[Copas Tulisan] Kacamata Kuda Zero Run-Off oleh Dr. Heri Andreas, S.T., M.T.
* Di waktu ke depan, sepertinya saya beberapa kali akan menyebarkan artikel atau pandangan yang bermanfaat dan menarik untuk disebarkan ke orang banyak. Selain untuk mendorong rutinitas saya untuk mengisi blog, dalam pandangan pribadi, ada banyak tulisan bagus yang sayang sekali jika tidak diketahui oleh orang banyak. Sebagai contoh, di tulisan yang saya bagikan di bawah ini, kehidupan perkotaan yang semakin padat penduduk dan industri, akan mendorong sebuah pertanyaan, sejauh apa kemampuan alam untuk menopangnya?
Dalam beberapa bulan terakhir, banjir besar Jakarta menguasai diskusi akar rumput, baik di media sosial maupun media yang tersebar. Dalam kacamata saya mengenai pembangunan, pola pembangunan di Jakarta makin marak berkembang di kota-kota lainnya di Indonesia, termasuk di kota tempat saya tinggal sekarang, Bandung, dan kota tempat saya tumbuh kembang, Padang. Dengan demikian, pandangan dari Pak Heri Andreas berikut cukup penting untuk dipelajari bersama-sama.
---
Siklus hidrologi atau siklus air secara sederhana diartikan sebagai perputaran air di Alam sekitar kita ini, dimana air menguap dari daratan dan laut ke udara, kemudian kembali lagi sebagian ke daratan berupa hujan, dimana sebagiannya akan menyerap ke dalam tanah atau bumi (infiltrasi), sebagian akan mengalir di permukaan (run-off), mengalir di dalam tanah (perkolasi), dan lain-lain.
Kalau kita bilang zero run-off, maka akan selesailah siklus air seperti yang dijelaskan di atas, karena semua air katanya jadi masuk ke dalam bumi. Maka sungai menjadi tidak ada, air laut yg menguap tidak balik lagi ke laut malah masuk semuanya ke dalam bumi. Apa iya zero run-off bisa terjadi? Apa tidak melanggar ayat-ayat alam? Kalau kita bicara saklek maka zero run-off itu omong kosong.
Kalau kita tidak berbicara saklek, berhusnudzon saja, semisal kata-kata zero run-off itu hanya jargon, gimmick, atau click bait saja, dimana tujuannya untuk memaksimalkan infiltrasi, dan bisa terjadi di rumah dan sekitar lingkungan kita, pertanyaannya, ketika berbicara dilingkup spasial yang jauh lebih besar, apakah zero run-off ini menjadi realistis? Implementatif?
Apabila kita lihat contoh kasus di Jakarta, dimana pemangku kebijakan bilang bahwa solusi banjir adalah program zero run-off, yang implementasinya melalui biopori dan drainase vertikal, yang harus dilakukan seluruh warga Jakarta, apakah iya banjir akan beres?
Mari kita lihat, Jakarta bagian Utara merupakan tanah sedimen lunak yang didominasi oleh lempung yang jenuh air. Lalu tanah jenuh air tersebut diurug dan dibangun infrastruktur di atasnya, maka tanah dipastikan akan terkompaksi dan semakin jenuh akan air. Artinya akan tidak ada lagi ruang bagi air, sehingga biopori dan vertikal drainase akan menjadi sia sia. Air dimasukan ke dalam tanah akan muntah lagi kepermukaan.
Intrusi air laut di Jakarta Utara telah mencapai Kota Tua, daerah Gajahmada, Gunung Sahari, Sunter dan beberapa tempat lainnya. Dengan adanya intrusi air laut maka biopori dan dainase vertikal malah akan menyebabkan problem baru amblesan tanah yang kian menjadi.
Di bagian tengah Jakarta, gedung-gedung tinggi dibangun dengan terlebih dahulu dipadatkan tanahnya, bahkan hingga dilakukan dewatering, akhirnya terbangun gedung-gedung raksasa yang memberi beban tersendiri terhadap tanah, maka sama halnya dengan apa yang terjadi di Jakarta bagian Utara, disini juga tanah menjadi jenuh akan air. Jadi biopori dan drainase vertikal akan sia sia.
Memaksakan biopori dan drainase malah berdasarkan beberapa hasil penelitian akan memberikan problem baru bagi infrastruktur bawah permukaan seperti basement dan MRT.
Mungkin dibagian selatan Jakarta, biopori dan vertikal drainase akan efektif. Tetapi syarat bebas banjir Jakarta katanya harus seluruh warga, tidak hanya warga selatan saja. Dengan begini apa iya jadi bebas banjirnya?
Niat baik dari "click bait" zero run-off saja tidak lah cukup. Mari berfikir lebih realistis, implementatif, jangan memakai kacamata kuda. Yang ditakutkan malah niatnya saja sudah tidak baik? Wallahualam.
Dalam beberapa bulan terakhir, banjir besar Jakarta menguasai diskusi akar rumput, baik di media sosial maupun media yang tersebar. Dalam kacamata saya mengenai pembangunan, pola pembangunan di Jakarta makin marak berkembang di kota-kota lainnya di Indonesia, termasuk di kota tempat saya tinggal sekarang, Bandung, dan kota tempat saya tumbuh kembang, Padang. Dengan demikian, pandangan dari Pak Heri Andreas berikut cukup penting untuk dipelajari bersama-sama.
---
Siklus hidrologi atau siklus air secara sederhana diartikan sebagai perputaran air di Alam sekitar kita ini, dimana air menguap dari daratan dan laut ke udara, kemudian kembali lagi sebagian ke daratan berupa hujan, dimana sebagiannya akan menyerap ke dalam tanah atau bumi (infiltrasi), sebagian akan mengalir di permukaan (run-off), mengalir di dalam tanah (perkolasi), dan lain-lain.
Kalau kita bilang zero run-off, maka akan selesailah siklus air seperti yang dijelaskan di atas, karena semua air katanya jadi masuk ke dalam bumi. Maka sungai menjadi tidak ada, air laut yg menguap tidak balik lagi ke laut malah masuk semuanya ke dalam bumi. Apa iya zero run-off bisa terjadi? Apa tidak melanggar ayat-ayat alam? Kalau kita bicara saklek maka zero run-off itu omong kosong.
Kalau kita tidak berbicara saklek, berhusnudzon saja, semisal kata-kata zero run-off itu hanya jargon, gimmick, atau click bait saja, dimana tujuannya untuk memaksimalkan infiltrasi, dan bisa terjadi di rumah dan sekitar lingkungan kita, pertanyaannya, ketika berbicara dilingkup spasial yang jauh lebih besar, apakah zero run-off ini menjadi realistis? Implementatif?
Apabila kita lihat contoh kasus di Jakarta, dimana pemangku kebijakan bilang bahwa solusi banjir adalah program zero run-off, yang implementasinya melalui biopori dan drainase vertikal, yang harus dilakukan seluruh warga Jakarta, apakah iya banjir akan beres?
Mari kita lihat, Jakarta bagian Utara merupakan tanah sedimen lunak yang didominasi oleh lempung yang jenuh air. Lalu tanah jenuh air tersebut diurug dan dibangun infrastruktur di atasnya, maka tanah dipastikan akan terkompaksi dan semakin jenuh akan air. Artinya akan tidak ada lagi ruang bagi air, sehingga biopori dan vertikal drainase akan menjadi sia sia. Air dimasukan ke dalam tanah akan muntah lagi kepermukaan.
Intrusi air laut di Jakarta Utara telah mencapai Kota Tua, daerah Gajahmada, Gunung Sahari, Sunter dan beberapa tempat lainnya. Dengan adanya intrusi air laut maka biopori dan dainase vertikal malah akan menyebabkan problem baru amblesan tanah yang kian menjadi.
Di bagian tengah Jakarta, gedung-gedung tinggi dibangun dengan terlebih dahulu dipadatkan tanahnya, bahkan hingga dilakukan dewatering, akhirnya terbangun gedung-gedung raksasa yang memberi beban tersendiri terhadap tanah, maka sama halnya dengan apa yang terjadi di Jakarta bagian Utara, disini juga tanah menjadi jenuh akan air. Jadi biopori dan drainase vertikal akan sia sia.
Memaksakan biopori dan drainase malah berdasarkan beberapa hasil penelitian akan memberikan problem baru bagi infrastruktur bawah permukaan seperti basement dan MRT.
Mungkin dibagian selatan Jakarta, biopori dan vertikal drainase akan efektif. Tetapi syarat bebas banjir Jakarta katanya harus seluruh warga, tidak hanya warga selatan saja. Dengan begini apa iya jadi bebas banjirnya?
Niat baik dari "click bait" zero run-off saja tidak lah cukup. Mari berfikir lebih realistis, implementatif, jangan memakai kacamata kuda. Yang ditakutkan malah niatnya saja sudah tidak baik? Wallahualam.
Komentar
Posting Komentar