Budaya Inovasi Beserta Tetek Bengeknya
Salah satu artikel dari Harvard Business Review yang berjudul "Stop Calling It Innovation" cukup membuat saya berpikir sedikit dalam. Secara personal, saya pribadi adalah seseorang yang senang mengeksplorasi hal-hal baru (hal yang mendorong saya menulis di blog tiap hari juga), sehingga acara, artikel, youtube's chanel, atau dokumenter yang berhubungan dengan inovasi biasanya akan menarik perhatian saya dengan mudah. Tayangan yang biasanya saya tonton adalah DW Inovator dan Big Circle di Metro TV, serta tak terhitung jumlahnya dokumenter dari NatGeo. Bahkan, dulu sekitar tahun 2015-16, saya sering terpikirkan ide baru dan menuliskannya dalam dokumen excel.
Tetapi artikel tersebut, yang ditulis oleh Nadya Zhexembayeva, yang sebenarnya mempunyai latar belakang sebagai pendiri konsultan untuk membantu perusahaan berinovasi, sebuah kata "inovasi" saja akan menimbulkan masalah. Respon yang akan sering muncul adalah keluhan akan bertambahnya tanggung jawab yang harus diemban oleh perusahaan atau pegawai di dalamnya, bahkan bisa kehilangan pekerjaan. Meskipun begitu banyak literatur yang berbicara mengenai inovasi, ternyata ada banyak cerita yang harus dilalui ketika diimplementasikan. Berdasarkan riset secara global yang dilakukan oleh PWC, membangun budaya inovatif berada di antara 3 puncak teratas sebagai perhatian dari 740 CEO.
Data yang ditunjukan oleh riset dari University Toronto mengenai sikap seseorang terhadap inovasi menunjukan ketakutan di atas. Sementara keinginan untuk berinovasi bervariasi antara 14% hingga 28%, keinginan untuk mengambil resiko hanya maksimal di angka 19%. Dan data tersebut diambil dari dua negara yang tergolong paling terinovatif, yaitu Kanada dan Amerika Serikat.
---
Nadia menemukan penjelasan dari hasil riset Daniel Kahneman, seorang pemenang Nobel Prize, mengenai proses seseorang mengambil keputusan. Fear, fight, dan flight hampir selalu terlibat dalam di semua keputusan kita. Sehingga ketika seseorang menyebut "inovasi" dalam memaknai "perkembangan" yang diharapkan, tetapi bagi orang lain akan memaknai sebagai alarm "bahaya". Oleh karena itu, daripada membuat seseorang ketakutan dengan kata "Inovasi", dalam tulisannya Nadya menyarankan untuk mencari kata atau kalimat pengganti yang cocok dengan konteks industri dan negara, yang bisa berbicara tentang keberlanjutan dan keuntungan bersama.
---
Jika berbicara secara marko, berdasarkan tulisan Bruno Lanvin di INSEAD Knowledge, ada dua hal yang menyertai dari negara yang paing inovatif, yaitu ekonomi kuat yang menopang kegiatan inovasi, seperti AS, Cina, dan India dan ekonomi dengan beragam produk atau layanan akan lebih invofatif. Tentu tetap ada perbedaan sejarah antara kelompok berdasarkan pendapatan atau daerah. Tetapi, seperti yang terlihat di sedekade terakhir, progres signifikan sedang terjadi di Asia dan semakin mendekat ke Amerika Utara.
Tetapi artikel tersebut, yang ditulis oleh Nadya Zhexembayeva, yang sebenarnya mempunyai latar belakang sebagai pendiri konsultan untuk membantu perusahaan berinovasi, sebuah kata "inovasi" saja akan menimbulkan masalah. Respon yang akan sering muncul adalah keluhan akan bertambahnya tanggung jawab yang harus diemban oleh perusahaan atau pegawai di dalamnya, bahkan bisa kehilangan pekerjaan. Meskipun begitu banyak literatur yang berbicara mengenai inovasi, ternyata ada banyak cerita yang harus dilalui ketika diimplementasikan. Berdasarkan riset secara global yang dilakukan oleh PWC, membangun budaya inovatif berada di antara 3 puncak teratas sebagai perhatian dari 740 CEO.
Data yang ditunjukan oleh riset dari University Toronto mengenai sikap seseorang terhadap inovasi menunjukan ketakutan di atas. Sementara keinginan untuk berinovasi bervariasi antara 14% hingga 28%, keinginan untuk mengambil resiko hanya maksimal di angka 19%. Dan data tersebut diambil dari dua negara yang tergolong paling terinovatif, yaitu Kanada dan Amerika Serikat.
---
Nadia menemukan penjelasan dari hasil riset Daniel Kahneman, seorang pemenang Nobel Prize, mengenai proses seseorang mengambil keputusan. Fear, fight, dan flight hampir selalu terlibat dalam di semua keputusan kita. Sehingga ketika seseorang menyebut "inovasi" dalam memaknai "perkembangan" yang diharapkan, tetapi bagi orang lain akan memaknai sebagai alarm "bahaya". Oleh karena itu, daripada membuat seseorang ketakutan dengan kata "Inovasi", dalam tulisannya Nadya menyarankan untuk mencari kata atau kalimat pengganti yang cocok dengan konteks industri dan negara, yang bisa berbicara tentang keberlanjutan dan keuntungan bersama.
---
Jika berbicara secara marko, berdasarkan tulisan Bruno Lanvin di INSEAD Knowledge, ada dua hal yang menyertai dari negara yang paing inovatif, yaitu ekonomi kuat yang menopang kegiatan inovasi, seperti AS, Cina, dan India dan ekonomi dengan beragam produk atau layanan akan lebih invofatif. Tentu tetap ada perbedaan sejarah antara kelompok berdasarkan pendapatan atau daerah. Tetapi, seperti yang terlihat di sedekade terakhir, progres signifikan sedang terjadi di Asia dan semakin mendekat ke Amerika Utara.
Komentar
Posting Komentar