Respon Cina dan Hong Kong terhadap Virus Corona oleh Gary Liu

Jika yang membaca blog ini belum tahu, dalam seminggu terhitung dimulai dari tanggal 23 Maret, TED, platform untuk orang-orang saling berbagi dan mendengarkan ide atau pandangan, membuat program diskusi harian yang bisa diakses secara live streaming. Program ini tentu saja berkaitan dengan pandemik Corona, sehingga diberi judul TED Connects : Community and Hope. Untuk waktu Indonesia bagian barat, live streaming dimulai sekitar jam 11 malam. Jika sekiranya butuh pengingat melalui email, silahkan diklik tombol "Get TED Connects Reminder" pada hyperlink di atas.

Kemarin malam, Gary Liu, CEO dari South China Morning Post, mempunyai kesempatan untuk bercerita mengenai perkembangan pandemik Corona sejak pertama kali merebak di Cina, terutama Wuhan, dan dampak kepada sektor publik lainnya. Ada beberapa poin yang menjadi catatan dari paparan Gary.

1. Pemerintah Cina sempat menghambat arus informasi mengenai penyebaran virus.
Ketika pertama kali peringatan diberitahukan oleh seorang dokter di China, yang bernama Li Wenliang, mengenai kemungkinan terjadinya outbreak oleh virus Corona, pihak pemerintah mengambil sikap keras. Bahkan Li Weinlang, yang sayangnya sudah meninggal di awal Februari akibat virus yang sama, beserta kolega dan yang mendukung urgensi dari Li, didatangi oleh kepolisian setempat dengan alasan memberikan berita tidak benar di internet. Dalam koordinasi dengan WHO, pemerintah Cina juga mengatakan virus Corona masih terkendali.

2. Pemerintah Cina melalukan langkah yang tepat dan cepat, setelah menyadari penyebaran virus yang mulai tidak terkontrol di Wuhan.
Virus Corona makin berkembang secara eksponensial setelah perayaan Tahun Baru Imlek, dengan budaya orang Cina yang akan sering berkumpul ketika festival dan bertemu dengan sanak saudara mereka di kampung, beserta beramai-ramai di jalur transportasi publik.

Setelah perkembangan virus Corona dinyatakan semakin tidak terkontrol, menurut Gary Liu, pemerintah Cina melakukan langkah cepat dan tepat dengan berkoordinasi dengan WHO mengenai outbreak Covid-19 yang sedang terjadi, melakukan lockdown terhadap provinsi Hubei, khususnya kota Wuhan, dan mempersiapkan rumah sakit darurat, baik yang akan dibangun maupun mengubah fasilitas umum. Penanganan berlangsung cukup baik, karena pandemik tidak menyebar secara meluas di kota besar lainnya di Cina, seperti Beijing atau Shanghai.

3. Warga Hong Kong masih dalam posisi kebingungan setelah pengumuman outbreak dari Cina.
Tensi tinggi yang terjadi antara pemerintah Cina dengan warga Hong Kong cukup berdampak juga terhadap penanganan penyebaran virus. Pemicu utamanya adalah tingkat kepercayaan warga Hong Kong yang masih sangat rendah, yang semakin naik dalam beberapa tahun terakhir. Hambatan banyak terjadi ketika pemerintah Hong Kong, yang menurut banyak warga adalah kaki tangan pemerintah Cina, berusaha berkomunikasi dengan warga. Beruntung, pengalaman pada sekitar tahun 2002 dengan outbreak-nya virus SARS, warga mempunyai kesadaran lebih akan kondisi darurat yang sedang terjadi, dan tidak menolak secara mentah komunikasi dari pemerintahnya.

4. Kesadaran akan kondisi darurat yang dibangun dari outbreak SARS tidak hanya terjadi di Hong Kong.
Kemungkinan besar ini yang menjelaskan alasan negara seperti Singapura mempunyai fasilitas dan koordinasi lintas bidang yang memadai dalam menghadapi pandemik dan warga negara tersebut punya kesadaran kuat untuk mengatur interaksi sehingga memperlambat penyebaran virus.

Seperti yang disebutkan pada poin catatan 3, tidak hanya warga Hong Kong sedikit terbuka untuk berinteraksi dengan pemerintahnya, tetapi mereka mempunyai kesadaran lebih untuk menjaga interaksi di antara mereka. Platform penyebaran dan koordinasi informasi dan komunikasi yang sudah dibangun denga matang di antara warga, yang mulai dikenal banyak orang lewat Umbrella movement pada tahun 2014, juga dialih fungsikan untuk menghadapi pademik. Di Cina beserta daerah bagiannya juga mengalami kesadaran yang sama, walau dengan bentuk dan metode yang berbeda.

Pada titik ini, saya menjadi sedikit bertanya, apakah Indonesia harus mengalami hantaman keras dari Covid-19 sehingga mempunyai kesadaran lebih untuk belajar, melakukan persiapan matang, membangun infrastruktut kesehatan yang lebih matang dan siap ketika menghadapi outbreak/epidemik/pandemik?

Kemungkinan tersebut bisa jadi memang terjadi di Cina, Hong Kong, Singapura, Thailand, dan Vietnam yang mengalami fatality rate cukup tinggi akibat SARS. Tetapi kemungkinan tersebut bisa juga langsung dibantah di Korea Selatan yang mengalami sedikit kasus SARS, tetapi melakukan langkah cepat rapid test setelah munculnya kasus Covid-19 pertama di negaranya. Jadi dimana posisi sikap Indonesia mengenai kesehatan publik saat ini?

Berhubung saya pernah beberapa kali menjadi korban bencana alam dan memperhatikan perkembangan mitigasi bencana di negara ini sangat lambat, bolehkah sisi pesimis saya sedikit

5. Demokratisasi sistem pendidikan dan ekonomi.
Salah satu hal positif yang bisa didapatkan dari pandemik ini menurut Gary Liu adalah orang-orang di Cina dan Hong Kong mempunyai dorongan kesadaran lebih untuk memaksimalkan fungsi teknologi yang ada, dalam menjalankan fungsi pendidikan dan bekerja. Meskipun internet dan teknologi komunikasi semakin berkembang, beserta server dan repository untuk menyimpan data-data yang dibutuhkan, tetapi sebelum pandemik terjadi banyak orang enggan memaksimalkan, terlepas apakah benar atau tidak alasan yang dikemukakan.

Ketika pandemik terjadi, dan tidak banyak pilihan yang tersedia demi menghambat penyebaran virus, teknologi mulai dimaknai lebih dalam oleh banyak orang. Orang-orang bisa berkoordinasi atau meeting tanpa kehilangan substansi yang sedang dikoordinasikan. Para pembelajar pun mempunyai akses lebih setara dalam mengakses ilmu yang ingin dipelajari, tanpa harus merasa ketidakadilan dengan yang beruntung. Para guru atau platform yang menyebarkan pendidikanpun mempunyai momentum untuk mematangkan konten dan program yang akan disebarkan lewat internet. Hal ini sendiri juga dihadapi oleh Gary Liu dalam menjalankan South China Morning Post.

Dalam arti kata, ketika teknologi lebih bisa dimaksimalkan, semua orang mempunyai kuasa lebih akan hal-hal dalam hidupnya, tanpa harus berurusan hirarki atau kondisi yang tidak seimbang dan kemungkinan cenderung tidak adil.
---

Singkat kata, menurut Gary, hadapi pandemik ini, dengan sikap dan kepala matang, dari semua lini dan lintas bidang.

Komentar