Tentang Kobe Bryant dan Glenn Fredly

Sebuah berita yang tidak baik bagi penggemar Glenn Fredly kemarin malam. Akibat penyakit meningitis yang dideritanya, beliau meninggalkan anaknya yang baru berumur 40 hari untuk tumbuh kembang tanpa bapaknya. Saya juga merasakan berita tidak baik ini.

Pada akhir Januari tahun ini, Kobe Bryant meninggal. Pada hari tesebut, ia sedang dalam perjalanan menuju Mamba Sport Academy, yang dikelola langsung oleh Bryant, helikopter yang ditumpanginya bersama anak perempuannya, Gianna, dan rekan setimnya. Nasib berkata lain, bukan tim basket yang akan ia latih untuk ditemui, tetapi kematian.

---

Sekitar awal tahun 2000 hingga pertengahan satu dekade setelahnya, ketika saya belum terlalu diselamatkan dari tayangan televisi yang tidak ada habisnya dan alur narasi yang begitu saja, saya tidak terlalu paham dengan fans Nike Ardilla terhadap seseorang yang meninggal akibat kecelakaan mobil pada tahun 1995. Mereka begitu setia mengunjungi makan, mengadakan kumpul rutin komunitas, atau sekedar berkunjung ke rumah keluarga Nike.

Yang dipikirkan saya waktu itu, profesi yang dijalankan oleh Nike bukanlah suatu bentuk penjawatahan hidup yang sangat berdampak langsung ke hidup para fans. Profesi sebagai seniman atau dalam makna lebih luas sebagai publik figur, tidaklah seperti dokter, wakil rakyat, atau juga seperti seorang pahlawan kemerdekaan (saya dulu sangat terpukau dengan cerita sejarah yang didesain orde baru). Sehingga dulunya bagi saya, para penggemar ini sangat lah berlebihan,

Saat ini, sambil mendengarkan album terakhir Glenn Fredly di tahun 2019, Romansa ke Masa Depan, dan mengingat momen pribadi yang termenung beberapa minggu setelah kecelakaan Kobe Bryant, saya ingin mengkalibrasi ulang tentang apa yang dipahami.

---

Kalau tidak salah, saya mengenal Glenn Fredly pertama kali lewat MTV Indonesia. Ketika itu, MTV Indonesia masih mempunyai simbiosis saling menguntungkan dengan Global TV, sehingga penyanyi mempunyai media untuk menampilkan hasil karya mereka.

Karya Glenn Fredly yang pertama kali saya lihat adalah videonya untuk lagu Kisah Putih. Dengan topi khasnya yang dipakai, Glenn tampil di dalam video dengan singlet puntih(entah singlet atau jenis pakaian lainnya, saya tidak paham) dan suaranya yang sangat khas orang keturunan Maluku. Kelanjutannya di dunia musik adalah rasanya sejarah yang sudah ia legasikan, dan saya selalu antusias jika mendengar lagu barunya di radio atau di televisi.

Tetapi juga saya memperhatikan Glenn sebagai seorang yang berusaha memperluas pengaruhnya untuk sesama yang tertindas, terutama tentang Indonesia Timur yang terabaikan oleh sejarah dan peradaban. Disaat negara terlalu sulit untuk meninggalkan kesalahannya yang terlanjut berjalan berpuluh tahun, Glenn aktif menjalin dan menjaga komunikasi dengan orang-orang yang aktif berjuang untuk kaum yang termarjinalkan dan memberikan kontribusinya sesuai yang ia mampu, tanpa berusaha mengambil banyak kredit dari usahanya.

Mengenai Kobe Bryant, saya mengenalnya pertama kali lewat tayangan berita olahraga sehari terakhir, yang biasa ditayangkan pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Setelah pulang sekolah, biasanya saya akan mampir ke GOR Haji Agus Salim untuk bermain basket dengan kenalan-kenalan yang baru dikenal di lapangan, hingga kira-kira jam 8 malam. Kehadiran Kobe Bryant juga terasa, karena banyak orang berusaha mengreplikasi gaya mainnya, terutama lewat jumper fade awaynya yang terkenal. Sayangnya keegoisannya dalam menguasai pertandingan juga berusaha dicontoh. Teman saya yang bernama Bang Budi, yang saat itu kuliah Institut Teknologi Padang dan sekarang entah bagaimana kabarnya, sepertinya berhasil mereplikanya.

Lebih dari itu, saya pertama kali masuk klub basket waktu SMA. Pelatih sekolah saya yang merupakan hasil didikan klub basket Tamara, menyuruh kami untuk juga rajin latihan di klub yang sama. Klub tersebut berada sangat jauh dari rumah, berada di kompleks Universitas Negeri Padang (UNP) dan butuh waktu perjalanan sekitar sejam dengan menggunakan angkutan umum. Latihan diadakan hari minggu siang hingga magrib dan kamis malam hingga dini hari.

Mulai dari sana, rasa frustasi mulai muncul. Selain sulit mengikuti latihan di tempat yang agak jauh, saya tidak banyak mendapatkan dukungan dari orang tua dan ekspektasi sekolah untuk berprestasi di bidang akademis mulai menekan. Tekanan yang sedikit tidak masuk akal bagi saya, memperhatikan usaha mereka memajukan prestasi akademis sekolah yang tidak mempunyai langkah strategis dan efektifitas penggunaan dana yang tidak jelas. Ditambah lagi, waktu itu saya masih sangat kecewa karena hubungan saya dengan mantan pacar harus berakhir dengan cara yang tidak mengenakkan. Ketika datang latihan, saya sering melihat kualitas senior di klub yang rasanya begitu jauh untuk dikejar dan progres teman begitu pesat. Itulah penyebabnya rasa frustasi muncul, dan rasa kecewa akan keadaan yang tidak bisa saya kontrol mulai berdampak ke hal lainnya.

Teman sekolah yang juga satu ekstrakurikuler basket, Muhammad Rizky, yang sayangnya saat ini sudah meninggal dalam road trip ke Bukittinggi pada tingkat pertama kuliah, menyadari perubahan sikap saya waktu itu. Ia sangat marah dengan kemarahan dan keluhan yang tiada habisnya saya ungkapkan, sehingga melupakan rutinitas yang biasa saya lakukan. Waktu itu, saya berusaha tetap membantahnya, walau setuju dengan yang ia utarakan. Tetapi setelahnya, seperti tanpa ada pilihan, saya menimbang perkataannya.

Dalam pikiran tersebut, saya melihat rutinitas Kobe untuk latihan secara mandiri. Untuk tetap latihan meskipun tidak ada program dari klub maupun hari pertandingan. Menjaga determinasinya untuk berusaha menjadi yang terbaik dari dirinya setiap harinya, dengan apapun yang sudah terjadi. Karakter yang sebenarnya sedikit annoying bagi Michael Jordan, karena harus melayani telepon atau sms di tengah malam untuk dimintai saran atau pandangan yang Kobe butuhkan. Atau juga harus mendorong konflik dengan teman akrabnya di Lakers, Shaquille O'neal, karena merasa teman satu timnya tidak sederteminasi seperti dirinya.

Sejak saat itu, jika sedang malas pergi sekolah atau kabur, bukan lagi warnet, rental komik, ataupun berdiam diri di kedai Atuak di depan sekolah yang dikunjungi. Saya menuju lapangan basket GOR Agus Salim, bertanya ke cafe di sebelahnya, apakah ada bola yang sedang ditinggalkan dan bisa dipinjam. Untuk menjaga ketertinggalan saya agar tidak terlalu jauh dengan teman yang bisa rutin latihan di klub Tamara, saya berlatih mandiri disana. Entah efektif dan efisien menuju harapan yang ingin dicapai, saya berusaha tidak terlalu memikirkannya.

---

Sekarang saya juga berpikir, bahwa tidak selalu profesi atau jabatan tertentu akan lebih bermakna ke kehidupan orang banyak, bahkan seorang pemimpin negara sekalipun. Bukan berarti saya mengabaikan publik figur yang kerjanya mencari sensasi atau drama tidak jelas untuk menjaga posisinya, tetapi kita juga tahu dan mungkin sudah paham tentang pemimpin yang gagal memberikan dorongan makna hidup yang lebih baik kepada yang dipimpinnya.

Dalam refleksi seperti ini, pada akhirnya saya mengerti kenapa banyak penggemar Nike Ardilla tetap rajin berziarah ke makamnya, meskipun sudah lebih dari dua dekade. Mungkin Nike Ardilla menemani proses tumbuh kembang mereka dalam belajar tentang kehidupan, lewat karyanya atau cara ia berkarir.

Selamat jalan Kobe dan Glenn. Thanks for coming.

Komentar