : Into The Unknown, ditayangkan pertama kali di tahun 2014 dan oleh BBC. Kompas TV mengambil hak siarnya, yang kemudian ditayangkan kepada para penonton yang masih belum tidur di kala tengah malam akhir minggu tiba. Dan saya lah salah satu penontonnya.
Sewaktu film ini akan diproduksi, meskipun sudah pensiun, Becks berpikir tentang personalitas dan pengalamannya yang sangat mengakar kuat di sepak dunia bola. Tentu dunia tersebut yang mengembangkannya selama berpuluh tahun. Tetapi faktor ini juga yang membuat ia merasa tak memahami banyak hal di luar dunianya. Kehadiran orang-orang yang hanya dekat dengan Becks karena sesuatu hal yang ingin mereka dapatkan dari dirinya, mempersulit memahaminya. Dengan dorongan dan mot Bersama ketiga teman dekatnya, David Gardner, mereka melakukan road trip di Brazil hingga pedalaman hutan Amazon.
Kehadiran Becks di Brazil yang berkesan bagi saya dimulai ketika menginjak kaki di kawasan Favela. Favela adalah kawasan perumahan padat penduduk yang berasal ekonomi menengah ke bawah, dan dibangun di sekitar kaki perbukitan Brazil. Dari pemukiman ini, lahirlah budaya Samba yang digabungkan dengan sepak bola dan pemain-pemain terkenal, seperti Adriano dan Gabriel Jesus. Lewat kemiskinan dan perjuangan hidup yang harus mereka lalui, beserta sejarah dari Favela, budaya bermain sepak bola ini berkembang dan mendorong anak-anak untuk bermimpi menjadi pemain bola sebagai jalan keluar dari problematika hidup.
Becks sendiri juga menceritakan awal pengalaman hidupnya sebagai pesepakbola setelah bercengkrama dengan mereka. Jauh sebelum menjadi seseorang yang begitu terkenal, bahkan ketika melewati dunia sepak bola itu sendiri, David Beckham juga berkembang lewat akademi di sepak bola, dan sempat beberapa tahun hidup di kos. Dalam kehidupan tersebut hingga selama dibimbing oleh Sir Alex Ferguson, ia mengalami perjalanan hidup yang menjadi pijakan penting sebagai pesepakbola.
Film berlanjut dengan perjalanan road trip Becks dan kawan-kawannya melewati jalan raya yang masih mulus, melewati stadion sepak bola, turun sejenak untuk ikut bermain beach soccer-volleyball (olahraga yang menggabungkan unsur sepak bola dan voli), mulai menjauh dari peradaban modern, memasuki hutan Amazon, melewati jalan bagi truk besar atau juga tidak terurus, mengarungi sungai berbahaya di atas perahu kano yang sayangnya juga sedikit bocor di bagian lambungnya, dan belajar bertahan hidup dengan beristirahat di dalam hutan belantara. Tak lupa juga, terjatuh di atas motor ketika mengejar jadwal perjalanan pesawat perintis menuju pedalaman suku Yanomami.
Beberapa hari hidup bersama suku Yamonami adalah bagian yang paling saya suka. Tidak hanya bagi Beckham yang sudah sejak awal mencari momen tersebut, tetapi saya bisa merasakan langsung yang terlintas di pikiran seseorang yang setiap harinya dengan gampang dikenal, tetapi tidak bagi suku Yanomami. Bahkan lebih baik, suku ini tidak mengenal salah satu aktivitas manusia yang bernama sepak bola.
Beckham datang disambut oleh suku Yanomami dengan salam persabahatan untuk tamu (budaya seperti ini masih dijaga oleh banyak suku pedalaman di dunia). Mereka turut serta dalam acara sambutan, bercengkarama dengan orang-orang setempat dan kepala suku yang dibantu seorang penerjemah, dan juga ikut membantu mempersiapkan makan. Dalam kegiatan tersebut, kepala suku bercerita kepada Beckham tentang budaya suku Yamonami yang selalu mempersiapkan hampir semua hal dengan bekerjasama. Setelah bercerita, kepala suku ini bertanya tentang kehidupan Beckham di luar dan apakah mereka juga bekerjasama.
Beckham tentu menjawab sepak bola selama bertahun-tahun. Karena kepala suku menjawab tidak pernah mengetahui sepak bola, Becks pun harus menjelaskannya, semampu yang ia bisa. Kepala suku Yamonami adalah orang kedua yang mendengarkan penjelasan Becks tentang sepak bola, setelah istrinya, Victoria Beckham.
Bagi saya, hal ini sangat menarik dan membuka mata. Meskipun sudah bertahun-tahun seseorang menjalankan suatu hal, bukan berarti ia mampu menjelaskannya dengan baik. David Beckham tidak berada dalam pengecualian.
---
Ada banyak hal lainnya yang bisa diceritakan dalam film ini. Bahkan saya yakin, Anthony Mandler, sutradara dan salah satu teman Becks yang turut serta, tidak memasukan semua hal ke dalam filmnya. Film ini terlalu berkesan secara pribadi, dan mendorong saya untuk menjaga mimpi dan merasakan langsung road trip juga melintasi kota dan pedalaman.
Sewaktu film ini akan diproduksi, meskipun sudah pensiun, Becks berpikir tentang personalitas dan pengalamannya yang sangat mengakar kuat di sepak dunia bola. Tentu dunia tersebut yang mengembangkannya selama berpuluh tahun. Tetapi faktor ini juga yang membuat ia merasa tak memahami banyak hal di luar dunianya. Kehadiran orang-orang yang hanya dekat dengan Becks karena sesuatu hal yang ingin mereka dapatkan dari dirinya, mempersulit memahaminya. Dengan dorongan dan mot Bersama ketiga teman dekatnya, David Gardner, mereka melakukan road trip di Brazil hingga pedalaman hutan Amazon.
Kehadiran Becks di Brazil yang berkesan bagi saya dimulai ketika menginjak kaki di kawasan Favela. Favela adalah kawasan perumahan padat penduduk yang berasal ekonomi menengah ke bawah, dan dibangun di sekitar kaki perbukitan Brazil. Dari pemukiman ini, lahirlah budaya Samba yang digabungkan dengan sepak bola dan pemain-pemain terkenal, seperti Adriano dan Gabriel Jesus. Lewat kemiskinan dan perjuangan hidup yang harus mereka lalui, beserta sejarah dari Favela, budaya bermain sepak bola ini berkembang dan mendorong anak-anak untuk bermimpi menjadi pemain bola sebagai jalan keluar dari problematika hidup.
Becks sendiri juga menceritakan awal pengalaman hidupnya sebagai pesepakbola setelah bercengkrama dengan mereka. Jauh sebelum menjadi seseorang yang begitu terkenal, bahkan ketika melewati dunia sepak bola itu sendiri, David Beckham juga berkembang lewat akademi di sepak bola, dan sempat beberapa tahun hidup di kos. Dalam kehidupan tersebut hingga selama dibimbing oleh Sir Alex Ferguson, ia mengalami perjalanan hidup yang menjadi pijakan penting sebagai pesepakbola.
Film berlanjut dengan perjalanan road trip Becks dan kawan-kawannya melewati jalan raya yang masih mulus, melewati stadion sepak bola, turun sejenak untuk ikut bermain beach soccer-volleyball (olahraga yang menggabungkan unsur sepak bola dan voli), mulai menjauh dari peradaban modern, memasuki hutan Amazon, melewati jalan bagi truk besar atau juga tidak terurus, mengarungi sungai berbahaya di atas perahu kano yang sayangnya juga sedikit bocor di bagian lambungnya, dan belajar bertahan hidup dengan beristirahat di dalam hutan belantara. Tak lupa juga, terjatuh di atas motor ketika mengejar jadwal perjalanan pesawat perintis menuju pedalaman suku Yanomami.
Beberapa hari hidup bersama suku Yamonami adalah bagian yang paling saya suka. Tidak hanya bagi Beckham yang sudah sejak awal mencari momen tersebut, tetapi saya bisa merasakan langsung yang terlintas di pikiran seseorang yang setiap harinya dengan gampang dikenal, tetapi tidak bagi suku Yanomami. Bahkan lebih baik, suku ini tidak mengenal salah satu aktivitas manusia yang bernama sepak bola.
Beckham datang disambut oleh suku Yanomami dengan salam persabahatan untuk tamu (budaya seperti ini masih dijaga oleh banyak suku pedalaman di dunia). Mereka turut serta dalam acara sambutan, bercengkarama dengan orang-orang setempat dan kepala suku yang dibantu seorang penerjemah, dan juga ikut membantu mempersiapkan makan. Dalam kegiatan tersebut, kepala suku bercerita kepada Beckham tentang budaya suku Yamonami yang selalu mempersiapkan hampir semua hal dengan bekerjasama. Setelah bercerita, kepala suku ini bertanya tentang kehidupan Beckham di luar dan apakah mereka juga bekerjasama.
| Yang Beckham pikirkan setelah menjelaskan sepak bola ke kepala suku Yanomami |
Bagi saya, hal ini sangat menarik dan membuka mata. Meskipun sudah bertahun-tahun seseorang menjalankan suatu hal, bukan berarti ia mampu menjelaskannya dengan baik. David Beckham tidak berada dalam pengecualian.
---
Ada banyak hal lainnya yang bisa diceritakan dalam film ini. Bahkan saya yakin, Anthony Mandler, sutradara dan salah satu teman Becks yang turut serta, tidak memasukan semua hal ke dalam filmnya. Film ini terlalu berkesan secara pribadi, dan mendorong saya untuk menjaga mimpi dan merasakan langsung road trip juga melintasi kota dan pedalaman.
Komentar
Posting Komentar