Kartini Itu untuk Orang Banyak, Bukan Satu atau Dua Pihak Saja

Bertepatan dengan tanggal 21 April, hari ini diperingati sebagai hari Kartini. Hari tersebut diperingati sebagai titik tolak bagi para perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, ketika budaya semacam tidak berpihak kepada mereka.

Hal yang paling penting untuk diapresiasi dari semangat ini adalah, jika ada kasus kekerasan perempuan (dan juga anak), kaum yang mempunyai pemahaman feminis begitu gencar dan pantang mundur untuk memberikan bantuan advokasi dan moril. Dalam budaya yang lebih cenderung patriarki, dan dalam beberapa konteks memang tidak adil dalam penerapannya, sangat perlu untuk mengapresiasi hal tersebut.

Tentu, semangat tersebut bisa saja dibarengi dengan persamaan pikiran dan perasaan dari kaum yang tertindas dari relasi kuasa yang tidak seimbang. Hal yang jamak, apapun bentuknya. Jika perempuan tidak dalam keadaan tertindas, banyak yang melihat dan mengansumsikan perpecahan antara mereka begitu terasa. Tentu tak salah juga observasi tersebut.

Tetapi dengan jumlah meningkatnya penindasan kepada perempuan, terutama di Indonesia, menjadi jelas alasannya kenapa saya ingin mengapresiasi mereka.

Setelah mengapresiasi, barulah rasanya tepat untuk menilai semangat ini lebih objektif. Sebagai salah satu orang laki-laki (mohon maaf, saya konservatif dalam menilai jumlah jender), tentu saya punya beberapa pandangan pribadi tentang bagaimana yang sedang terjadi dan bagaimana harapan ke depannya.

---

Kartini terlahir dalam bagian keluar ningrat. Ketika sekolah, saya diajarkan oleh guru sejarah, bagaimana Kartini memanfaatkan keuntungan itu untuk membuka wawasannya lebih luas dengan belajar dan bertukar surat dengan orang yang di luar lingkungannya. Surat-surat yang berisi pertanyaan, imajinasi, beserta keresahan Kartini ini kemudian dibukukan dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang", dan dikenal menjadi pemantik semangat bagi pergerakan para perempuan di tanah Hindia Belanda. Bahkan imajinasi Kartini ini pun sedikit banyak juga disinggung di dalam buku Engineers of Happy Land karya Rudolf Mrazek. Terlepas banyak penelitian atau kontroversi yang diangkat setelahnya, rasanya tidak bisa diingkari, hal positif dari kehadiran Kartini menggerakan banyak orang, termasuk bangsa ini.

Bagian "banyak orang" ini lah yang terkadang tidak bisa saya lihat dalam narasi, komunikasi, atau berorganisasi kaum perempuan atau gerakan feminis saat ini. Tanpa mengabaikan relasi kuasa yang secara tak kasat mata memang tak seimbang, seringkali mereka terlalu sering mengambil posisi us vs them. Sehingga meskipun banyak riset yang memberikan pemahaman secara holistik, beserta sarannya yang terkait, tidak tepat jika rasanya di jangka panjang pengambilan posisi us vs them secara terus-terusan diambil.

Menilai hal ini pun juga karena saya sadar dengan posisi keuntungan jender yang dipunya. Dan perlu dicatat juga, layaknya angin yang makin kencang ketika makin tinggi, dalam setiap keuntungan lahir juga dampak buruk yang kepada diri sendiri maupun orang lain jika tidak ditanggulangi.

Memang sangat terlihat, terkadang usaha kaum perempuan ini mengarah mengubah posisi pendulum, sehingga berujung relasi kuasa yang lebih seimbang. Tidak salah memang, dan dalam beberapa konteks tentu sangat tepat jika itu yang dituju, Dan tidak salah, jika sesekali dilakukan metode us vs them dalam mendorong narasinya.

Tetapi perlu dicatat juga, budaya patriarki bukanlah budaya yang terjadi dalam satu abad terakhir. Budaya yang sudah turun menurun secara memori kolektif secara beratus abad. Bahkan budaya Minangkabau pun, yang dikenal karena mempunyai metode penurunan keturunan dan harta benda berdasarkan garis keturunan ibu, tetapi pada struktur politik dipegang oleh tiga pria, yaitu Alim Ulama, Cadiak Pandai, dan Datuak, atau dikenal sebagai tungku tigo sajarangan. Dengan menerima fakta itu, tidak mungkin jika sekiranya budaya patriarki selalu berujung penindasan kepada kaum marjinal.

Jika pengambilan posisi us vs them terus-terusan diambil, tidak hanya pergerakan hak perempuan akan kehabisan energi dan narasi dalam proses langkah panjang, tetapi akan mendorong sikap antipati dari pihak yang memang seharusnya melakukan evaluasi dan berbenah dengan posisi yang mereka punya. Mereka bahkan menjadi tidak tahu, apa yang harus mereka bagi kepada kaum marjinal. Ketika ketidaktahuan ini semakin buntu, tidak salah jika arti posisi perempuan hanya soal diberikannya posisi di lembaga pemerintahan atau perusahaan, tanpa adanya komunikasi dua arah dari kedua pihak, mengenai ekspektasi dan evaluasi bersama. Atau mungkin lebih buruk, menenangkan perempuan cukuplah dengan diberi uang yang banyak atau baju bagus.

Akhir kata, selama hari Kartini untuk semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo