Over Buying Karena Virus Corona
Dua hari terakhir menjadi ledakan pembelian di supermarket, pasar, atau minimarket. Pemicunya adalah statement dari presiden Jokowi mengenai dua orang yang dikonfirmasi telah terserang virus Corona. Meskipun jajaran pemerintah sudah meminta kepada masyarakat untuk tidak panik menghadapi keadaan pademik Covid-19, tetapi asumsi yang sudah berkembang tidak terkontrol yang mengarah ketakutan dan kepanikan, membuat perilaku over buying menjadi sesuatu yang seharusnya bisa diperkirakan akan terjadi. Barang-barang yang banyak dibeli adalah masker, hand sanitizer, dan sembako. Khusus untuk masker, barang ini sudah mengalami peningkatan pembelian beberapa minggu sebelum pengumuman.
Over buying tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Australia, di negara yang dikatakan mempunyai tingkat pendidikan lebih baik dari Indonesia, dilaporkan oleh ABC, ketakutan akan wabah yang akan terjadi menyebabkan merebaknya over buying dimana-mana. Bahkan dalam laporan berita tersebut, salah narasumber bahkan menyebutkan "seperti kiamat akan terjadi". Hal-hal seperti ini kalau tidak salah saya dalam ilmu ekonomi sering dibahas dalam "Psikologi Pasar".
Tentang hal ini tentu masyarakat harus memperhatikan respon mereka dalam menghadapi krisis. Perilaku over buying ini akan mengarah ke over consumption akan tidak sehat dalam jangka panjang. Selain faktor inflasi, dimana ketersediaan tidak bisa memenuhi demand pasar, sehingga memicu persaingan harga untuk mendapatkan barang yang "diinginkan", tetapi juga kesenjangan sosial yang secara tidak langsung akan terjadi. Hanya yang mempunyai kelebihan uang yang bisa membeli. Selain itu, harus diingat juga, kemampuan rumah tangga masyarakat dalam menyimpan bahan makanan, terutama bahan makanan yang butuh mesin pendingin.
Pemerintah Indonesia dalam hal ini juga harus dievaluasi dalam kontribusinya menyebabkan kepanikan. Dimulai dari transparansi dan komunikasi pemerintah yang sudah menjadi catatan sejak periode pertama Presiden Jokowi, kemudian berlanjut kepada kurang adanya persiapan mitigasi yang matang dalam menghadapi wabah yang sedang merebak, problem public relation yang bermasalah dari kementrian kesehatan, abainya reminder dari negara tetangga dan WHO untuk jangan terlalu menggampangkan situasi dan kondisi dan juga rapat terbatas kabinet yang justru terlalu berfokus mengenai ekonomi dan pariwisata, dibanding mengenai mitigasi bencana itu sendiri. Asumsi, ketakutan, kepanikan, dan stigma menjadi semakin berkembang, dan menjadi tak terkendali. Puncak gunung es dari semua ini adalah paniknya pembelian bahan baku. Saya memperkirakan, ada puncak gunung es lainnya yang akan timbul setelah ini.
Ngomong-ngomong, kapan negara ini bisa fokus untuk memikirkan mitigasi ya? Tidak perlu sampai dibuat SK atau UUnya, mindset saja terlebih dahulu dibenahi. Saya pikir di bencana alam saja ketidaksiapan itu terjadi, ternyata di bencana non alam pun juga seperti ini. Kapan ya? Bukannya pepatah orang lama mengajarkan "lebih baik mencegah daripada mengobati"?

Komentar
Posting Komentar