Rasa Pahit untuk (Kemungkinan) Perubahan Bangsa

Rasanya cuaca Bandung yang sering mendung dan bahkan hujan berjam-jam dalam beberapa minggu terakhir, seperti menggambarkan pikiran saya tentang negara ini. Mitigasi bencana non-alam yang sangat bermasalah, hak berpendapat yang semakin ditekan secara terang-terangan, infrastruktur politik pendukung penguasa, kurangnya visi dan dukungan manajemen riset dan pengembangan teknologi, adalah beberapa hal yang cukup menyita pikiran.

Tentu saya sering mencoba memindahkan pola pikir untuk sering melihat secara gambaran luas. Terutama bagi saya, momen seperti ini dan seterusnya hingga tahun depan seperti momen paling menyakitkan, demi yang terbaik. Sudah beberapa kali saya pun membayangkan dan menceritakannya dalam blog ini. Misalkan untuk sains saja mungkin butuh momen seperti ini menaikkan perhatian orang akan pentingnya sains dalam pengembangan kebudayaan bermasyarakat dan bernegara.

Masalahnya, saya tidak bisa mengelak kekecewaan yang begitu mendalam, mengingat ketika SD saya segitu berbangga dengan lagu Garuda Pancasila dalam setiap pengambilan nilai kesenian, pernah belajar mengenai sejarah dan filosofi Pancasila ke seseorang yang sudah berkelana di aktivitas dan perpolitikan negara atau di akar rumput, dan bahkan mencoba belajar memperhatikan dan mendengarkan implementasinya secara langsung. Ada pemahaman dalam tumbuh kembang yang begitu bertabarakan dengan kondisi saat ini. Mengelak keadaan yang sedang terjadi, berarti saya membutakan mata dengan realita dan terlalu fokus dengan isi kepala sendiri.

Makna kehidupan memang seperti yin-yang, bahwa dunia ini ada hal baik dan buruk yang saling mendukung. Dan dari setiap hal baik, ada titik kecil yang buruk, begitu juga sebaliknya. Mungkin dengan demikian, saya mencoba bertaruh perubahan besar setelah pandemik ini dan beserta rentetan setelahnya.

Untuk saat ini, membiarkan rasa kecewa melihatkan wujud nyatanya dan juga berjuang untuk langkah jangka pendek dengan hal yang bisa saya lakukan.

*Kepada yang membaca blog ini, mohon bantuannya untuk mengisi petisi pembebasan Ravio Patra ya. To be fair, menurut saya cara ia yang tidak tetap fokus dengan kritiknya, tetapi juga melebar dengan persoalan personal yang dikritiknya, perlu dievaluasi juga.

**Update : Ravio sudah dibebaskan, dan berstatus sebagai saksi. Perjuangan belum selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo