Lazzaro, Dalam Keluguan Hadirlah Kritik Keras dan Gelap

Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak pernah mengeluh, selalu berpikir positif dan optimis?

Lazzaro, seorang pekerja buruh tani di desa Inviolata, hidup dengan cara tersebut. Tumbuh kembang dengan tidak mengetahui identitas dan keberadaan orang tuanya, ia selalu berusaha melakukan apapun yang diminta oleh orang sekitarnya, demi kebahagiaan sekitarnya. Lazzaro selalu dibully dan diminta melalukan apapun yang diminta, tetapi senyumnya yang natural juga selalu hadir. Termasuk ketika ia diminta menggendong neneknya ke meja, atau lebih tepatnya seperti demikianlah dianggap olehnya dan 50 pekerja buruh tani lainnya, demi bisa mengikuti perjamuan pesta lamaran kecil-kecilan di suatu malam. Tetapi ia sendiri tidak menikmati minuman yang sudah habis.

Film "Lazzaro Felice", atau dikenal sebagai "Happy as Lazzaro" dalam bahasa Inggris, meletakkan penggambaran karakter Lazzaro untuk hadir di relasi sosial yang tidak seimbang dari sistem feudal hingga kapitalisme di masa modern. Lazzaro dan para pekerja ini bekerja di perkebunan tembakau milik Marchesa Alfonsina De Luna, dengan Nicola sebagai orang yang keras untuk menegakkan peraturan. Sebagai ganti dari hasil panen, para pekerja ini menempati gubuk secara gratis dan kebutuhan sehari-hari yang diantarkan oleh van Nicola. Tetapi pencatatan keuangan Nicola selalu mencatat mereka dalam keadaan berhutang, sehingga mereka terjebak dalam keadaan yang tiada habisnya. Mereka terjebak dalam kondisi sharecropping (saya paham yang dimaksud, tetapi tidak menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia). Tetapi Marchesa selalu mengingatkan mereka, melalui kelas khusus kepada generasi mudanya, tentang ajaran Injil mengenai karunia tak terhingga dari Tuhan.

Lazzaro tidak mengeluh dengan keadaan tersebut. Ia tetap melakukan apapun yang diminta oleh pekerja lainnya, atau juga oleh Nicola. Nicola bahkan menilai Lazzaro sebagai petani luar biasa yang selalu rajin bekerja, tidak seperti petani lainnya. Oleh karena karakternya juga, Lazzaro berkenalan dengan Tancredi, anak Marchesa yang sangat manipulatif dan manja. Tacredi merasa tidak nyaman dengan berada di rumah megah ibunya di Inviolata, karena sangat jauh dari sinyal dan perasaan tidak pernah merasa didengarkan oleh Marchesa. Tacredi pun dengan mudah dapat meyakinkan Lazzaro bahwa mereka ditakdirkan sebagai saudara tiri.

Hubungan pertemanan pun terjalin, dan Tacredi pun meminta Lazzaro membantunya memalsukan penculikan dan mempengaruhi ibunya yang angkuh demi sejumlah uang. Keadaan berlangsung lancar untuk keduanya, hingga Lazzaro jatuh sakit dan tidak bisa membantu teman barunya bertahan hidup di alam liar. dan polisi datang untuk mencari Tacredi pada keesokan harinya. Dalam investigasi polisi, mereka justru menemukan kondisi sharecropping yang seharusnya sudah ilegal sejak lama. Polisi kemudian mengevakuasi semua pekerja keluar dari kampung, tetapi tidak dengan Lazzaro.

Sumber : IMDB
Lazzaro berusaha mencari Tancredi, tetapi berujung terjatuh dari tebing. Serigala liar muncul, dan hendak memakan dirinya. Tetapi karena mencium aroma orang baik, Lazzaro dibiarkan tertidur selama berpuluh tahun dan menjaganya. Selama ia jatuh tertidur, Marchesa ditangkap karena skandalnya dan kasusnya terkenal sebagai "Great Swindlers". Nicola mencari pengangguran atau pengungsi lainnya yang bisa diajak "kerjasama" untuk menggarap lahan kosong, Tacredi dan pasangannya jatuh dalam kemiskinan karena harta bendanya disita oleh bank, dan para pekerja yang masih hidup berusaha bertahan dengan cara apapun di pinggiran rel kereta, termasuk menipu dan merampok perabotan rumah mewah Marchesa di Inviolata.

Ketika terbangun, dalam suatu kebetulan beserta tiadanya perubahan pada Lazzaro yang sulit dipahami oleh para pekerja, ia pun bertemu dengan mereka dan ikut tinggal bersama. Tetap dengan senyumnya yang natural dan membantu apapun yang diminta, Lazzaro diajak untuk membantu mereka menipu dan mengajarkan para pekerja tentang tanaman liar bermanfaat yang tumbuh di sekitar rel kereta. Dalam kesehariannya, secara tidak sengaja, ia bertemu kembali dengan yang dicarinya sebelum tertidur, yaitu Tacredi.

Lazzaro pun akhirnya belajar semuanya sudah berubah. Anak-anak para pekerja sudah tumbuh besar, para pekerja sudah jadi tua seperti nenek mereka dahulu, dan kekayaan Tacredi disita oleh bank. Setelah melewati momen spiritualnya ketika mendengarkan alunan piano gereja, keesokannya ia pergi meninggalkan keluarga pekerja dan pergi ke bank. Di bank, ia meminta kekayaan Marchesa dikembalikan. Setelah pegawai dan klien bank menyadari Lazzaro tidak membawa senjata api, mereka menjatuhkan dan menghanjarnya hingga meninggal. Sebelum meninggal, Lazzaro sempat melihat serigala yang dulu menjaganya, kemudian pergi meninggalkannya.

---

Didireksi oleh Alice Rohrwarcher, film ini seperti memperlihatkan transisi Italia dari peradaban feudal ke peradaban modern yang cenderung kapitalistik. Dengan menjadikan Lazzaro (Adriano Tardiolo) sebagai titik sentral yang tidak mengalami perubahan karakter dan cara memahami hidup, melalui mata Lazzaro pula, penonton diajak untuk melihat perubahan sekitarnya dalam perpindahan periode waktu secara lebih objektif.

Penggambarannya yang bagi saya pribadi sudah agak mengganggu ini pun dibenturkan dengan pemahaman spiritual Katolik yang sudah berkembang secara berabad-abad di Italia. Selain kelas yang dibuka Marchesa de Luna untuk anak-anak pekerja, Alice Rochwarcher menggambarkan hal tersebut ketika Lazzaro memasuki gereja untuk mendengarkan alunan piano gereja. Ketika ia dan pekerja lainnya diusir karena gereja sedang tidak dibuka untuk umum, alunan piano juga turut meninggalkan gereja. Para suster pun memerintahkan pintu ditutup nada piano tidak turut keluar. Disini bisa dilihat kritik terhadap relasi gereja dengan masyarakat begitu kental.

Sumber : IMDB
Lazzaro pun meninggal ketika para pekerja memutuskan kembali menyusun ulang hidup mereka di rumah mewah Marchesa de Luna di Inviolata beserta kebunnya yang luas dan Tacredi beserta pasangannya sudah mulai menerima keadaan melarat mereka. Transisi yang halus Alice Rorchwarcher dalam perpindahan semua latar belakangnya beserta pola pikir semua karakter menjadikan film ini sangat pas untuk ditonton di suasana Paskah yang baru saja berlalu beberapa hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo