Jarak ke Sumber Pangan Menentukan Jarak Kepada Sesama
Salah satu kenyamanan yang jamak ditemukan ketika bermain ke desa atau kampung adalah keramah tamahan warganya kepada pendatang. Para pendatang ini akan dianggap sebagai tamu, kemudian diundang ke rumahnya, diajak mengopi dan sedikit cengkrama, atau bahkan makanan pun tersedia untuk tamu. Mereka seperti tak segan berbagi pengalaman hidup ke tamu yang baru dikenalnya di hari itu. Cerita ini pun sering saya lihat di novel, film, atau tayangan dokumenter televisi.
Well, ada kemungkinan itu hanya pengalaman saya dan beberapa orang petualang atau traveller yang mungkin bisa dengan mudah akrab dengan mereka. Mungkin saja tidak terjadi pada turis-turis yang tujuannya hanya mencari pelarian dari kepenatan kota, jadi kurang mempunyai kadar toleransi yang baik dalam menghadapi perbedaan budaya, pikiran, atau juga rasa. Apalagi jika mengingat jarak perbedaan antara kota dan desa itu semakin jauh di zaman sekarang. Kadar toleransi yang rendah ini juga yang membuat kehadiran guide segitu penting dalam perjalanannya.
Tetapi, ketika membaca tagline Dandhy Laksono untuk mempromosikan video terbarunya di twitter, hasil perjalanan keliling Indonesia selama setahun lebih, saya mengkalibrasikan ulang pandangan saya ini. Ia menyebutkan, "setiap yang mau hidup, harus menanam".
Bagi yang sudah terbiasa mengikuti karir, video dokumenter, tulisan, atau debat publiknya, tentu bakal sering mengarahkan tagline tersebut ke pola pikir pembangunan manusia dan fisik di Indonesia. Tentu memang benar, ia juga menjelaskannya dalam video pergulatan warga Wangongira, Tobelo Dalam, dengan PDAM mengenai sumber mata air. Wawancaranya dengan peneliti dan warga ketika makan bersama setelah mengumpulkan hasil panen mempertebal narasi tersebut. Tapi ketika memahami ulang, saya merasa ingin mengkaitkan tagline beserta penjelasan warga Wangongira tersebut dengan proses orang-orang dalam mengisi perutnya ketika menghadapi pandemik.
Seperti diketahui, saat ini sedang memang memasuki masa resesi. Bisa jadi ada kemungkinan juga memasuki masa depresi, ketika sejumlah kredit gagal dibayarkan. Salah satu yang menjadi persoalan mendasar ketika memasuki masa depresi, atau bahkan ketika resesi adalah ketika banyak orang yang tidak mampu membeli makanan. Pikiran tersebut menyebabkan kekhawatiran. Dan bisa saja, meskipun tidak di masa resesi atau depresi, kekhawatiran itu juga ada dalam sehari-hari, meskipun akhirnya teratasi ketika gaji turun atau lancarnya bisnis. Kekhawatiran bahwa tidak ada uang untuk memjembatani jaraknya dengan sumber pangan.
Dan saya menjadi terpikir, bahwa bisa jadi kekhawatiran itu lah yang menyebabkan orang desa lebih ramah kepada orang baru dikenal dibandingkan orang kota. Mereka dekat dengan sumber pangan atau bahkan mereka sendiri yang menanam dan merawatnya. Mereka tahu apa yang tersedia untuk perutnya di esok hari, sehingga bisa memfokuskan pikiran di hari itu. Dan dengan demikian juga, mereka mempunyai keleluasaan waktu dan ruang untuk menjamu tamunya.
Tentu pikiran ini bukan berarti mengabaikan relasi kuasa yang tidak seimbang antara petani dengan pola pembangunan sekarang. Tapi bagaimanapun juga, jarak mereka dengan kelangsungan pangan jauh lebih dekat dengan dibandingkan orang kota.
Well, ada kemungkinan itu hanya pengalaman saya dan beberapa orang petualang atau traveller yang mungkin bisa dengan mudah akrab dengan mereka. Mungkin saja tidak terjadi pada turis-turis yang tujuannya hanya mencari pelarian dari kepenatan kota, jadi kurang mempunyai kadar toleransi yang baik dalam menghadapi perbedaan budaya, pikiran, atau juga rasa. Apalagi jika mengingat jarak perbedaan antara kota dan desa itu semakin jauh di zaman sekarang. Kadar toleransi yang rendah ini juga yang membuat kehadiran guide segitu penting dalam perjalanannya.
Tetapi, ketika membaca tagline Dandhy Laksono untuk mempromosikan video terbarunya di twitter, hasil perjalanan keliling Indonesia selama setahun lebih, saya mengkalibrasikan ulang pandangan saya ini. Ia menyebutkan, "setiap yang mau hidup, harus menanam".
Bagi yang sudah terbiasa mengikuti karir, video dokumenter, tulisan, atau debat publiknya, tentu bakal sering mengarahkan tagline tersebut ke pola pikir pembangunan manusia dan fisik di Indonesia. Tentu memang benar, ia juga menjelaskannya dalam video pergulatan warga Wangongira, Tobelo Dalam, dengan PDAM mengenai sumber mata air. Wawancaranya dengan peneliti dan warga ketika makan bersama setelah mengumpulkan hasil panen mempertebal narasi tersebut. Tapi ketika memahami ulang, saya merasa ingin mengkaitkan tagline beserta penjelasan warga Wangongira tersebut dengan proses orang-orang dalam mengisi perutnya ketika menghadapi pandemik.
Seperti diketahui, saat ini sedang memang memasuki masa resesi. Bisa jadi ada kemungkinan juga memasuki masa depresi, ketika sejumlah kredit gagal dibayarkan. Salah satu yang menjadi persoalan mendasar ketika memasuki masa depresi, atau bahkan ketika resesi adalah ketika banyak orang yang tidak mampu membeli makanan. Pikiran tersebut menyebabkan kekhawatiran. Dan bisa saja, meskipun tidak di masa resesi atau depresi, kekhawatiran itu juga ada dalam sehari-hari, meskipun akhirnya teratasi ketika gaji turun atau lancarnya bisnis. Kekhawatiran bahwa tidak ada uang untuk memjembatani jaraknya dengan sumber pangan.
Dan saya menjadi terpikir, bahwa bisa jadi kekhawatiran itu lah yang menyebabkan orang desa lebih ramah kepada orang baru dikenal dibandingkan orang kota. Mereka dekat dengan sumber pangan atau bahkan mereka sendiri yang menanam dan merawatnya. Mereka tahu apa yang tersedia untuk perutnya di esok hari, sehingga bisa memfokuskan pikiran di hari itu. Dan dengan demikian juga, mereka mempunyai keleluasaan waktu dan ruang untuk menjamu tamunya.
Tentu pikiran ini bukan berarti mengabaikan relasi kuasa yang tidak seimbang antara petani dengan pola pembangunan sekarang. Tapi bagaimanapun juga, jarak mereka dengan kelangsungan pangan jauh lebih dekat dengan dibandingkan orang kota.
Komentar
Posting Komentar