Realitas yang Terlewatkan

Giorgio Chiellini, kapten tim sepak bola Juventus dan berkewarganegaraan Italia, beberapa hari lalu berbicara tentang Covid-19 kepada Webathon.it, yang diterjemahkan oleh media online Football Italia. Dalam dunia sepakbola yang semakin cepat, Chiellini berpikir terkadang sedang kehilangan realitas, di dalam dunianya yang berharga. Dan Covid-19 mengubah waktu yang sedang kosong untuk dihabiskan lebih banyak dengan putrinya.

"Our world is golden and sometimes you lose touch with reality. Now I'm in isolation on my own and can't wait to pass time with my daughters."

Chiello, panggilan populernya oleh fans Juventus, pun menambahkan, "We are active, compliments of initiative. We are all locked in the house and we try to ease the time for many people without forgetting to help the health system that is experiencing a difficult moment and needs us. This is a challenge that we must overcome together, there is no loyalty to one team or another. I'm a person who communicates better through gestures than words. It will be strange not to able to do it these days, but in a few months, we will enjoy it even more, when we know it has an important meaning."

Chiello juga berbicara mengenai refleksi hidupnya sebagai pesepakbola profesional dan bagaimana hal tersebut membantunya melewati keadaan pandemik, "I improved when I grew up, because when I was younger it wasn't like that. I smoothed out aspects of my character, finding balance. When you are tense for a lot of the time, you bring out a side that you need to surpass, but I believe that you will slowly find the balance with time."

Bagaimana saya memaknai hal ini?
---

Beberapa hari lalu saya bercerita di blog tentang bagaimana pandemik akan mengubah kebiasaan hidup, terlepas apakah kebiasaan tersebut adalah sesuatu yang baik atau tidak. Jika sekiranya baik, setelah krisis pandemik ini, tentu tetap bagus jika kebiasaan tersebut dilanjutkan.

Tetapi bagaimana tentang realitas?

Chiello bercerita betapa cepatnya perkembangan sepak bola selama ini hingga beberapa kali melupakan dia akan kondisi sekitar, termasuk putrinya. Tetapi juga lewat sepak bola, karakternya yang terbentuk bertahun-tahun, akan membantunya melewati masa krisis. Pemahaman Chiello agak sedikit kontradiktif kah?

Atau sebenarnya yang dia maksud tentang kecepatan dia bergerak dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang tidak sesuai dengan ekspektasi yang dia butuhkan? Dalam arti kata, sudah jelas sepak bola mengembangkannya dalam hidup sebagai seorang manusia. Tetapi ketika kecepatan kehidupannya sehari-hari sebagai seorang pesepakbola menjadi tidak tepat dengan kebutuhan yang sebenarnya, dia akan mengabaikan atau bahkan melupakan realitas yang sebenar yang sebenarnya. Mungkinkah itu yang Chiello maksud?

Jika begitu yang Chiello maksud, mungkin itulah hal berguna lainnya dari pandemik corona ini : mengubah kebiasaan hidup untuk melihat realitas yang terlewatkan.

Komentar