Postingan

Menampilkan postingan dengan label Perjalanan

Jarak ke Sumber Pangan Menentukan Jarak Kepada Sesama

Gambar
Salah satu kenyamanan yang jamak ditemukan ketika bermain ke desa atau kampung adalah keramah tamahan warganya kepada pendatang. Para pendatang ini akan dianggap sebagai tamu, kemudian diundang ke rumahnya, diajak mengopi dan sedikit cengkrama, atau bahkan makanan pun tersedia untuk tamu. Mereka seperti tak segan berbagi pengalaman hidup ke tamu yang baru dikenalnya di hari itu. Cerita ini pun sering saya lihat di novel, film, atau tayangan dokumenter televisi. Well , ada kemungkinan itu hanya pengalaman saya dan beberapa orang petualang atau traveller  yang mungkin bisa dengan mudah akrab dengan mereka. Mungkin saja tidak terjadi pada turis-turis yang tujuannya hanya mencari pelarian dari kepenatan kota, jadi kurang mempunyai kadar toleransi yang baik dalam menghadapi perbedaan budaya, pikiran, atau juga rasa. Apalagi jika mengingat jarak perbedaan antara kota dan desa itu semakin jauh di zaman sekarang. Kadar toleransi yang rendah ini juga yang membuat kehadiran guide segitu pe...

Reboisasi Rambut

Sudah hampir dua bulan pandemik ini terjadi di Indonesia, begitu juga nasib rambut yang sudah kembali seperti euforia anak baru masuk kuliah. Saya belum mempunyai keyakinan kuat menuju tukang rambung, mengingat ada berapa banyak kepala yang harus dia pegang dalam sehari. Apalagi jika mengetahui progres infeksi yang masih belum bisa dikendalikan.  Beberapa teman menyarankan saya untuk mencoba memotong rambut sendiri. Ah sayang sekali, saya mempunyai pengalaman kurang enak tentang hal ini. --- Ketika masih SMP, suatu hari rambut sudah dalam keadaan sangat panjang. Hari sudah malam, mungkin sudah lewat dari jam 8, dan kota Padang bukanlah seperti Jakarta, dimana kehidupan masih berjalan hingga lewat dini hari. Dan juga kota Padang bukanlah seperti Bandung, dimana tidak ada hawa dingin untuk membuat kepala lebih sejuk, tidak perlu merasa gerah. Saya pun bergerak ke cermin di depan meja belajar. Melihat-lihat bagian ikal rambut yang memanjang, dan memikirkan apa yang bisa...

Dunia yang Tak Mengenal Sepak Bola dan Beckham

Gambar
Ketika kontemplasi dan menuliskan bagian ke dua dari  "Bapak Tua Idealis dan Penjelajah" . Rasanya, ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah ditonton, saya menjadi teringat film dokumenter dengan David Beckham sebagai tokoh utama. Film yang berjudul David Beckham : Into The Unknown , ditayangkan pertama kali di tahun 2014 dan oleh BBC. Kompas TV mengambil hak siarnya, yang kemudian ditayangkan kepada para penonton yang masih belum tidur di kala tengah malam akhir minggu tiba. Dan saya lah salah satu penontonnya. Sewaktu film ini akan diproduksi, meskipun sudah pensiun, Becks berpikir tentang personalitas dan pengalamannya yang sangat mengakar kuat di sepak dunia bola. Tentu dunia tersebut yang mengembangkannya selama berpuluh tahun. Tetapi faktor ini juga yang membuat ia merasa tak memahami banyak hal di luar dunianya. Kehadiran orang-orang yang hanya dekat dengan Becks karena sesuatu hal yang ingin mereka dapatkan dari dirinya, mempersulit memahaminya. Dengan dor...

Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (2)

Hari sudah melewati senja, tetapi gelombang laut semakin tak beraturan. Mungkin perubahan temperatur eksternal dari senja menuju malam mengubahnya menjadi lebih ganas. Tidak ada lagi tawa riang gembira dan pandangan kagum dari turis karena melihat keindahan alam kepulauan Sunda Kecil. Beberapa penumpang kapal sudah tidak tahan lagi untuk menahan muntah. Terlihat di beberapa antara mereka yang sudah bolak-balik menuju kamar mandi. Kalaupun yang bisa bertahan menahan gejolak perut, lebih baik tidur seperti teman saya yang sudah terlelap sejak awal perjalanan. Alam menunjukkan kelasnya untuk yang bersikap sombong. Karena sedang menghadapi dua gejolak alam secara sekaligus, gunung di Banyuwangi yang meletus dan gelombang laut yang sedang ganas, sepertinya para turis tersebut akhirnya suatu hal, bahwa terkadang keindahan itu mematikan. Terutama mungkin untuk segerombolan bule yang terpaksa ikut mengisi kapal ini hingga hampir sesak. Saya rasa ekspektasi mayoritas dari mereka ketika ma...

Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (1)

Di dalam postingan beberapa hari lalu saya menyebutkan tentang pengalaman saya ngobrol panjang lebar dengan seorang bapak yang baru saja dikenal di atas kapal, dalam perjalanan dari Labuan Bajo ke pelabuhan Sape. Posisi saya sedang duduk di atas kursi yang mengitari meja lingkaran, memikirkan banyak hal sambil menahan rasa sakit di kepala akibat tidak bisa tertidur, tidak seperti teman saya yang gampang langsung tertidur di sebelah saya di atas lantai. Ketika sedang melamun, seorang bapak bersama temannya muncul, (*kurang lebih percakapannya seperti ini, jika tidak salah ingat.) "Mas, boleh duduk di kursi ini?" Situasi dan kondisi memang lagi sedikit sulit akibat meletusnya gunung berapi di Banyuwangi, sehingga  space  kosong saja menjadi rebutan di antara penumpang yang lumayan banyak. "Ohya, silahkan pak, memang kursi itu kosong." "Terimakasih. Itu temannya kenapa?" "Sedang istirahat saja pak. Kebetulan memang badannya agak sedikit kurang bai...

Penyesalan di Atas Laut

Gambar
Dua hari lalu saya menonton video lanjutan Watchdoc Documentary dalam perjalanan mereka mengelilingi Indonesia, yang dinamai Ekspedisi Indonesia Biru. Video yang saya tonton kali itu adalah tentang pengalaman mereka merayakan Idul Fitri di tengah perjalanan kapal dari Merauke Kepulauan Morotai, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Watchdoc, yang dipimpin Dandhy Laksono, dikenal sebagai produsen film dokumenter perjuangan kaum tertindas dari ketimpangan kuasa, tetapi bagi saya, video berdurasi pendek seperti ini sama pentingnya. Selama menonton video ini saya jadi teringat momen perjalanan pribadi, pada sekitar tahun 2015. Ada sedikit kesamaan situasi dengan perjalanan Dandhy Laksono, dimana saat itu berdekatan hari lebaran. Setelah berada di pedalaman flores hampir sebulan, tanggal di kalender mendekati hari lebaran. Di awal ketika datang ke pedalaman saya , saya beberapa kali mengutarakan ke teman yang juga satu tim proyek bahwa besar kemungkinan untuk merayakan lebaran d...

Sebuah Kontemplasi Sikap Hidup di Awal 2020

Gambar
Hampir seminggu ini badan sakit, hingga harus bed rest . Awalnya hanya sakit kepala, dan dicoba dengan minum panadol dan minum teh hangat. Kebetulan stok untuk membuat teh, seperti daun telang, jahe, atau sariwangi biasa masih banyak tersedia di rumah. Tetapi dalam keberjalanan waktu, suhu badan naik turun, tubuh mulai makin sering pegal, terutama di sekitar leher bagian belakang dan punggung bagian bawah, serta mulai sering sakit kepala. Puncaknya hari kamis di minggu kemarin, sehari setelah bertemu dengan mahasiswa yang ingin diskusi mengenai desain teknologi dalam mitigasi bencana, bertemu dengan dua kawan lama yang dulu sama gilanya berusaha mengubah budaya kampus kami yang kami pikir terlalu arogan, dan juga malamnya, mengalah sedikit untuk melayani mantan yang ingin menelpon, karena hal-hal yang seperti biasa saya tidak bisa mengerti alasannya. Besoknya, badan segitu panas, bahkan bergerakpun sulit, karena segitu menggigil merespon Bandung yang sangat dingin. Sekarang di saat ...

Commuter Line Jabodatabek dan Bekasi

Gambar
Sebagai orang yang mempunyai kampung di Padang, Saya kira-kira sudah cukup lama hidup di Pulau Jawa. Kalau dihitung-hitung, hampir total 13 tahun, 5 tahun pertama di Depok sejak lahir dan selama 8 tahun hingga sekarang di Bandung. Tapi, bagi saya pribadi, lelucon tentang Bekasi adalah sesuatu yang tidak terlalu bisa dipahami oleh saya. Minimal di timeline sosial media saya, lelucon tentang Bekasi adalah bahan yang bertahan untuk waktu yang lama. Sampai saya mengalaminya langsung hari minggu kemarin. Pada hari itu saya sedang bermaksud menghadiri pernikahan dua teman saya yang berada di Bekasi. Dalam hitung-hitungan pengalaman saya menaiki commuter line  Jabodetabek selama ini, rasanya waktu itu saya kurang lebih hanya akan menghabis waktu sekitar satu jam dari Depok menuju Bekasi. Apa dikata, perkiraan waktu saya meleset jauh. Saya butuh waktu kira-kira hampir 2 jam mencapai tujuan. Alhasil ketika saya datang, pernikahan telah selesai. ---- Mengenai commuter line , ...

Pengalaman dalam Merespon Konflik Horizontal

Gambar
Beberapa kejadian terakhir di Indonesia cukup menantang ketenangan masyarakat. Dalam hal ini, tentang krisis konflik horizontal mengenai umat beragama. Dalam proses Indonesia menuju negara demokrasi, ini merupakan sebuah batu ujian yang harus dihadapi. Dan batu ujian ini tak akan bisa dilewati jika pengalaman yang membenturkan pandangan-pandangan yang berbeda ini, tidak dihadapi dengan kepala dingin dan ketenangan dalam memahami pengalaman-pengalaman tersebut. Di Kampung Kombo, 2 tahun lalu .. Sekitar lebih dari dua tahun yang lalu, ketika saya masih jadi bagian dalam suatu proyek NGO di pedalaman Waerebo, Flores, sedang diadakan acara misa kematian. Biasanya dalam adat manggarai, dalam sepengamatan saya, setelah jenazah dimakamkan, rangkaian acara kematian dimulai dengan misa kematian terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Pada besok harinya, baru dimulai rangkaian acara yang murni merupakan adat dari suku manggarai, seperti doa untuk jenazah ya...