Jam Tidur Berubah, Apa Selanjutnya?

Saya pernah bercerita bagaimana siklus jam tidur menjadi langkah awal untuk pengaruhi aktivitas secara kesuluruhan. Dan itu bener terasa saat ini.

Dalam hampir dua minggu terakhir, jam bangun tidur berhasil diubah menjadi antara jam tiga hingga setengah lima. Separah-parahnya, jika adzan sudah berkumandang, saya pasti akan kebangun, meski baru tidur jam 3 dini hari karena menonton film atau perasaan "nanggung" ketika membaca buku.

Untuk memaksa perubahan jam bangun tidak mudah. Bagi seseorang yang terbiasa tidur hingga larut sejak zaman kuliah, baik karena tugas, organisasi, aktivisme, bermain game, atau menonton film, yang ternyara berlanjut lebih jauh lagi setelah tingkat 4 dan memasuki masa profesional atau organisasi, hingga di awal pandemik ini, pola tersebut sudah menjadi kebiasaan.

Pada prses awalnya, memaksa mata terpejam setelah jam 12 sangat tidak ampuh. Tidak hanya perlu berjam-jam untuk kepala agar istirahat, tetapi juga saya tidak merasa segar ketika bangun. Hingga saya harus mengambil sikap tegas, jika masih belum mengantuk setelah jam setengah 4 pagi, berarti saya baru boleh tertidur pada jam 12 siang. Proses itu ternyata harus saya lakukan selama berhari-hari hingga hanya tidur beberapa jam, atau bahkan tidak tertidur beberap hari karena efek kopi untuk menahan kantuk. Agak beresiko memang, ketika menjaga daya tahan tubuh menjadi suatu kewajiban dimasa pandemik seperti ini.

Ketika kepala mulai sangat uring-uringanlah dan badan mulai terasa tidak baik, saya menajadi isitrahat. Setelah dari situlah, jam tidur saya mulai rutin pada pagi hari.

Ketika langkah awal sudah benar, saya mulai memperhatikan pola energi dan fokus saya. Ternyata, meskipun jam bangun sudah benar, belum tentu dengan pola kebiasaan yang lain. Masih perlu beberapa pembiasaan yang harus dilakukan. Terutama saat ini, sekitar jam satu siang, beberapa kali menjadi sering mengantuk. Jika dibiarkan tertidur, saya bisa terlelap hingga lebih 5 jam, yang berujung dekatnya dengan jam tidur malam dan makan malam.

Sehingga, terlihatlah beberapa tugas yang harus dilakukan untuk menajemen diri. Tidak apa-apa, di momen pandemik ini memang sudah saatnya mundur untuk kembali melihat diri sendiri. Mencoba kembali seperti anak berumur dua tahun, yang sering kesulitan mengatur jam aktivitasnya yang sesuai dengan jam tidur.

Dunia sudah bergerak terlalu kencang tak kendali, dan saya beberapa kali terjun dalam perputarannya, bahkan mencoba mengatur percepatan sentripetalnya. Di saat dunia dipaksa mundur, disitu juga manusia juga harus belajar mundur untuk beberapa langkah. Meresaspi semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo