Postingan

Menampilkan postingan dengan label Community Development

Jarak ke Sumber Pangan Menentukan Jarak Kepada Sesama

Gambar
Salah satu kenyamanan yang jamak ditemukan ketika bermain ke desa atau kampung adalah keramah tamahan warganya kepada pendatang. Para pendatang ini akan dianggap sebagai tamu, kemudian diundang ke rumahnya, diajak mengopi dan sedikit cengkrama, atau bahkan makanan pun tersedia untuk tamu. Mereka seperti tak segan berbagi pengalaman hidup ke tamu yang baru dikenalnya di hari itu. Cerita ini pun sering saya lihat di novel, film, atau tayangan dokumenter televisi. Well , ada kemungkinan itu hanya pengalaman saya dan beberapa orang petualang atau traveller  yang mungkin bisa dengan mudah akrab dengan mereka. Mungkin saja tidak terjadi pada turis-turis yang tujuannya hanya mencari pelarian dari kepenatan kota, jadi kurang mempunyai kadar toleransi yang baik dalam menghadapi perbedaan budaya, pikiran, atau juga rasa. Apalagi jika mengingat jarak perbedaan antara kota dan desa itu semakin jauh di zaman sekarang. Kadar toleransi yang rendah ini juga yang membuat kehadiran guide segitu pe...

(Terpaksa) Melihat Lagi Desentralisasi Sistem

Sudah banyak tulisan di internet yang menggambarkan apa yang kemungkinan besar bakal terjadi setelah momen pandemik ini lewat. Tulisan yang paling viral sepertinya adalah tulisan dari Yuval Noah Harari, yang lebih dikenal karena bukunya yang berjudul " Sapiens " dan " Homo Deus ". Ada satu hal yang pasti akan mengalami perubahan dari Indonesia setelah melewati pandemik ini. Para kepala daerah, atau minimal masyarakat di daerah, akan memperhatikan kembali relasi antara mereka dengan pemerintah. Sentralisasi sistem yang selama ini kerap diputuskan di Jakarta, meski sempat mengalami perubahan di setelah krisis 1998 dan turunnya Soeharto, akan kembali menemui dimana posisi yang seharusnyanya dalam menggerakan negara dan masyarakat. Pertanyaan ini sering kali menguak hanya di lingkaran orang-orang yang berada atau peduli dengan isu Papua Barat, Aceh, atau sengketa agraria. Tetapi, lewat pandemik Covid-19 ini, konflik antara daerah dengan pusat, justru dimulai dari d...

Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (1)

Di dalam postingan beberapa hari lalu saya menyebutkan tentang pengalaman saya ngobrol panjang lebar dengan seorang bapak yang baru saja dikenal di atas kapal, dalam perjalanan dari Labuan Bajo ke pelabuhan Sape. Posisi saya sedang duduk di atas kursi yang mengitari meja lingkaran, memikirkan banyak hal sambil menahan rasa sakit di kepala akibat tidak bisa tertidur, tidak seperti teman saya yang gampang langsung tertidur di sebelah saya di atas lantai. Ketika sedang melamun, seorang bapak bersama temannya muncul, (*kurang lebih percakapannya seperti ini, jika tidak salah ingat.) "Mas, boleh duduk di kursi ini?" Situasi dan kondisi memang lagi sedikit sulit akibat meletusnya gunung berapi di Banyuwangi, sehingga  space  kosong saja menjadi rebutan di antara penumpang yang lumayan banyak. "Ohya, silahkan pak, memang kursi itu kosong." "Terimakasih. Itu temannya kenapa?" "Sedang istirahat saja pak. Kebetulan memang badannya agak sedikit kurang bai...