Persiapan Master Degree : Berpikir Fokus

Melihat yang sedang dialami sedikit pelik akhir-akhir ini, sepertinya langkah realistis ke depannya adalah serius untuk mengambil program master. Ada banyak alasan tentang hal ini, yaitu dimulai dengan sepertinya badan ini sudah terlampau lama di bandung, tetapi pikiran bergerak ke daerah-daerah lain atau belajar di luar negeri. Kemudian lagi pemikiran bahwa sudah cukup dengan semua yang sudah dilakukan untuk pekerjaan, berkomunitas, dan relationship selama ini, dan juga perasaan untuk melangkah lebih jauh lagi.

Sial beribu sial, kesalahan saya selama ini yang tidak dengan serius mengurus IELTS atau TOEFL membuat keadaan repot. Sehingga ketika berdiskusi dengan konsultan pendidikan dari lembaga yang sepertinya sudah lumayan dikenal di Indonesia, ditambah GPA yang tidak terlalu bagus selama berkuliah dan periodisasi pendaftaran kuliah dan beasiswa yang semakin sempit, beliau menyarankan untuk sedikit realistis bahwa kemungkinan besar tidak akan berkuliah di tahun ini. Well, definitely my fault.

Tetapi dengan diberikan pemahaman tersebut, saya sepertinya akan mempunyai waktu untuk belajar banyak hal, sebagai persiapan program pendidikan master saya selanjutnya. Selain lebih memperlancar bahasa inggris dan kaidah beserta strukturnya (saya sering kali melewati hal seperti ini meskipun sudah mengerti apa yang dimaksud), saya akan memperdalam lagi belajar mengenai tentang energy and power system dan sociopreneurship. Karena sejujurnya, kelebihan sekaligus kekurangan dari diri ini adalah, kemampuan untuk memahami banyak hal dan mengerjakannya, tetapi sayangnya berpengaruh ke hal-hal yang seharunya yang menjadi fokus.

Salah satu teman yang jauh lebih tua bercerita, ada baiknya dalam belajar dan berkembang itu seperi huruf "T". Batang tubuh T menandakan mempunyai fokus  yang akan diseriusi, tetapi ada bagian kepala yang akan memberi warna kompleksitas, fleksibilitas, dan wawasan luas. Dua hal tersebut akan saling mendukung satu dan lainnya. Atas dasar obrolan dengan teman ini lah, saya jadi semakin memperhatikan langkah yang sedang saya lakukan, apa yang sudah saya lalui, dan bagaimana ke depannya.
--

Singkat cerita, energy and power system yang ingin saya pelajari untuk memahami kompleksitas dalam mendesain energi yang reliable untuk sekelompok pihak atau end-user. Reliability ini sendiri tidak berbicara pembangkitan, transmisi-disitribusi, berserta konsumen dalam kerangka berpikir yang terpisah, seperti yang selama ini saya lihat dalam manajemen energi atau kelistrikan. Tetapi juga tentang bagaimana ketiga komponen ini akan saling mempengaruhi ketika berinteraksi dan memberikan warna kompleksitasnya.

Energy and power system ini sendiri pun juga harus berbicara tentang resiliance, terutama di negara yang sering mengalami bencana alam. Setelah beberapa kali berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan menghadapi kebencanaan alam, mereka mengeluhkan kurangnya pengetahuan kelistirkan tentang sistem yang resiliance terhadap kondisi yang tidak stabil. Pandangan yang mungkin sangat bias, karena saya hanya mendengarkan dari end-user ketika bencana alam terjadi, belum dari penyedianya.

Kerangka problem seperti inipun, dalam seperhatian saya bisa berkaitan dengan mekanisme bisnis yang diterapkan. Bagaimana penguasaan energi dan listrik yang hanya ditopang oleh satu perusahaan, berimpas ke banyak hal. Sehingga bagi saya, penting juga kemandirian dari level mikro, dan disinilah kenapa saya butuh belajar lagi tentang sociopreneur.

Well, bukan itu yang ingin saya fokus diceritakan disini. Sepertinya saya menceritakan hal tersebut lebih detail di postingan berikutnya. Yang ingin saya ceritakan adalah kemungkinan keteledoran mendorong saya untuk berpikir dan memaknai hal yang substantif dalam menjalani hidup. Dan mengingatkan saya akan tagline dari blog ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo