Ketahahan Pangan Jawa Barat di Masa Pandemik
Pada tanggal 2 April kemarin, komunitas yang bergerak dalam isu mitigasi, Bandung Mitigasi Hub (BMH), mengadakan diskusi online mengenai ketahanan pangan Jawa Barat dalam masa pandemik dan memasuki bulan Ramadhan. Ketahanan pangan ini penting tentunya. Selain menjaga persoalan supply, tetapi juga memasktikan terditribusi, disaat semua warga harus mengatur jarak di antara mereka dan beberapanya juga harus mengalami kehilangan mata pencaharian. Ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan dari diskusi tersebut.
Sumber : https://www.instagram.com/bdgmitigasihub/?hl=en |
Hal penting pertama yang menjadi catatan adalah menurut Asep Sehabudin, perwakilan dari Dinas Pertanian dan Pangan Bandung Barat, stok pangan di Bandung Barat saat ini tersedia lebih dari cukup hingga lebaran. Stok ini pun belum termasuk hasil panen yang akan didapatkan dengan Dari itu pula, kabupaten Bandung Barat (KBB) juga mengirimkan hasil panennya ke Bogor, Depok, dan Jakarta.
Dalam proses pendistribusian, Dinas Pertanian dan Pangan KBB bekerja sama dengan Dinas Sosial. Selain membantu memastikan pangan yang tersedia bisa disalurkan sesuai yang dialokasikan, fungsi lainnya dari Dinas Sosial adalah memastikan penyebarannya tepat sasaran, berdasarkan data kependudukan yang mereka punya. Data ini menjadi sangat penting, berkaitan dengan kondisi ekonomi yang mengalami penurunan akibat tidak langsung dari pembatasan gerak manusia.
Mengenai data dan kesiapan ini juga, dalam pandangan Ebet Nugraha, program provinsi yang bernama Jawa Barat Resilience Culture Province (JRCP) sedang diuji pengaplikasiannya pada masa pandemik ini. Secara program dan produk memang didesain untuk bencana alam, sehingga beberapa ketidaksesuaian dalam perancangan akan terjadi. Tetapi minimal penggunaannya dalam kesiapan mayarakat dari tataran paling bawah, yaitu RT/RW, juga bisa dilihat selama masa bencana non-alam.
Kesiapan dari tataran RT/RW juga menjadi catatan bagi Aat Soeratin. Meskipun pemerintah sendiri memang harus diberi kritik dalam menjalankan kewenangan yang dimiliki, tetapi masyarakat juga sudah semestinya berperan aktif dalam mengatasi krisis. Dalam menghadapi pandemik ini juga, diuji semangat gotong royong masyarakat yang menjadi dasar kesamaan yang paling penting dari budaya yang beragam dan banyak di Indonesia.
Persoalan panic buying pun bisa dilihat dari kacamata tersebut. Meningkatnya ketidakpercayaan akan sekitar, bahkan dengan tetangga, sehingga yang mempunyai keuntungan lebih akan, memanfaatkan hal tersebut bagi diri sendiri atau keluarganya. Dalam arti kata, karena tidak ada kepercayaan yang mumpuni antar masyarakat, menjadi validasi untuk mempertanyakan budaya gotong royong di antara masyarakat. Disinilah menurut Aat Soeratin penguatan RT/RW menjadi penting.
Komentar
Posting Komentar