Bersabar Dulu, Belum Ada Tayangan Olahraga

Seperti biasa, dengan kondisi yang masih tidak stabil karena pandemik yang sedang terjadi, besok hari tetap tidak ada pertandingan olahraga yang bisa ditonton, baik di stasiun televisi atau langsung. Bahkan beberapa kompetisi sedang mempertimbangkan secara serius untuk mengambil keputusan menghentikan kompetisi musim ini dan menentukan juaranya.

Tentu saja, dengan alasan yang sudah dikomunikasikan berulang kali oleh orang yang bergerak di bidang kesehatan, secara akal sehat bisa diterima. Dengan penjelasan yang sama pula yang mendorong kegiatan komunitas olahraga yang saya ikuti pun sedang terhenti. 

Tetapi tidak bisa dipungkiri, saya merindukan atmosfer pertandingan. Sorak sorai, teriakan, yel-yel, atau juga seruan kepada tim musuh yang sudah terdengar sejak sebelum pertandingan dimulai, memmbangkitkan adrenalin. Para pemain, tim pelatih, dan juga wasit memasuki lapangan, yang sudah dinanti oleh penyelenggara pertandingan, wartawan, dan kameramen.

Kemudian, semua pemain dan pelatih saling bersalaman dan diminta menjaga sportifitas di lapangan. Mereka setuju dan berusaha menyanggupi. Tetapi semua orang sepertinya tahu dalam pikirannya, bahwa jiwa tersebut terkadang berkontradiktif dengan manifestasi natural dari gelora semangat pertarungan di lapangan.

Bola disepak dari titik tengah lapangan, tanda pertandingan sudah dimulai. Kelanjutannya adalah proyeksi dari persiapan dan kemampuan adaptif dari masing-masing tim dan setiap individu. Ada yang mendorong timnya lebih bertahan. Kemudian secara terstruktur mereka memikirkan membuat peluang setelah membiarkan dirinya tertekan. Ada juga yang mengambil peluang dengan mengatur tempo pertandingan sesuai harapanya. Dengan harapan dengan menguasai pertandingan, kemungkinan peluang menjadi semakin besar.

Bola pun tidak luput dari proyeksi tersebut. Apakah didistribusikan secara merata ke seluruh lapangan, atau lebih didorong ke samping untuk mendorng kualitas gocekan dan kecepatan pemain sayap, atau juga banyak berputar di tengah, sehingga terbuka peluang dari dari sana. Atau jika sekiranya pandangan pragmatis yang lebih menyertai, sekiranya bola berhasil direbut, pemain tersebut akan langsung menendang ke bagian pertahanan lawan. Atau juga makna pragmatis ini diartikan sebagai seberapa cepat bola sampai ke pemain terbaiknya.

Mereka banyak memikirkan kerangka atau solusi yang sekiranya berhasil. Tetapi bisa kah mereka melakukannya?

Untuk menjawab hal tersebut, sorak sorai dari bangku penonton biasanya membantu, menjaga semangat mereka dalam mengdapai realita. Jika diantara penonton ada yang mereka sayangi, tentu menjadi lebih semangat. Tetapi terkadang juga, ketika intensitas yang semakin panas dan keras, yang tak jarang berujung adu fisik dan  mereka terpaksa melihat dalam dirinya.

Melihat lagi relung-relung memori. Relung imajinasi. Dan relung aktualisasi diri. Berpikir, "Apa arti dari semua ini?"

---

Yah, penggambaran itupun sebenarnya hanya sebagian kecil dan mungkin sifatnya hanya makro. Ada banyak cerita mikro dari setiap kejadian kecil ataupun juga dari setiap pikiran dan keputusan individu. Termasuk dalam ini adalah, yang dipikirkan oleh kiper cadangan ketiga. Probabilitasnya untuk bermain rendah, dan jarang dikenal oleh fans.

Lebih dari itu adalah saya memang merindukan simulasi kehidupan manusia di lapangan bola. Lapangan basket juga tentunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo