Petulangan Kuliner Meksiko di Nat Geo People
Beberapa hari terakhir ini, saya sedang sangat menikmati menontontayangan Nat Geo People. Tidak hanya sedang membiasakan diri untuk tetap di rumah karena kondisi yang masih belum menentu, tetapi sepertinya Usee TV juga memberikan layanan gratis beberapa stasiun TV untuk menemani pelanggannya.
Dan mulailah tangan ini mencari-cari tayangan yang kelihatannya menarik. Kemarin malam, tayangan yang ditemukan adalah "Mexican Fiesta with Peter Kuruvita".
Sebagai orang yang terbiasa hidup dengan budaya patriarki yang kurang sehat (tentu ada sisi relatif dalam menggambarkan hal ini), saya bukanlah orang yang terbiasa untuk mencari bahan makanan dan mempersiapkan makanan untuk diri sendiri atau sekitar. Pertama kalinya dorongan hasrat untuk mencari makanan adalah ketika memulai perjalanan dengan seorang diri di daerah yang belum disentuh.
Perut yang lapar tentu perlu diisi. Tetapi ketika yang diisi tidak sesuai dengan budaya yang membentuk diri pribadi, disitiu juga keterampilan bertahan hidup dipacu untuk berkembang,
Meksiko mempunyai budaya yang sangat jauh dari peradaban yang membentuk Indonesia. Mungkin di sekitar daerah timur, ketika masa bangsa-bangsa Eropa berebut sumber rempah-rempah kelas atas untuk perdagangan, bangsa Spanyol meninggalkan beberapa jejak disana. Sehingga mungkin saja ada sedikit kesamaan jejak produk budaya antara Meksiko dengan Indonesia bagian timur.
Tetapi perlu diingat juga, ada peradaban klasik juga yang membentuk negara bagian selatan benua Amerika Utara. Ada lima peradaban yang mempunyai pengaruh cukup besar, yaitu Olmecs, Maya, Teotihuacan, Toltec, dan Aztec. Peradaban yang disebut terakhirlah yang dijajah oleh bangsa Spanyol.
Peter Kuruvita berusaha menelusuri tersebut. Dengan latar belakang sebagai seorang chef dari Australia, ia datang untuk melihat olahan-olahan yang akan dimasukan ke dalam makanan utama Meksiko, yaitu tortilla. Tortilla adalah semacam adonan tepung yang dibetuk secara pipih, yang terbuat dari jagung yang disimpan dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu dimasak di atas nampan yang cukup panas dan tanpa minyak. Ketika matang, tortilla yang seperti roti pipih ini akan dibuka di bagian tengahnya, dan kemudian dimasukan adonan bahan makanan.
Ada banyak bahan makanan yang bisa diisi. Olahan daging yang sering digunakan adalah babi dan bebek. Yang lebih banyak justru adalah olahan sayur dan buah, dengan menggabungkan semua rasa manis, pahit, asam, dan asin. Hasil olahan tersebut dijaga seimbang, sehingga tidak ada rasa yang menonjol. Setelah diolah, bahan makakan dimasukkan ke dalam tortilla, kemudian dimakan dengan menggunakan tangan, agar tidak tumpah dan semua bumbu bisa masuk ke mulut.
Selain bahan untuk tortilla, contoh lainnya untuk menggambarkan rasa di lidah yang dijaga seimbang adalah penggabungan cabe yang sudah dikeringkan (saya lupa jenisnya), dengan bahan alpukat dan coklat. Olahan yang sangat tidak benua Asia tentunya. Menurut Peter Kuruvita, penggabungan rasa dari berbagai jenis bahan tumbuhan adalah warisan utama yang tersisa dari peradaban Aztec.
Menu lainnya yang cukup membuat surprise adalah daun kaktus yang digunakan untuk membuat jus, eskrim, atau juga sop. Selain baru mengetahui beberapa jenis tanaman kaktus, saya tidak mengira kaktus juga digunakan untuk mengisi perut.
---
Menonton hal seperti ini biasanya saya berada di antara mengerti dan tidak mengerti. Selain masih dalam proses belajar memasak, dengan perut yang sering sebagai korban asam lambung karena gagal menakar garam, tetapi ada banyak bahan yang di Meksiko yang sangat tidak familiar. Tetapi juga, sangat seru dan menarik.
Seenggaknya di kapan waktu, saya ada pengetahuan sedikit jika mampir ke rumah makan Meksiko.
Dan mulailah tangan ini mencari-cari tayangan yang kelihatannya menarik. Kemarin malam, tayangan yang ditemukan adalah "Mexican Fiesta with Peter Kuruvita".
Sebagai orang yang terbiasa hidup dengan budaya patriarki yang kurang sehat (tentu ada sisi relatif dalam menggambarkan hal ini), saya bukanlah orang yang terbiasa untuk mencari bahan makanan dan mempersiapkan makanan untuk diri sendiri atau sekitar. Pertama kalinya dorongan hasrat untuk mencari makanan adalah ketika memulai perjalanan dengan seorang diri di daerah yang belum disentuh.
Perut yang lapar tentu perlu diisi. Tetapi ketika yang diisi tidak sesuai dengan budaya yang membentuk diri pribadi, disitiu juga keterampilan bertahan hidup dipacu untuk berkembang,
Meksiko mempunyai budaya yang sangat jauh dari peradaban yang membentuk Indonesia. Mungkin di sekitar daerah timur, ketika masa bangsa-bangsa Eropa berebut sumber rempah-rempah kelas atas untuk perdagangan, bangsa Spanyol meninggalkan beberapa jejak disana. Sehingga mungkin saja ada sedikit kesamaan jejak produk budaya antara Meksiko dengan Indonesia bagian timur.
Tetapi perlu diingat juga, ada peradaban klasik juga yang membentuk negara bagian selatan benua Amerika Utara. Ada lima peradaban yang mempunyai pengaruh cukup besar, yaitu Olmecs, Maya, Teotihuacan, Toltec, dan Aztec. Peradaban yang disebut terakhirlah yang dijajah oleh bangsa Spanyol.
Peter Kuruvita berusaha menelusuri tersebut. Dengan latar belakang sebagai seorang chef dari Australia, ia datang untuk melihat olahan-olahan yang akan dimasukan ke dalam makanan utama Meksiko, yaitu tortilla. Tortilla adalah semacam adonan tepung yang dibetuk secara pipih, yang terbuat dari jagung yang disimpan dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu dimasak di atas nampan yang cukup panas dan tanpa minyak. Ketika matang, tortilla yang seperti roti pipih ini akan dibuka di bagian tengahnya, dan kemudian dimasukan adonan bahan makanan.
Ada banyak bahan makanan yang bisa diisi. Olahan daging yang sering digunakan adalah babi dan bebek. Yang lebih banyak justru adalah olahan sayur dan buah, dengan menggabungkan semua rasa manis, pahit, asam, dan asin. Hasil olahan tersebut dijaga seimbang, sehingga tidak ada rasa yang menonjol. Setelah diolah, bahan makakan dimasukkan ke dalam tortilla, kemudian dimakan dengan menggunakan tangan, agar tidak tumpah dan semua bumbu bisa masuk ke mulut.
Selain bahan untuk tortilla, contoh lainnya untuk menggambarkan rasa di lidah yang dijaga seimbang adalah penggabungan cabe yang sudah dikeringkan (saya lupa jenisnya), dengan bahan alpukat dan coklat. Olahan yang sangat tidak benua Asia tentunya. Menurut Peter Kuruvita, penggabungan rasa dari berbagai jenis bahan tumbuhan adalah warisan utama yang tersisa dari peradaban Aztec.
Menu lainnya yang cukup membuat surprise adalah daun kaktus yang digunakan untuk membuat jus, eskrim, atau juga sop. Selain baru mengetahui beberapa jenis tanaman kaktus, saya tidak mengira kaktus juga digunakan untuk mengisi perut.
---
Menonton hal seperti ini biasanya saya berada di antara mengerti dan tidak mengerti. Selain masih dalam proses belajar memasak, dengan perut yang sering sebagai korban asam lambung karena gagal menakar garam, tetapi ada banyak bahan yang di Meksiko yang sangat tidak familiar. Tetapi juga, sangat seru dan menarik.
Seenggaknya di kapan waktu, saya ada pengetahuan sedikit jika mampir ke rumah makan Meksiko.
Komentar
Posting Komentar