Anak-anak, Ruang Bermain, Struktur Kota, Sekolah, dan Internet
Saat ini saya tinggal di Surapati, di sekitar jalan Gagak. Ketika berada sangat sering di rumah demi memutus rantai pandemik seperti ini, ada salah satu realita yang terlihat. Realita yang sepertinya sudah tidak terperhatikan, tapi semakin tidak diperhatikan karena fokus yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah. Yaitu lahan bermain anak-anak.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun mengalami kebingungan ketika biasanya mereka sudah berada di sekolah di pagi buta, sekarang proses pembelajaran lebih sering di rumah. Keadaan yang sebenarnya sudah seharusnya dilakukan sejak dahulu bersamaan dengan kemajuan teknologi, tetapi mendapatkan momennya di masa pandemik.
Di awal-awal diumumkannya kasus pertama di Indonesia, anak-anak yang sudah dirumahkan mencari teman-teman tetangganya yang juga di rumah. Pengamatan pribadi di sekitar kawasan Gagak, mereka bertemu dan bermain bola. Karena tiadanya ruang luas yang tersedia, ataupun kalau ada, posisinya agak jauh dari rumah, mereka bermain di antara gang. Mereka akan berhenti bermain ketika ada motor yang lewat.
Tentu saja ini tidak bisa digeneralisir kepada anak-anak lainnya, karena saya tahu jenis orang tua yang sangat paranoid tentang kemungkinan mereka akan menjadi carrier kepada keluarganya, meskipun antibodi mereka jauh lebih kuat dibanding orang dewasa. Jenis orang tua ini akan memarahi anak-anaknya untuk jangan sering berada di luar rumah, atau memberi mereka suplai teknologi atau hiburan di dalam rumah. Tetapi perlu diakui juga, di kawasan urban, anak-anak zaman sekarang kehilangan tempat bermain mereka di sekitar rumah. Sehingga tidak salah jika mereka berpikir lebih memilih berada di sekolah di saat keadaan yang masih belum ada sedikit kejelasan.
Di dalam proses pembelajaran mereka sebagai manusia melalui bermain, baik untuk berkenalan dengan teman sejawatnya, bertetangga, ataupun proses mendalami aktivitas itu sendiri, seperti bermain bola, mereka harus bertarung di usia sangat kecil dengan bapak dan ibunya yang terhimpit oleh struktur kota yang semakin tidak berpihak. Rumah menjadi sangat rapat, jalur pengairan yang mengambil porsi yang cukup besar, transportasi publik yang tidak mendukung sehingga mendorong penggunaan transportasi pribadi dalam menjalani aktivitas keseharian, atau juga parkiran kendaraan yang kadang memakan jalan yang sudah sudah sempit.
Taman atau lapangan bermain? "Wah nanti dulu ya," mungkin begitu jawaban balasan yang diberikan oleh para pengambil kebijakan atau masyarakat.
Jadi, tidak salah juga, dengan penilaian seperti ini, mungkin secara tidak sadar, tumbuh kembang belajar anaknya diserahkan begtu saja oleh orang tuanya kepada sekolah. Ketiadaan variasi pilihan yang bisa orang tua tawarkan kepada anaknya, sehingga mereka akan patuh saja dengan kebijakan sekolah, tanpa memberikan penilaian kritis terhadap perubahan yang sekolah ambil.
Dan mungkin dengan penilaian seperti di atas, seharusnya pertanyaan berikut akan menjadi naik urgensinya. Bisakah jaringan internet memberikan variasi yang dibutuhkan oleh anak-anak?
Andaikan literasi digital di Indonesia cukup baik, mungkin bisa membantu sedikit. Orang tua dan anaknya akan mencari dan memilah online course yang sepertinya menarik dan dibutuhkan, dan kemudian mereka belajar. Atau lewat sosial media, mereka akan saling berbicara, seperti via fitur chat. Tapi itupun saya rasa hanya membantu dalam persoalan kognitif.
Haruskah ruang sosialisasi mereka mesti diterjemahkan dalam kata-kata dan emoji? Mungkin bagus untuk pembelajaran tata tulis dan baca mereka, tetapi tidak bagi autentikasi ekspreasi wajah atau kata yang digunakan. Ada fitur delete yang akan mereka pakai.
Haruskah ruang aktivitas fisik mereka diterjemahkan di dalam jaringan internet? Kurang tahu juga, jika mereka tertarik mengikuti trending joget Tik-Tok seperti akang dan tetehnya, atau workout challenge, mungkin bisa.
Dan haruskah jika terjadi kesalahpahaman juga harus diselesaikan lewat sosial media, sehingga orang-orang lain mengetahuinya? Sayang sekali, mereka belajar menjadi manusia yang sangat tidak bijak disana.
Dan tentunya ada banyak pertanyaan yang mesti diangkat disini. Pengganti ruang bermain dalam jaringan internet tidaklah semudah itu, dan dengan demikian tidak bisa serta merta digampangkan.
---
Saat ini playlist Spotify saya sedang memutarkan lagu "Isn't She Lovely" dari Stevie Wonder. Lewat lagu ini, Stevie Wonder bercerita tentang kegembiraannya atas kelahiran anak perempuannya, Aisha Morris.
Yang menjadi perhatian adalah, setelah menguraikan banyak hal mengenai tumbuh kembang anak di bagian atas, pertanyaan harus dikembalikan ke bagian mendasar. Yaitu, haruskah kegembiraan itu cuma sebatas ketika anak itu masih lucu-lucunya, ketika baru keluar dari rahim ibunya? Tidak bisakah bergembira ketika mereka tumbuh kembang?
I let that question wanders on our mind.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun mengalami kebingungan ketika biasanya mereka sudah berada di sekolah di pagi buta, sekarang proses pembelajaran lebih sering di rumah. Keadaan yang sebenarnya sudah seharusnya dilakukan sejak dahulu bersamaan dengan kemajuan teknologi, tetapi mendapatkan momennya di masa pandemik.
Di awal-awal diumumkannya kasus pertama di Indonesia, anak-anak yang sudah dirumahkan mencari teman-teman tetangganya yang juga di rumah. Pengamatan pribadi di sekitar kawasan Gagak, mereka bertemu dan bermain bola. Karena tiadanya ruang luas yang tersedia, ataupun kalau ada, posisinya agak jauh dari rumah, mereka bermain di antara gang. Mereka akan berhenti bermain ketika ada motor yang lewat.
Tentu saja ini tidak bisa digeneralisir kepada anak-anak lainnya, karena saya tahu jenis orang tua yang sangat paranoid tentang kemungkinan mereka akan menjadi carrier kepada keluarganya, meskipun antibodi mereka jauh lebih kuat dibanding orang dewasa. Jenis orang tua ini akan memarahi anak-anaknya untuk jangan sering berada di luar rumah, atau memberi mereka suplai teknologi atau hiburan di dalam rumah. Tetapi perlu diakui juga, di kawasan urban, anak-anak zaman sekarang kehilangan tempat bermain mereka di sekitar rumah. Sehingga tidak salah jika mereka berpikir lebih memilih berada di sekolah di saat keadaan yang masih belum ada sedikit kejelasan.
Di dalam proses pembelajaran mereka sebagai manusia melalui bermain, baik untuk berkenalan dengan teman sejawatnya, bertetangga, ataupun proses mendalami aktivitas itu sendiri, seperti bermain bola, mereka harus bertarung di usia sangat kecil dengan bapak dan ibunya yang terhimpit oleh struktur kota yang semakin tidak berpihak. Rumah menjadi sangat rapat, jalur pengairan yang mengambil porsi yang cukup besar, transportasi publik yang tidak mendukung sehingga mendorong penggunaan transportasi pribadi dalam menjalani aktivitas keseharian, atau juga parkiran kendaraan yang kadang memakan jalan yang sudah sudah sempit.
Taman atau lapangan bermain? "Wah nanti dulu ya," mungkin begitu jawaban balasan yang diberikan oleh para pengambil kebijakan atau masyarakat.
Jadi, tidak salah juga, dengan penilaian seperti ini, mungkin secara tidak sadar, tumbuh kembang belajar anaknya diserahkan begtu saja oleh orang tuanya kepada sekolah. Ketiadaan variasi pilihan yang bisa orang tua tawarkan kepada anaknya, sehingga mereka akan patuh saja dengan kebijakan sekolah, tanpa memberikan penilaian kritis terhadap perubahan yang sekolah ambil.
Dan mungkin dengan penilaian seperti di atas, seharusnya pertanyaan berikut akan menjadi naik urgensinya. Bisakah jaringan internet memberikan variasi yang dibutuhkan oleh anak-anak?
Andaikan literasi digital di Indonesia cukup baik, mungkin bisa membantu sedikit. Orang tua dan anaknya akan mencari dan memilah online course yang sepertinya menarik dan dibutuhkan, dan kemudian mereka belajar. Atau lewat sosial media, mereka akan saling berbicara, seperti via fitur chat. Tapi itupun saya rasa hanya membantu dalam persoalan kognitif.
Haruskah ruang sosialisasi mereka mesti diterjemahkan dalam kata-kata dan emoji? Mungkin bagus untuk pembelajaran tata tulis dan baca mereka, tetapi tidak bagi autentikasi ekspreasi wajah atau kata yang digunakan. Ada fitur delete yang akan mereka pakai.
Haruskah ruang aktivitas fisik mereka diterjemahkan di dalam jaringan internet? Kurang tahu juga, jika mereka tertarik mengikuti trending joget Tik-Tok seperti akang dan tetehnya, atau workout challenge, mungkin bisa.
Dan haruskah jika terjadi kesalahpahaman juga harus diselesaikan lewat sosial media, sehingga orang-orang lain mengetahuinya? Sayang sekali, mereka belajar menjadi manusia yang sangat tidak bijak disana.
Dan tentunya ada banyak pertanyaan yang mesti diangkat disini. Pengganti ruang bermain dalam jaringan internet tidaklah semudah itu, dan dengan demikian tidak bisa serta merta digampangkan.
---
Saat ini playlist Spotify saya sedang memutarkan lagu "Isn't She Lovely" dari Stevie Wonder. Lewat lagu ini, Stevie Wonder bercerita tentang kegembiraannya atas kelahiran anak perempuannya, Aisha Morris.
Yang menjadi perhatian adalah, setelah menguraikan banyak hal mengenai tumbuh kembang anak di bagian atas, pertanyaan harus dikembalikan ke bagian mendasar. Yaitu, haruskah kegembiraan itu cuma sebatas ketika anak itu masih lucu-lucunya, ketika baru keluar dari rahim ibunya? Tidak bisakah bergembira ketika mereka tumbuh kembang?
I let that question wanders on our mind.
Komentar
Posting Komentar