Sopir Angkot, Anjing Mati, dan Anak Kecil Ketabrak
Kemarin hari saya mempunyai obrolan yang cukup nyambung dengan supir angkot Caheum-Ledeng. Saya sedang dalam perjalanan dari Setiabudi menuju daerah Pelisiran, setelah malam sebelumnya menginap di rumah kenalan selama berorganisasi dulu yang cukup dekat, untuk bertemu teman kuliah selama seharian penuh. Ketika naik, saya adalah satu-satunya penumpang dalam angkot tersebut dan duduk di kursi depan.
Sedang bersantai mendengarkan lagu di Spotify, sopir angkot ini tiba-tiba menyeletuk, "Ada orang minta tolong dibawain anjing mati ke rumah sakit."
"Oh ya kang?" Saya sepertinya lagi sedang ingin bebas ngobrol dengan siapapun dan tentang apapun.
"Iya. Saya langsung ragu, soalnya takut bau nanti angkotnya. Ini baru pagi, enggak sempat buat bersih-bersih."
"Tapi orangnya mau bayar lebih kang? Atau ongkosnya segitu-gitu aja?" Lagu sudah dimatikan dan headset pun dilepas.
"Enggak tau juga, orangnya enggak ngomong mau bayar berapa. Cuma saya udah mikir takut gak enak aja ntar bau angkotnya."
"Ooh begitu."
"Tapi mungkin kalau bayarnya lebih mungkin saya mau sih."
"Salah yang punya anjing juga berarti ya kang, kan orang jadi mikir-mikir banget juga kan kalau ingin membantu."
"Ya begitulah."
Sejenak diam untuk sementara.
"Tiba-tiba saya jadi keingat, dulu waktu naik angkot pernah nabrak anak kecil di jalan. Terus sopir angkotnya langsung panik, terus minta kita yang di dalam langsung turun semua."
"Ohya dimana?"
"Dulu udah lama pisan kang, waktu masih di Padang. Kayaknya antara kelas 1 atau 2 SD."
"Lama pisan euy."
"Yang pasti sih waktu itu saya dan sepupu diantarkan oleh siapa gitu, lupa juga siapa orangnya. Waktu sampai kelas 2, saya masih diantarin ke sekolah. Terus tiba-tiba ketika ditengah perjalanan, ada suara keras banget "Bugg!!" dari depan mobil. Penumpang di mobil awalnya pada bingung kenapa, karena mungkin tidak terlalu memerhatikan jalan ke depan. Kayaknya sekitar setelah 5 menit, tiba-tiba sopirnya ngomong dengan panik meminta kita untuk turun dan naik angkot temannya, karena ingin mengantarkan anak kecil yang ketabrak. Seketika itu juga kami langsung turun dan naik angkot temannya. Besoknya, ketika melewati jalan yang sama, ada bendera kuning berkibar di pinggir jalan."
"Wah seram juga ya."
"Ya gak tau juga ya kang, seram atau enggaknya, soalnya saya juga gak tau persis muka anaknya seperti apa. Selain karena langsung naik angkot temannya, tubuh anaknya juga udah ditutupi kertas koran. Cuma ternyata masih keingat aja karena akang cerita."
"Iya ya. Tapi ya anak-anak kadang suka begitu ya. Di jalan raya mereka suka lari-lari atau kadang main bola."
"Ya begitulah kang. Tapi kadang kalau hanya nyalahin mereka, bingung juga."
"Mau kuliah?" Sepertinya sopir angkot berusaha mengalihkan pembicaraan.
Entah obrolannya yang mulai berat atau memerhatikan jalan raya yang hampir kosong karena efek dari Covid-19, saya tidak paham. Tapi saya rasa saya setuju kalau lebih baik pagi itu dihabiskan untuk mengobrol hal simpel saja.
Sedang bersantai mendengarkan lagu di Spotify, sopir angkot ini tiba-tiba menyeletuk, "Ada orang minta tolong dibawain anjing mati ke rumah sakit."
"Oh ya kang?" Saya sepertinya lagi sedang ingin bebas ngobrol dengan siapapun dan tentang apapun.
"Iya. Saya langsung ragu, soalnya takut bau nanti angkotnya. Ini baru pagi, enggak sempat buat bersih-bersih."
"Tapi orangnya mau bayar lebih kang? Atau ongkosnya segitu-gitu aja?" Lagu sudah dimatikan dan headset pun dilepas.
"Enggak tau juga, orangnya enggak ngomong mau bayar berapa. Cuma saya udah mikir takut gak enak aja ntar bau angkotnya."
"Ooh begitu."
"Tapi mungkin kalau bayarnya lebih mungkin saya mau sih."
"Salah yang punya anjing juga berarti ya kang, kan orang jadi mikir-mikir banget juga kan kalau ingin membantu."
"Ya begitulah."
Sejenak diam untuk sementara.
"Tiba-tiba saya jadi keingat, dulu waktu naik angkot pernah nabrak anak kecil di jalan. Terus sopir angkotnya langsung panik, terus minta kita yang di dalam langsung turun semua."
"Ohya dimana?"
"Dulu udah lama pisan kang, waktu masih di Padang. Kayaknya antara kelas 1 atau 2 SD."
"Lama pisan euy."
"Yang pasti sih waktu itu saya dan sepupu diantarkan oleh siapa gitu, lupa juga siapa orangnya. Waktu sampai kelas 2, saya masih diantarin ke sekolah. Terus tiba-tiba ketika ditengah perjalanan, ada suara keras banget "Bugg!!" dari depan mobil. Penumpang di mobil awalnya pada bingung kenapa, karena mungkin tidak terlalu memerhatikan jalan ke depan. Kayaknya sekitar setelah 5 menit, tiba-tiba sopirnya ngomong dengan panik meminta kita untuk turun dan naik angkot temannya, karena ingin mengantarkan anak kecil yang ketabrak. Seketika itu juga kami langsung turun dan naik angkot temannya. Besoknya, ketika melewati jalan yang sama, ada bendera kuning berkibar di pinggir jalan."
"Wah seram juga ya."
"Ya gak tau juga ya kang, seram atau enggaknya, soalnya saya juga gak tau persis muka anaknya seperti apa. Selain karena langsung naik angkot temannya, tubuh anaknya juga udah ditutupi kertas koran. Cuma ternyata masih keingat aja karena akang cerita."
"Iya ya. Tapi ya anak-anak kadang suka begitu ya. Di jalan raya mereka suka lari-lari atau kadang main bola."
"Ya begitulah kang. Tapi kadang kalau hanya nyalahin mereka, bingung juga."
"Mau kuliah?" Sepertinya sopir angkot berusaha mengalihkan pembicaraan.
Entah obrolannya yang mulai berat atau memerhatikan jalan raya yang hampir kosong karena efek dari Covid-19, saya tidak paham. Tapi saya rasa saya setuju kalau lebih baik pagi itu dihabiskan untuk mengobrol hal simpel saja.
Komentar
Posting Komentar