Tidak Terlalu Peduli Dengan Staf Khusus Milenial

Ada sedikit sebuah rasa syukur ketika saya mampu menahan diri tidak terlalu memberi banyak komentar mengenai problem yang dihadapi oleh staf khusus milenial Presiden, baik di sosial media, di blog ini, atau juga dalam interaksi dengan teman. Saya juga tidak terlalu mendorong rasa eksplorasi dan judgement pribadi dengan banyak membaca kabar berita atau mencari tahu info mendalam dari kenalan. Kalau boleh dihitung, dalam beberapa bulan terakhir saya hanya sekali berinteraksi dan memberikan kritik langsung kepada salah satu staf di twitter, retweet video sindiran para lulusan luar negeri yang kembali pulang ke dalam negeri, dan juga membaca artikel kritik yang cukup keras dari Raka Ibrahim di media Asumsi.

Ada beberapa hal yang sepertinya bisa menjalankan hal ini. Yang pertama dan paling jelas, dan juga yang pernah saya ceritakan juga di blog ini, langkah awal saya untuk bisa melanjutkan program master adalah dengan lebih tajam terhadap apa yang ingin saya pelajari, riset, komunikasikan, dan diimplementasi. Dalam arti kata, keunggulan saya yang mampu melihat suatu hal secara holistik juga sudah seharusnya mampu mendukung saya berpikir lebih tajam. Paradoks, tapi memang seperti itu cara dunia ini bekerja, Dan itulah kenyataan yang sedang saya usahakan untuk diresapi.

Staf khusus milenial ini memang muda, layaknya diri saya. Mereka juga mempunyai perusahaan yang sedang mereka jalani, seperti yang ingin saya bangun juga di masa depan. Dampak yang mereka harapkan dari yang dilakukan ataupun jejaring yang mereka bangun juga bagian perhatian saya. Kendala dan beserta dramanya, baik penting atau tidak penting, masih dalam jangkauan observasi saya. Tetapi selain hal itu, frekuensi mereka di dalam lingkungan politik elitis bukanlah suatu priotitas dalam fokus saya.

Dengan arti kata, jika saya ingin memberikan porsi fokus dalam memperhatikan infrastruktur politik yang sedang dibangun dan diimplementasikan, bukanlah mereka. Tapi presiden Jokowi beserta pendukungnya.

Hal lainnya adalah keengganan saya untuk  mengeluarkan komentar yang terlalu melebar dan memberikan komentar mengenai latar pendidikan mereka. Cukuplah Raka Ibrahim. Lagipula, saya tumbuh kembang dengan relasi yang tidak cukup manis dengan sistem pendidikan dan bagaimana hal itu dijalankan.

Karena alergi kambuhan yang cukup parah sewaktu kecil, menyebabkan saya hanya bisa pergi TK maksimal 3 hari dalam seminggu, sehingga tidak banyak yang bisa saya ingat ketika itu. Ketika SD, meskipun beberapa kali juara kelas, tapi dorongan itu kebanyakan datang karena demi timbal balik yang saya harapkan. Di akhir kelas 6, saya berujung mempunyai masalah dengan hampir satu majelis guru. Memasuki SMP, keadaan mungkin sedikit membaik, karena mempunyai semangat yang tinggi dan lingkungan yang cukup mendukung untuk belajar matematika dan sejarah. Di SMA, keadaan kembali menyulitkan dengan beberapa kali berurusan dengan guru dan hampir tinggal kelas. Terakhir, saya hampir memilih keluar dari kuliah dan "diselamatkan" setelah berdebat dengan kaprodi jurusan, karena mulai bisa banyak melihat dan mengimajinasikan suatu pola yang menurut saya omong kosong dari sejarah dan visi pendidikan Indonesia.

Tetapi saya tidak menyangkal juga, arti yang sesungguhnya dari pendidikan : membebaskan manusia untuk memahami ilmu pengetahuan dan membuat dirinya berarti bagi sesama dan lingkungannya, demi eksistensi dirinya sendiri. Alasan yang juga mendorong anak-anak di Yunani kuno untuk berkumpul di sudut kota untuk mendengarkan orang yang mempunyai wawasan luas bercerita ketika mempunyai waktu luang. Waktu luang ini mempunyai translasi "skhole" di dalam bahasa Yunani, yang kemudian hari tidak hanya diserap menjadi school dalam bahasa Inggris, tetapi juga diinstitusikan. Mungkin saja, problem itu tidak terletak pada arah dari pendidikan, tetapi ketika dalam implementasi institusi sekolah.

Arti kehadiran staf khusus milenial ini pun sebenarnya tidak hanya dibungkus sebagai perwakilan anak muda ke dalam lingkaran terdekat Presiden yang begitu hirarkial, tetapi juga simbol kesuksesan karena latar belakang lulusan pendidikan yang ditempuh oleh mereka. Dengan pandangan seperti itu, saya yakin waktu yang dipunya bakal banyak habis jika kembali terlalu banyak bersinggungan dengan isu ini, layaknya perjalanan pendidikan saya sebelumnya. Padahal jumlah waktu ini sedang banyak berlimpah karena pandemik, akan mubazir jika digunakan serampangan.

Meskipun saya berencana kembali melanjutkan kuliah, tetapi itupun didasari dengan ekspektasi dan fleksibilitas yang sudah saya bangun bertahun-tahun melalui pengalaman dan pelajaran hidup dari orang-orang yang sudah baik hati berbagi banyak. Sehingga, jika para staf khusus milenial ini tidak melewati batas-batas yang bisa saya tolerir dan abaikan, tidak seharusnya irisan saya yang terlalu banyak dengan mereka mengganggu proses saya ke depannya.

Lagipula, kembali kepada poin awal, problem conflict of interest yang sedang heboh saat ini juga bukanlah hal yang mengejutkan. Jika mengingat cara bapak presiden Jokowi membangun infrastruktur politik dan membangun komunikasi dengan masyarakat, probabilitas hal tersebut bakal terjadi sangat tinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo