Reboisasi Rambut

Sudah hampir dua bulan pandemik ini terjadi di Indonesia, begitu juga nasib rambut yang sudah kembali seperti euforia anak baru masuk kuliah. Saya belum mempunyai keyakinan kuat menuju tukang rambung, mengingat ada berapa banyak kepala yang harus dia pegang dalam sehari. Apalagi jika mengetahui progres infeksi yang masih belum bisa dikendalikan. 

Beberapa teman menyarankan saya untuk mencoba memotong rambut sendiri. Ah sayang sekali, saya mempunyai pengalaman kurang enak tentang hal ini.

---

Ketika masih SMP, suatu hari rambut sudah dalam keadaan sangat panjang. Hari sudah malam, mungkin sudah lewat dari jam 8, dan kota Padang bukanlah seperti Jakarta, dimana kehidupan masih berjalan hingga lewat dini hari. Dan juga kota Padang bukanlah seperti Bandung, dimana tidak ada hawa dingin untuk membuat kepala lebih sejuk, tidak perlu merasa gerah.

Saya pun bergerak ke cermin di depan meja belajar. Melihat-lihat bagian ikal rambut yang memanjang, dan memikirkan apa yang bisa dilakukan. Entah kerasukan apa, apakah terpikir malas berurusan dengan guru di sekolah ataupun keisengan saja, saya mengambil gunting dari kotak jahit mama saya.

Tentu pada awalnya, rasa ragu masih terlintas, takut saja jika salah potong. Saya mencoba potong sedikit. Sepertinya terlihat aman. Potong sedikit lagi, masih terlihat aman. Setelah beberapa kali masih terasa aman, setan pun datang menguasai kepala, "bantuaknyo den punyo bakat jadi tukang potong abuak ko mah."

Potong sana, set set set.

Potong sini, set set set.

Potong bagian atas, set set set.

Potong bagian belakang, set set set.

Ketika tangan sudah terasa capek, saya mencoba melihat lebih detail apa yang sudah dilakukan. Ditambah amarah dan sinis mama yang melintas lewat, saya tahu bencana sudah terjadi. Colak cukup besar macam danau toba terbentuk. Di bagian depan ada bentuk seperti lancip. Di bagian kiri dan kanan ada semacam garis tipis tidak merata. Tidak tahu apa yang terjadi di bagian belakang. Sial, di malam itu juga, Om dan Etek saya akan mampir sebentar ke rumah.

Besoknya saya pergi ke sekolah dengan topi, kalau tidak salah tidak terlalu sering saya buka dalam hari itu. Pulangnya, saya langsung menuju tukang potong rambut di kawasan Tarandam. Langsung minta dipotong 1 cm. Tentu Uda yang memotong sempat bertanya tentang apa yang terjadi. Tapi karena sudah keburu malu, saya jawab secukupnya saja.

Beberapa minggu setelahnya, ketika rambut kembali sudah memanjang, ternyata jejaknya masih terlihat. Danau Toba masih belum menghilang, dan bentuk lancip masih ada. Rambutpun tidak setebal sebelumnya. Mau tidak mau, layaknya anak IPDN, rambut kembali dipotong sependek 1 cm. Setelah botak, saya memberikan minyak kemiri langsung ke kulit kepala hampir setiap hari, kalau tidak salah hingga kelas 2 SMA.

Proses reboisasi secara perlahan-lahan berhasil. Danau Toba sudah menghilang saat ini dan rambut juga kembali menebal, tetapi tidak dengan bentuk lancip. Teman sekolah bahkan menyebut saya sebagai Avatar Aang karena hal tersebut, setiap saya kembali memotong rambut menjadi 1 cm.

Ketika saya masih rutin mengikuti fitness di tahun lalu, ada seorang ibu yang ingin nitip pertanyaan ke mama saya, apa saja nutrisi beliau berikan hingga saya mempunyai rambut tebal seperti ini. Ingin rasanya saya jawab langsung, tetapi berhubung beliau sudah jauh lebih tua, saya jadi tidak enak hati memberikan jawaban yang tidak memuaskan. Tertawa sedikit dan memberikan janji palsu bakal bertanya ke mama sepertinya sudah dari lebih cukup. 

---
 
Tetapi tidak apa, menjaga jarak dan pergerakan seperti ini memang perlu dilakukan, agar tidak merepotkan orang-orang yang tidak punya kemewahan duniawi dan tenaga kesehatan lebih jauh. Saat ini pun tidak ada kewajiban pula untuk harus bertemu orang dengan keadaan rapi, berhubung saya sudah resign sejak awal bulan April. 

Jadi saya akan mencoba membiasakan diri berambut gondrong seperti ini lagi. Bisa saja di saat situasi dan kondisi sudah selesai, bukan karakter dan pemikiran saya saja yang berkembang, tapi rambutpun akan seperti petapa gunung.

Namaste.

Komentar