Pengalaman dalam Merespon Konflik Horizontal

Beberapa kejadian terakhir di Indonesia cukup menantang ketenangan masyarakat. Dalam hal ini, tentang krisis konflik horizontal mengenai umat beragama. Dalam proses Indonesia menuju negara demokrasi, ini merupakan sebuah batu ujian yang harus dihadapi. Dan batu ujian ini tak akan bisa dilewati jika pengalaman yang membenturkan pandangan-pandangan yang berbeda ini, tidak dihadapi dengan kepala dingin dan ketenangan dalam memahami pengalaman-pengalaman tersebut.

Di Kampung Kombo, 2 tahun lalu ..

Sekitar lebih dari dua tahun yang lalu, ketika saya masih jadi bagian dalam suatu proyek NGO di pedalaman Waerebo, Flores, sedang diadakan acara misa kematian. Biasanya dalam adat manggarai, dalam sepengamatan saya, setelah jenazah dimakamkan, rangkaian acara kematian dimulai dengan misa kematian terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Pada besok harinya, baru dimulai rangkaian acara yang murni merupakan adat dari suku manggarai, seperti doa untuk jenazah yang dipimpin oleh tetua adat, perjamuan makan untuk masyarakat sekitar, dan . Biasanya, acara ini dilakukan ketika keluarga yang ditinggalkan sudah mempunyai cukup dana untuk menyelenggarakan rangkaian acara kematian ini. Pada waktu itu, seingat saya jenazah sudah dimakamkan sekitar 2 bulan sebelumnya. Acara misa diadakan di kampung Kombo, salah satu kampung dimana banyak warga Waerebo juga bertempat tinggal karena budaya mereka atau suatu hal yang sulit digambarkan dalam postingan blog ini.

Singkat cerita, setelah misa selesai dilaksanakan oleh Romo, yang menyelenggarakan acara mempersilahkan para pelayat untuk mengambil makanan yang dihidangkan. Makanan yang dihidangkan ketika itu ada, nasi merah, mie kuning, sayuran, jagung, sambal khas manggarai, serta daging. Daging yang disediakan sendiri bervariasi, ada daging kerbau, sapi, kambing, dan babi.

Ya, mereka menyediakan babi. Bahkan sebagai informasi, babi dianggap sebagai makanan yang paling keramat bagi mereka. Semakin besar babi yang akan disembelih, semakin terpandanglah keluarganya.

Saya sebagai anak muda normal, pada waktu itu ada keinginan untuk mengambil daging babi. Tetapi, salah satu warga menahan saya.

"Mas, jangan diambil daging ini mas. Ini daging B2, daging ini haram."

I was quite surprised, till now actually.

Tentang daging babi haram untuk dikonsumsi, sudah tak perlu dibantah, jika berdasarkan pada agama yang sedang saya anut. Tapi, ketika hal seperti ini diingatkan oleh suku yang tak hanya menganut kuat kepercayaan lokal dari leluhur, tetapi tidak menolak mentah-mentah ketika bertukar pandangan dengan Romo. Sedangkan saya pribadi, seringkali menggampangkan kepercayaan lokal dengan mendefinisikan sebagai animisme. Belum banyak yang saya pahami tentang kepercayaan suku Manggarai.

Sehingga, pandangan Cak Dandhy Laksono berikut ini begitu mewakili benak saya mengenai kepercayaan masyarakat.



Postingan facebook Cak Dandhy Laksono


Indonesia Akhir-Akhir Ini

Seperti yang disebutkan di awal, dalam kurang lebih seminggu ini, beberapa kejadian cukup menyita perhatian banyak orang, tidak hanya saya pribadi. Pembacokan ustad, perkusi biksu karena dianggap bakal mempengaruhi orang-orang untuk keluar dari agama kebanyakan warga setempat, penyerangan misa pagi hingga Romo terluka dan kepala patung Bunda Maria dipenggal, dan pengrusakan kaca mesjid. Kejadian ini sungguh tidak biasa, karena terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.

Bisa dibilang, dalam sepengamatan saya, ini masih dipengaruhi oleh konflik pilkada provinsi Jakarta tahun lalu. Dimana konflik yang terjadi antara orang-orang yang merasa lebih mencenderungkan diri pancasilais sehingga pengaruh sektarian agama harus diminimalkan dengan orang-orang yang merasa lebih relijius sehingga kebijakan atau ketika memilih pemimpin jangan membantah apa yang mereka tafsir dari kepercayaannya. Pilkada Jakarta yang ketika pelaksanaan hanya terjadi di dalam ruang lingkup provinsi tersebut, tetapi efek meluas hampir ke seluruh Indonesia. Pandangan ini pun diperkuat oleh artikel Tirto dari berbagai sumber, yang menyatakan bahwa 41 persen berita berasal dari Jabodetabek, 45 persen non-Jabodetabek, 10 persen berita internasional, dan 4 persen berita kompilasi.

Posisi media pada masa kini yang tidak hanya sekedar memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga mempengaruhi sosial, ekonomi, politik, dan budaya, tentunya akan memberikan bayangan secara tidak langsung efek dari ketika dan setelah pilkada Jakarta.

Tetapi, ada hal lain yang harus diperhatikan, jika dikaitkan dengan pengalaman kita sebagai berbangsa dan bernegara yang terdiri dari berbagai suku dan agama. Sejauh apa kita kedewasaan kita dalam merespon perbedaan itu, tetapi juga sekaligus memahami apa yang sudah menjadi kepercayaan kita pribadi?

I mean, di setiap individu punya berbagai pengalaman dan pembelajaran yang berbeda. Tetapi disaat yang sama, juga individu ini sendiri hidup dalam society. Dalam konteks Indonesia yang sangat beragam, sejauh apa pengalaman yang berbenturan, yang makin diperparah benturannya oleh era digitalisasi, mampu mendewasakan setiap manusia?

Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019

Saya ada memiliki sedikit pemikiran bahwa konflik horizontal yang terjadi akhir-akhir ini lebih banyak didorong oleh politikus elitis yang sepertinya malas berpikir atau berpikir gampang untuk mendapatkan suara di pemilu. Hal ini tidak saya pribadi, sudah beberapa tulisan di media massa maupun online yang tidak hanya merasakan, tetapi mampu menganalisanya seperti hal itu.

Mungkin saja asumsi tersebut benar. Tetapi pada akhirnya, demokrasi yang berasaskan "dari, untuk, dan oleh rakyat" seharusnya mendorong kita sebagai masyarakat untuk yang berada garda terdepan untuk belajar secara bijak dari pengalaman-pengalaman yang berbenturan ini sebelum menetukan arah negeri ini ke depan.

Sehingga, ada baiknya kita justru harus belajar ke masyarakat yang justru terpencil dari kemajuan teknologi, bahkan minim listrik, dalam cara merespon pemikiran atau budaya dari luar terhadap kepercayaan yang dianut selama ini. Mereka-mereka ini lah yang justru lebih bijak dalam memahaminya.

Komentar