Aing Mau Ngomel Corona Deui

Mendorong kebiasaan menulis satu blog per hari ini sepertinya agak sedikit menjadi bumerang. Bukan disebabkan bingung mau menuliskan apa, karena itu adalah hal biasa yang akan terjadi. Tetapi keadaan krisis virus Corona akhir-akhir ini dan respon pemerintah Indonesia cukup menyita perhatian.

Tempo hari adalah hari dimana saya tiap sebentar membuka twitter, berita online, atau juga tulisan terkait atau yang penting dibaca. Saking seringnya, ketika mengecek aplikasi screen time pada sekitar jam 4 sore, saya sudah membuka twitter hampir 4 jam kemarin. Belum terhitung dari jam lainnya untuk membaca artikel atau menonton video. Kekacauan akibat penanganan Corona di Indonesia cukup membuat saya muak. Beruntung, final All England berhasil menarik perhatian saya, seenggaknya sejam setengah jam sebelum dimulai.

Hal pertama yang mengganggu adalah tiada langkah kongkrit yang benar dari pemerintah pusat hingga saat ini. Meskipun memaksa alur informasi dan kebijakan harus dari pemerintah pusat, tetapi tidak ada langkah yang benar terukur dan bisa diimplementasikan hingga tataran lokal. In big picture, problem seperti ini sedikit bisa dibilang klasik, mengingat negara ini yang sangat sentralistik, dimulai dari zaman Soekarno dan diperkuat oleh Soeharto, dengan bantuan pemikiran dan strategi Ali Moertopo. Sayangnya, pola seperti ini sangat beresiko di krisis pademik.

Langkah yang sangat tidak konkrit ini semakin memancing banyak pertanyaan, ketika presiden lebih memilih bekerja sama dengan BIN, daripada memperkuat laboratorium di daerah dan melakukan transparansi data mengenai perkembangan penyebaran di Indonesia. Pendekatan militerisme begitu terasa dalam menghadapi krisis. Sayangnya, seharusnya militer pun tau, di perang-perang yang sudah terjadi, kepanikan juga muncul dari informasi yang tidak memadai. At least, tidak ada yang menanyakan nama pengidap Corona kan?

Kedua adalah langkah para buzzer pemerintah yang masih berusaha mengambil kontrol narasi di ranah publik. Bahkan bentuk seperti ini pun didorong oleh pemerintah dengan menganggarkan 72 miliar, kepada para influencer. Meskipun dengan alasan untuk menggenjot pariwisata, tetapi sayangnya, ketika proses pandemik, justru perpindahan orang ini sangat membahayakan ke depannya. Saran dari WHO pun memerintahkan negara untuk melakukan social distancing. Yang mengarahkan pertanyaan lanjutan ke pemerintah, apa yang sebenarnya menjadi tujuan pemerintah dalam 3 hingga 4 bulan ke depan?

Social Distancing

Di negara yang mayoritas muslim, pun hendaknya mendengarkan hadist ini

Ketiga adalah mungkin hanyalah puncak dari gunung es. Diumumkannya menteri perhubungan, Budi Karya Sumadi, dideteksi positif Covid-19, cukup membuat rasa sinis saya (dan sayangnya kebanyakan warganet juga) semakin naik. Beliau sebelumnya berkelakar dengan santai sebagai pejabat publik bahwa virus Corona tidak akan menembus orang yang makan nasi kucing. Sayangnya statement pejabat publik seperti ini bukanlah yang pertama, terutama dari menteri kesehatan sendiri. Untungnya, sampai sekarang, hanya Budi Karya yang mengalami batunya. Tidak tahulah ke depannya bakal seperti apa.

Keempat adalah juga bagian puncak gunung es, sayangnya membangkitkan rasa amarah. Berbedanya informasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah Jawa Barat mengenai pasien yang meninggal di Cianjur. Siapa yang bohong? Saya sudah termakan rasa amarah saya pada titik ini.

Mungkin ada positifnya dengan keadaan seperti ini. Negara yang begitu sentralisitik ini mengalami batunya pada momen pademik.

Ya cukuplah. Kekesalan saya tentang pemerintah mengenai pandemik mudah-mudahan keluar banyak di tulisan ini. Sedikit merasa bersalah timeline twitter saya dalam beberapa minggu terakhir habis berisi omelan tentang ini. Semoga bisa diam dalam beberapa minggu ke depan.

Komentar