Air Mengalir

Sudah hampir 2 minggu saya lebih sering di rumah, atau bahkan di kamar. Tidak hanya disebabkan karena tidak ada tuntutan mendesak harus keluar rumah -- akan official resign dari perkejaan sebelumnya di tanggal 1 April dan kegiatan komunitas dihentikan --, tetapi juga saat ini saya sedang mengambil langkah mundur untuk meresapi semua hal. Momen yang sangat pas dengan merebaknya pandemik Corona.

Rutininitas harian saya saat ini yang syukurnya sudah bisa dilakukan adalah belajar bahasa Esperanto, menulis blog, dan workout setiap hari. Kegiatan yang masih sering bolong yang tidak sesuai harapan frekuensinya adalah bangun tidur dini hari, menonton film, online course, kembali belajar bahasa Inggris untuk persiapan program master, membaca buku, serta memberi fokus lebih untuk menata ulang spiritual. Meski begitu, saya berusaha tidak terlalu keras ke diri sendiri, sehingga dengan lebih mudah meresapi semua yang sedang atau akan dilakukan.

Mencoba bergerak seperti air yang mengalir.

Dan ada alasannya saya harus mencoba bergerak seperti itu.

Dalam hidup, secara pribadi memang lebih nyaman bergerak dengan hal yang terukur, dan jelas melangkah seperti kemana kedepannya dan tujuannya, serta dengan reasoning yang bisa diterima. Orang-orang sekitar biasa mengatakan saya ini cukup keras. Terlihat dalam berinteraksi, berorganisasi, atau juga hal yang ingin dicapai di masa depan. Mungkin ini dasar alasan salah satu teman waktu kuliah dan bersama-sama berorganisasi di kepanitiaan terpusat mengatakan bahwa I was born to be a leader.

Suatu sikap yang baik, saya yakin tentang hal itu, tetapi tidak setelah melewati satu titik. Titik ini adalah dimana hal yang sebenarnya langkah yang bermanfaat, akan berbalik menjadi sebaliknya. Cerita yang sama juga akan terjadi sebaliknya. Dan pengalaman mendorong saya untuk semakin yakin akan titik itu. Dalam keadaan mendesak, bapak polisi harus melakukan langkah keras ke pelanggar hukum kan?

Inilah yang berusaha dijelaskan oleh yin - yang. Bagaimana hal baik dan buruk saling berkaitan, dan mereka akan saling membangun meskipun saling berlawanan. Atas dasar itu juga, ketika ekspektasi tidak sesuai, ada kalanya perlu memberi ruang kepada pemahaman bahwa tidak semua harus dikendalikan atau bahkan mungkin bisa lebih buruk, dipaksakan sesuai yang diinginkan. Akan selalu ada karma baik dan karma buruk yang menanti di setiap persimpangan aliran air.

Sesekali biarkan air mengalir, karena jika tidak, bendungan akan hancur atau banjir besar terjadi. Kalau butuh referensi, perhatikan saja Bruce Wayne di film The Dark Knight. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo