Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (2)
Hari sudah melewati senja, tetapi gelombang laut semakin tak beraturan. Mungkin perubahan temperatur eksternal dari senja menuju malam mengubahnya menjadi lebih ganas. Tidak ada lagi tawa riang gembira dan pandangan kagum dari turis karena melihat keindahan alam kepulauan Sunda Kecil. Beberapa penumpang kapal sudah tidak tahan lagi untuk menahan muntah. Terlihat di beberapa antara mereka yang sudah bolak-balik menuju kamar mandi. Kalaupun yang bisa bertahan menahan gejolak perut, lebih baik tidur seperti teman saya yang sudah terlelap sejak awal perjalanan. Alam menunjukkan kelasnya untuk yang bersikap sombong.
Karena sedang menghadapi dua gejolak alam secara sekaligus, gunung di Banyuwangi yang meletus dan gelombang laut yang sedang ganas, sepertinya para turis tersebut akhirnya suatu hal, bahwa terkadang keindahan itu mematikan. Terutama mungkin untuk segerombolan bule yang terpaksa ikut mengisi kapal ini hingga hampir sesak. Saya rasa ekspektasi mayoritas dari mereka ketika masih di negaranya mengenai Indonesia tidak seperti ini.
Dan saya sendiri masih dengan kepala yang sakit karena memikirkan banyak hal bersama Pak Yasin yang sepertinya berusaha menenangkan emosinya setelah debat hingga sedikit ribut dengan pemuda tadi. Teman bapak ini juga sedang berjalan-jalan mengitari kapal. Mungkin mencari ruang untuk merokok.
"Pak, saya jadi tertarik, bapak sudah kemana aja road trip di Flores?" Saya kembali membuka obrolan sambil mengambil pisang di meja.
"Kebanyakan berjalan di sekitar jalan pantai utara aja, Mas. Tetapi sesekali saya sempat turun ke selatan, terutama ingin mengejar sunrise di danau Kelimutu. Sebentar, diambil dulu hp saya."
Setelah smartphone dihidupkan, beliau bercerita , "Nah ini pemandangan di sekitar jalur pantai utara. Saya start dari Maumere (saya lupa awal permulaan perjalanan Pak Yasin). Nah ini kemudian lagi foto-foto selama di Bajawa. Dan ini .juga ..."
Saya lupa dengan detail alur perjalanan beliau, tapi saya bisa pastikan bapak ini bercerita dengan semangat tentang yang beliau lihat dan rasakan selama melewati tempat-tempat tersebut.
"Terdengar sangat seru, Pak."
"Alhamdullillah. Negara Indonesia ini indah, cuma kadang kita tidak mendorong diri untuk memahami lebih jauh. Atau juga ya memang tidak punya kesempatan. Saya itu dari dulu sudah ingin mengelilingi pulau ini dengan motor. Sudah dari dulu ingin banget, tapi tidak kesampaian. Padahal kerjaan saya banyak di sekitar pulau ini. Mas juga, cobain lah sekali waktu, mumpung muda."
"Waduh, kalau digituin saya jadi sangat kepikiran pak."
Saya sedikit merenung, dan kemudian melanjutkan, "Sangat ingin bahkan, Pak. Pertama kali kepikirannya waktu saya pertama kali proyek ke Waerebo, sekitar tahun 2012. Itu adalah pertama kalinya saya keluar pulau selain Jawa dan Sumatera. Yang dilihat sangat beda. Tidak ada jalanan dan listrik selancar di Jawa atau Sumatera, tetapi disitu juga budaya yang masih dijaga. Bukan berarti mereka tidak boleh mendapatkan listrik atau jalan. Bukan begitu yang saya maksud. Tapi karena mungkin belum dihadapkan langsung dengan peradaban yang terkadang tidak mau melihat budaya lokal, autentiknya masih kejaga. Makanya setelah balik ke Bandung, saya jadi ingin ke pedalaman lagi lebih sering. Atau ya tidak mesti pedalaman juga mungkin pak. Tetapi sesuatu yang belum pernah saya rasakan. Mungkin jiwa eksplorasi anak mudanya jadi kebuka ya Pak?"
"Mungkin, bisa jadi begitu. Tapi bagus itu, bagus. Harus itu Mas. Masih muda, daripada menyesal nantinya."
"Ya begitu deh Pak. Saya juga kepikiran posisi bapak, udah lama disini, tapi sadar banyak yang belum dilihat. Perjalanannya berapa lama kemarin, Pak?"
"Kalau tidak salah saya sekitar kurang lebih satu bulan. Saya lupa persisnya, karena mungkin saya tidak memperhatikan kalender sebegitunya."
"Teman kerja atau nelayan tidak nyariin Pak?" Ini adalah pertanyaan klasik untuk para penjelajah. Kecuali mereka yang memang ditugaskan oleh kerajaan untuk mengeksplorasi dunia baru, atau oleh perusahaan atau lembaga untuk dinas, atau para influencer sosial media.
"Mereka ada yang tetap mencari. Sampai menelpon atau whatsapp juga selama saya di perjalanan. Tapi karena sistem yang dibangun juga sudah stabil saat ini, jadi mungkin sudah agak enak saya tinggal. Walau kadang terpikir juga selama naik motor."
"Oh begitu. Saya sepertinya mengerti sih Pak. Saya juga sekarang kepikiran belum ngelanjutin tugas akhir. Walau jatuhnya yang saya kerjakan adalah pekerjaan, tapi kewajiban lain saya tinggal."
"Dosen tidak menyari?"
"Mencari, tapi tidak terlalu memaksa sepertinya, Pak. Setelah dapat sinyal lebih lancar, whatsapp masuk paling banyak dari ibu saya atau teman satu proyek. Ada satu atau dua orang teman kuliah menanyakan, tapi mungkin karena mereka sadar saya keras kepala juga, jadi ya mungkin itu juga mereka tidak terlalu sering nanya kabar saya."
"Hmm oke. Tapi ada mengniatkan lulus?"
"Belum tau sepertinya Pak. Saya lebih tertarik melihat hal seperti ini, atau juga jalan-jalan kayak Bapak. Hahaha."
"Hahaha. Semoga terbaik saja. Dimakan lagi pisangnya, Mas."
"Siap Pak."
Karena sedang menghadapi dua gejolak alam secara sekaligus, gunung di Banyuwangi yang meletus dan gelombang laut yang sedang ganas, sepertinya para turis tersebut akhirnya suatu hal, bahwa terkadang keindahan itu mematikan. Terutama mungkin untuk segerombolan bule yang terpaksa ikut mengisi kapal ini hingga hampir sesak. Saya rasa ekspektasi mayoritas dari mereka ketika masih di negaranya mengenai Indonesia tidak seperti ini.
Dan saya sendiri masih dengan kepala yang sakit karena memikirkan banyak hal bersama Pak Yasin yang sepertinya berusaha menenangkan emosinya setelah debat hingga sedikit ribut dengan pemuda tadi. Teman bapak ini juga sedang berjalan-jalan mengitari kapal. Mungkin mencari ruang untuk merokok.
"Pak, saya jadi tertarik, bapak sudah kemana aja road trip di Flores?" Saya kembali membuka obrolan sambil mengambil pisang di meja.
"Kebanyakan berjalan di sekitar jalan pantai utara aja, Mas. Tetapi sesekali saya sempat turun ke selatan, terutama ingin mengejar sunrise di danau Kelimutu. Sebentar, diambil dulu hp saya."
Setelah smartphone dihidupkan, beliau bercerita , "Nah ini pemandangan di sekitar jalur pantai utara. Saya start dari Maumere (saya lupa awal permulaan perjalanan Pak Yasin). Nah ini kemudian lagi foto-foto selama di Bajawa. Dan ini .juga ..."
Saya lupa dengan detail alur perjalanan beliau, tapi saya bisa pastikan bapak ini bercerita dengan semangat tentang yang beliau lihat dan rasakan selama melewati tempat-tempat tersebut.
"Terdengar sangat seru, Pak."
"Alhamdullillah. Negara Indonesia ini indah, cuma kadang kita tidak mendorong diri untuk memahami lebih jauh. Atau juga ya memang tidak punya kesempatan. Saya itu dari dulu sudah ingin mengelilingi pulau ini dengan motor. Sudah dari dulu ingin banget, tapi tidak kesampaian. Padahal kerjaan saya banyak di sekitar pulau ini. Mas juga, cobain lah sekali waktu, mumpung muda."
"Waduh, kalau digituin saya jadi sangat kepikiran pak."
Saya sedikit merenung, dan kemudian melanjutkan, "Sangat ingin bahkan, Pak. Pertama kali kepikirannya waktu saya pertama kali proyek ke Waerebo, sekitar tahun 2012. Itu adalah pertama kalinya saya keluar pulau selain Jawa dan Sumatera. Yang dilihat sangat beda. Tidak ada jalanan dan listrik selancar di Jawa atau Sumatera, tetapi disitu juga budaya yang masih dijaga. Bukan berarti mereka tidak boleh mendapatkan listrik atau jalan. Bukan begitu yang saya maksud. Tapi karena mungkin belum dihadapkan langsung dengan peradaban yang terkadang tidak mau melihat budaya lokal, autentiknya masih kejaga. Makanya setelah balik ke Bandung, saya jadi ingin ke pedalaman lagi lebih sering. Atau ya tidak mesti pedalaman juga mungkin pak. Tetapi sesuatu yang belum pernah saya rasakan. Mungkin jiwa eksplorasi anak mudanya jadi kebuka ya Pak?"
"Mungkin, bisa jadi begitu. Tapi bagus itu, bagus. Harus itu Mas. Masih muda, daripada menyesal nantinya."
"Ya begitu deh Pak. Saya juga kepikiran posisi bapak, udah lama disini, tapi sadar banyak yang belum dilihat. Perjalanannya berapa lama kemarin, Pak?"
"Kalau tidak salah saya sekitar kurang lebih satu bulan. Saya lupa persisnya, karena mungkin saya tidak memperhatikan kalender sebegitunya."
"Teman kerja atau nelayan tidak nyariin Pak?" Ini adalah pertanyaan klasik untuk para penjelajah. Kecuali mereka yang memang ditugaskan oleh kerajaan untuk mengeksplorasi dunia baru, atau oleh perusahaan atau lembaga untuk dinas, atau para influencer sosial media.
"Mereka ada yang tetap mencari. Sampai menelpon atau whatsapp juga selama saya di perjalanan. Tapi karena sistem yang dibangun juga sudah stabil saat ini, jadi mungkin sudah agak enak saya tinggal. Walau kadang terpikir juga selama naik motor."
"Oh begitu. Saya sepertinya mengerti sih Pak. Saya juga sekarang kepikiran belum ngelanjutin tugas akhir. Walau jatuhnya yang saya kerjakan adalah pekerjaan, tapi kewajiban lain saya tinggal."
"Dosen tidak menyari?"
"Mencari, tapi tidak terlalu memaksa sepertinya, Pak. Setelah dapat sinyal lebih lancar, whatsapp masuk paling banyak dari ibu saya atau teman satu proyek. Ada satu atau dua orang teman kuliah menanyakan, tapi mungkin karena mereka sadar saya keras kepala juga, jadi ya mungkin itu juga mereka tidak terlalu sering nanya kabar saya."
"Hmm oke. Tapi ada mengniatkan lulus?"
"Belum tau sepertinya Pak. Saya lebih tertarik melihat hal seperti ini, atau juga jalan-jalan kayak Bapak. Hahaha."
"Hahaha. Semoga terbaik saja. Dimakan lagi pisangnya, Mas."
"Siap Pak."
Komentar
Posting Komentar