Pandemik dan Bulan Puasa
Hari ini sudah memasuki hari ke enam bulan puasa. Jika mengingat selama beberapa tahun terakhir saya tidak berpuasa secara penuh, bahkan tidak berpuasa sama sekali, sepertinya perlu diapresiasi juga bahwa fisik, pikiran, dan mentalitas saya cukup stabil dalam melewatinya. Puasa memang masih ada tersisa 24 hari, tapi langkah awal yang baik juga bagian penting dalam perjalanan.
Sebuah kebetulan yang pas, ketika memikirkan bulan puasa ini datang di saat pandemik Covid-19. Dengan menjaga jarak dan aktivitas yang harus dilakukan, pikiran yang sudah mulai dibiasakan dengan lebih banyak di rumah, menjadi terbiasa berlanjut.
Tentu menilai keberjalanan puasa saya ini pun tidak bisa mengabaikan keberadaan internet, dimana kehadirannya memberikan ruangan yang lebih luas, dan sayangnya juga liar. Yang dimaksud liar disini tidak hanya tentang dark web atau sebagainya, tetapi bagi yang tidak bijak berada di dalamnya, mereka akan tersesat di dalamnya. Contoh simpelnya, berapa orang yang tersesat karena scrolling beranda sosial media tiap sebentar, tanpa hal jelas yang ingin dilihatnya?
Memang tujuan yang membuat aplikasi untuk menjaga penggunanya bertahan dan menikmati aplikasi yang ditawarkan. Tetapi tentu harus dicatat, hal baik yang tidak terkontrol akan mendorong jumlah dopamin yang tak terkendali. Karena tubuh senantiasa menjaga keseimbangannya, kita pun menjadi semakin toleran dengan jumlah dopamin yang dikeluarkan,
Menyebutkan hal tersebutpun sebenarnya bagian refleksi diri saya juga, dengan mengurangi relasi saya dengan Twitter. Tujuan saya di beranda Twitter saat ini sebenarnya lebih banyak untuk mencari lawakan lucu sobat warganet, mengupdate perkembangan penanganan Covid-19 dan melihat kebijakan dan narasi yang dibawa oleh pemerintah. Untuk tujuan terakhir, memang sering kali, dalam penilaian saya ada yang bermasalah dalam kebijakan atau komunikasi publik pemerintah. Tetapi itupun harus diakui, selain saya sering telat melihat kondisi holistiknya, terlepas salah atau benarnya, fungsi kontrol diri ke saya sempat menurun. Keseimbangan dalam manusia akan dicapai ketika faktor eksternal dan internal berada titik equilibirum yang tepat, betul kan?
Banyak lagi spektrum yang bisa dilihat dari internet ini, tidak hanya tentang sosial media, sehingga banyak dialektika yang bisa dibicarakan disini. Belum juga jika membicarakan perkembangan online course dan IELTS yang sempat terhambat, karena aktivitas tersebut masih memberikan kadar dopamin yang agak rendah.
Tetapi sekali lagi, inilah fungsinya kehadiran puasa yang lagi berteman akrab dengan pandemik. Datangkan rasa bosan, refleksikan keseharian dan jumlah informasi yang masuk, sehingga bisa dipaksa melakukan aktivitas bermanfaat, yang kadar dopamin di otak masih rendah.
---
Anyway, pagi ini saya melewati mesjid Pusdai yang begitu sepi. Hari sedang begitu cerah, dan sepertinya ada banyak burung-burung yang hinggap di pepohonan sekitar mesjid. Ramai sekali kicaunya. Kalau tidak salah saya, kicauan seramai itu hanya bisa saya dapatkan di Bandung, jika berada di hutan Tahura.
Another consciousness?
Entahlah. Yang pasti, besok saya akan mencoba berlari pagi dengan menggunakan masker.
Komentar
Posting Komentar