Self Quarantine dan Amarah
Sudah hampir sebulan kondisi krisis pandemik ini dinyatakan oleh pemerintah. Dan lebih dari sebulan juga saya mencoba bertenang dan melakukan hal-hal yang sudah seharusnya saya lakukan dan nikmati. Beberapa hal sudah saya coba uraikan dalam beberapa postingan. Tetapi ada suatu hal yang saya tak menyangka akan sering muncul akhir-akhir ini, yaitu amarah. Apakah pemicu awalnya dari kelambanan pemerintah negara ini? Mungkin iya, mungkin tidak. Mungkin iya karena kasus kekacauan disiinformasi dan koordinasi mengenai status pasien di Cianjur sangat memicu amarah saya. Tapi sepertinya saya udah mengatur ekspektasi saya dengan cukup baik mengenai pemerintah, membaca kondisi pandemik secara global secara tidak berlebihan, mencoba melihat, menganalisa, dan memaknakannya secara luas, mengatur jarak dan frekuensi bermain sosial media, dan mengatur frekuensi sikap kritis atas semua isu publik. Sejauh ini, proses disiplin diri cukup berjalan baik, walau kurang lancar, tetapi rasanya tidak masal...