Penyesalan di Atas Laut

Dua hari lalu saya menonton video lanjutan Watchdoc Documentary dalam perjalanan mereka mengelilingi Indonesia, yang dinamai Ekspedisi Indonesia Biru. Video yang saya tonton kali itu adalah tentang pengalaman mereka merayakan Idul Fitri di tengah perjalanan kapal dari Merauke Kepulauan Morotai, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Watchdoc, yang dipimpin Dandhy Laksono, dikenal sebagai produsen film dokumenter perjuangan kaum tertindas dari ketimpangan kuasa, tetapi bagi saya, video berdurasi pendek seperti ini sama pentingnya.



Selama menonton video ini saya jadi teringat momen perjalanan pribadi, pada sekitar tahun 2015. Ada sedikit kesamaan situasi dengan perjalanan Dandhy Laksono, dimana saat itu berdekatan hari lebaran.

Setelah berada di pedalaman flores hampir sebulan, tanggal di kalender mendekati hari lebaran. Di awal ketika datang ke pedalaman saya , saya beberapa kali mengutarakan ke teman yang juga satu tim proyek bahwa besar kemungkinan untuk merayakan lebaran disana. Latar belakang pedalaman yang saya tempati adalah orang yang masih menganut budaya dan kepercayaan lokal, tetapi disaat bersamaan juga terbuka terhadap pemahaman katolik. Selain itu, meskipun pedalaman, desa pedalaman tersebut juga daerah kunjungan wisata, yang kebanyakan datang dari Jakarta atau mancanegara.

Alasan saya tidak pulang disaat lebaran adalah karena ingin merasakan suasana baru sebagai perantau. Dalam budaya minang, seorang anak laki-laki yang sudah dewasa harus merantau, untuk merasakan berbagai pengalaman, jauh dari hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan seumur hidup. Dan bagi saya pada waktu itu, berada di pedalaman ketika hari raya idul fitri, jauh dari sinyal peradaban komunikasi modern, minimnya aliran listrik untuk pergerakan elektron, dan berada di tengah perkebunan kopi, serta autentisitas hubungan manusia dengan alam, akan memberikan dorongan suatu pencerahan yang berbeda.

Disaat beberapa teman saya sudah duluan kembali ke Jakarta atau Bandung, pemikiran untuk tetap tinggal disana mulai goyah. Meskipun orang tua sudah cukup santai dengan apapun keputusan saya dalam melangkah ke depan (baca : terbiasa menghadapi yang keras kepala hahaha), tetapi seiring berjalannya waktu, mulai lah terpikirkan oleh saya untuk kembali di hari lebaran. Ditambah oleh bos saya waktu itu yang menelpon dengan sinyal yang terbata-bata untuk mengajak pulang dahulu, baru setelahnya kembali lagi, perlahan-lahan saya mulai tidak semakin nyaman jika menuruti kebiasaan hidup. Hingga akhirnya beberapa sebelum lebaran, saya memutuskan untuk ke Labuan Bajo di hari itu juga, dan mencari tiket untuk pulang menaiki pesawat.

Sayangnya, gunung berapi yang berada di Banyuwangi meletus. Penerbangan di beberapa bandara, termasuk di Bali, sempat dibatalkan hingga pada batas waktu yang belum ditentukan. Melalui bacaan yang saya dapat di hari itu juga, pariwisata sempat ketar-ketir. Dan itu efeknya pun harus saya rasakan, karena saya harus memutuskan dengan segera, apakah menunggu kabar bandara bisa dioperasikan lagi atau menaiki kapal. Kondisi laut sendiri sedang sangat tidak baik pada waktu itu, karena gelombang di sekitar kepulauan sunda kecil sedang sangat tidak stabil. Sehingga dalam beberapa jam kedepannya, saya mendapatkan kabar bahwa sangat mungkin kapal yang berangkat pada hari itu akan jadi terakhir, dalam 10 hari kedepan. Dalam arti kata, jika saya melewati kapal hari itu dan bandara masih tidak bisa dioperasikan juga dalam seminggu kedepan, saya tidak akan berlebaran di Bandung.

Akhirnya saya menaiki kapal, bersama seorang teman yang baru saya kenal di pedalaman. Di dalam kapal, berbagai latar belakang campur aduk. Ada warga lokal yang sekedar berpindah kota mengunjungi keluarga atau juga lebaran, ada wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara yang juga terjebak bencana alam, dan ada juga yang membawa hasil perkebunan untuk dibawa ke pasar atau pengumpul. Mungkin hari yang cukup lelah, sehingga di dalamnya semua banyak yang jatuh tertidur. Lantai kapal dipenuhi oleh orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk atau kamar untuk tidur.

Rute Perjalanan Kapal dari Labuan Bajo ke Sape

Saya sendiri tidak bisa tertidur waktu itu, meskipun kepala sudah mulai sakit. Pertama, karena meninggalkan pekerjaan yang rasanya belum saya tinggalkan dengan baik. Kedua, pertemuan secara tidak sengaja dengan seorang bapak yang baru saja mengelilingi pulau flores dengan motor dan seorang pengembang bisnis tambak ikan bersama masyarakat setempat di NTB dan NTT (saya sepertinya ingin bercerita lebih detail tentang hal ini di postingan berbeda). Dan ketiga, perasaan bimbang, apakah saya sudah mengambil langkah yang benar atau tidak pada waktu itu. Apakah berlebaran di situasi dan kondisi yang familiar adalah sebuah keputusan yang tepat atau enggak.

Pada akhirnya, sesampainya di pelabuhan Sape, sekitar jam 12 malam, ada sedikit perasaan beban turun dari kapal. Sayangnya teman saya hanya tahu saya mengejar waktu untuk berlebaran, jadi tidak ada artinya saya menolak ajakan dia untuk turun, dan mencari makan dan tumpangan kendaraan menuju Bima. Saya juga masih bingung apa yang saya pikirkan dan rasakan waktu itu.

Untunglah, milky way yang terang benderang di atas pulau Sumbawa yang kering sangat melegakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo