Momen Baik Juventus di Tengah Pandemik

Pandemik Covid-19 berdampak ke hampir semua lapisan dunia. Di Amerika, diskursus publik mengenai pelayanan kesehatan yang tidak ramah bagi masyarakat kelas menengah ke bawah kembali menguak, tidak hanya didorong oleh pemilu presiden yang sudah mendekat. Perkembangan dunia manufaktur di Cina, khususnya Wuhan, yang menjadi sentra bagi beberapa produksi spare part, menjadi terhambat. Efek dominonya adalah industri di beberapa belahan dunia yang membutuhkan supply murah dari Cina pun mengalami perlambatan produksi. Di dunia olahraga pun sudah turnamen atau pertandingan dibatalkan, demi menghindari berkumpulnya banyak orang, sehingga menyebarkan virus Corona jauh lebih luas. Komite Olimpiade sekalipun juga sudah mengambil sikap. Jika dalam beberapa bulan ke depan pandemik ini masih terlihat tidak bisa dikontrol, maka Olimpiade 2020 di Jepang akan dibatalkan.

Tetapi khusus bagi Juventini, sepertinya perkembangan pandemik virus Corona harus sedikit disyukuri. Mungkin ini terkesan cocoklogi tanpa dasar yang kuat, tetapi hari ini Juventus menang meyakinkan di Derby D'Italia melawan musuh bebuyutan Inter Milan yang kembali menemukan performanya di musim ini di bawah naungan manajemen yang baru dan pelatih "pengkhianat" Antonio Conte. Kemenangan ini tidak hanya mengambil alih posisi puncak klasemen sementara Serie-A dari Lazio, tetapi juga secara permainan cukup memuaskan bagi penonton.

Dari postingan sosial media para pemain dan jajaran pelatih pun terlihat cukup bangga dengan performa kemenangan ini. Pesan tambahanpun sudah diberikan kepada para pesaing, terutama Inter Milan yang harapannya sedang naik, bahwa Juventus dan tetap akan berusaha mempertahankan kekuasaan di sepakbola meski sudah meraih scudetto selama 9 kali berturut-turut. Hal yang cukup menggembirakan juga setelah minggu lalu Juventus dikalahkan secara hampir tidak berdaya oleh penghuni papan tengah Ligue 1 di Champions League, Olympique Lyon.

Kenapa saya berpikir pandemik Corona menjadi momen yang bisa disyukuri oleh jajaran Juventus dan Juventini? Sebagai gambaran singkat, Italia adalah negara yang mengalami dampak terbesar dari virus Corona di tanah Eropa. Terhitung pada tanggal 9 Maret 2020 di pagi hari WIB, media The Guardian mencatat kematian telah mencapai 366. Dampak kepada persepakbolaan Italia adalah tidak hanya beberapa pertandingan yang harus ditunda, tetapi beberapa pihak sudah mengutarakan saran untuk menghentikan kompetisi musim ini. Dan singkat cerita juga, pertandingan Derby D'Italia pekan 26 pun harus diadakan dalam keadaan tertutup tanpa penonton.

Sehingga, seharusnya momen seperti ini pun menjadi kesempatan bagi pelatih dan pemain untuk melihat lagi taktik, strategi, dan fisik yang digunakan dalam mengarungi kompetisi yang tersisa.
--

Banyak sekali hal positif yang bisa diambil. Pada pertandingan melawan Lyon, lini tengah benar-benar tidak berfungsi. Hal yang sebenarnya sudah lama terlihat, tetapi selama ini dilindungi oleh performa Cristiano Ronaldo yang kembali naik. Posisi playmaker di depan 2 center back yang biasa ditempati oleh Pjanic, kali ini diambil alih Bentancur. Dibantu oleh Ramsey yang berposisi sebagai mezalla dan Matuidi yang lebih mobile untuk merusak permainan lawan, stabilitas offense dan defense menjadi lebih terjaga. Bentancur juga memberikan supply bola yang lebih baik ke pinggir lapangan agar permainan lebih melebar, yang salah satunya berujung ke gol Dybala.

Hal positif lainnya adalah keluhan Maurizio Sarri mengenai kebiasaan memegang bola terlampau lama, sepertinya sudah dibenahi. Pada derby hari ini, selain menarik Pjanic yang sering menghilangkan momentum tim, tetapi juga para pemain sayap pun didorong untuk tidak berlama-lama memegang bola di pinggir lapangan. Ball handling De Ligt, Bonucci, dan Szczesny juga membantu ketika pola serangan sedikit buntu di lini tengah dan depan.

Pressure kepada tim lawan juga menjadi catatan positif yang cukup menarik. Tidak hanya Matuidi yang beberapa kali memenangkan perebutan pola dan memotong passing lawan, positioning dari lini depan dan bek sayap cukup membuat pemain Inter Milan sedikit kalang kabut. Hal yang semakin positif ketika berhadapan Conte, karena pelatih ini tidak terbiasa untuk mempunyai back-up plan ketika pertandingan tidak sesuai dengan harapan.
--

Pandemik Corona memang membuat stabilitas dunia sedikit tidak beraturan. Mungkin ada sedikit keberuntungan karena pandemik ini tidak mematikan pendahulunya seperti MERS atau SARS, atau juga yang disebabkan HIV dan Ebola. Tetapi bisa saja, layaknya The Black Death yang melahirkan renaissance di tanah eropa, diundurnya beberapa pertandingan bisa saja menjadi titik loncat bagi Juventus, jika masih ingin meraih gelar Liga Champions atau menggagalkan Antonio Conte memenangi scudetto dengan Inter Milan. Perihal apakah kompetisi masih akan berlanjut atau tidak, itu di luar kuasa mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo