Kesabaran di Dalam Air Berlumpur?
Hari ini, notifikasi aplikasi Daily Tao memberikan quote-nya,
---
Posisi saya di basket adalah playmaket atau shooting-guard. Jika sedang menjadi playmaket, sejujurnya, quote di atas sering saya lewati dan harus pahami. Seringkali, karena prioritasnya adalah mengatur serangan, meskipun ada ruang kosong yang mungkin terbuka, saya harus mempertimbangkan kemungkinan lainnya terlebih dahulu. Apakah ruang kosong ini sesuatu yang lebih baik daripada peluang-peluang yang tidak saya lihat. Pemikiran sabar diperlukan.
Itulah sebabnya seorang playmaket tidak boleh sering-sering melihat ketika menggiring bola, karena mengurangi kemungkinan suatu peluang yang lebih baik untuk bisa terlihat oleh mata. Apalagi suatu tim yang diatur ini tidak sekedar bermain santai, tetapi ada skema atau pola yang disepakati bersama atau diminta pelatih.
Tetapi disaat kondisi sedang genting, katakanlah tim sedang ketinggalan poin sebesar double digit dan juga sudah mencapai team foul, sejauh apa rasa bersabar tetap dibutuhkan? Atau setidaknya, agar pertanyaannya lebih bijak, dimana rasa batas antara rasa sabar dan bersikap pragmatis?
Berkaca kepada pengalaman sendiri, jika sekiranya saya sedang tidak bisa mengatur permainan dengan baik, biasanya saya akan dimaksimalkan mengambil posisi shooting-guard untuk mencari ruang tembak yang tepat, entah jumper atau three-point, atau diminta duduk di bangku cadangan oleh pelatih, memberi ruang dan waktu kepada yang sedang panas.
Tetapi jika sekiranya saya tetap diminta menjadi playmaket, dengan berbagai macam alasan, biasanya saya akan mencoba kembali bersabar kepada team-plan terlebih dahulu, apakah masih bisa dimaksimalkan atau tidak. Jika dinilai sudah sangat buntu, biasanya saya akan mencoba bersikap tegas untuk mengubah keadaan, entah dengan metode apapun. Terlepas apakah berjalan atau tidak, nanti saja dipikirkan. Pikiran pragmatis akan didorong terlebih dahulu. Biasanya saya akan mendorong atau memberanikan diri mengambil keputusan bermain sendirian atau mengoper bola ke teman yang lagi panas. Atau bahkan, time out diambil, dan mendiskusikan dan memaksakan perubahan skema yang dijalankan ke semua pemain beserta role-nya.
Setelah itu, jika kondisinya sudah sedikit lebih baik, biasanya saya biarkan berjalan terlebih dahulu. Rasa sabar kembali dibiarkan. Setidaknya, ini lah cara berpikir untuk saya yang hobi basket di level amatiran.
---
Tetapi dengan pengalaman begitu, atau bisa jadi sebenarnya itulah cara hidup saya selama ini, mungkinkah sebenarnya saya membantah quote Tao di atas? Memaksakan diri untuk mengerti kondisi pertandingan yang sengit, padahal air sangat berlumpur? Atau bisa jadi sebenarnya saya juga melakukan langkah Tao, karena melakukan apa saja yang bisa dilakukan terlebih dahulu dan tidak langsung mengekspektasikan lhasil dari awal?
Sejujurnya, saya tidak tahu ...
Trying to understand is like straining through muddy water. Have the patience to wait! Be still and allow the mud to settle.Benarkah?
---
Posisi saya di basket adalah playmaket atau shooting-guard. Jika sedang menjadi playmaket, sejujurnya, quote di atas sering saya lewati dan harus pahami. Seringkali, karena prioritasnya adalah mengatur serangan, meskipun ada ruang kosong yang mungkin terbuka, saya harus mempertimbangkan kemungkinan lainnya terlebih dahulu. Apakah ruang kosong ini sesuatu yang lebih baik daripada peluang-peluang yang tidak saya lihat. Pemikiran sabar diperlukan.
Itulah sebabnya seorang playmaket tidak boleh sering-sering melihat ketika menggiring bola, karena mengurangi kemungkinan suatu peluang yang lebih baik untuk bisa terlihat oleh mata. Apalagi suatu tim yang diatur ini tidak sekedar bermain santai, tetapi ada skema atau pola yang disepakati bersama atau diminta pelatih.
Tetapi disaat kondisi sedang genting, katakanlah tim sedang ketinggalan poin sebesar double digit dan juga sudah mencapai team foul, sejauh apa rasa bersabar tetap dibutuhkan? Atau setidaknya, agar pertanyaannya lebih bijak, dimana rasa batas antara rasa sabar dan bersikap pragmatis?
Berkaca kepada pengalaman sendiri, jika sekiranya saya sedang tidak bisa mengatur permainan dengan baik, biasanya saya akan dimaksimalkan mengambil posisi shooting-guard untuk mencari ruang tembak yang tepat, entah jumper atau three-point, atau diminta duduk di bangku cadangan oleh pelatih, memberi ruang dan waktu kepada yang sedang panas.
Tetapi jika sekiranya saya tetap diminta menjadi playmaket, dengan berbagai macam alasan, biasanya saya akan mencoba kembali bersabar kepada team-plan terlebih dahulu, apakah masih bisa dimaksimalkan atau tidak. Jika dinilai sudah sangat buntu, biasanya saya akan mencoba bersikap tegas untuk mengubah keadaan, entah dengan metode apapun. Terlepas apakah berjalan atau tidak, nanti saja dipikirkan. Pikiran pragmatis akan didorong terlebih dahulu. Biasanya saya akan mendorong atau memberanikan diri mengambil keputusan bermain sendirian atau mengoper bola ke teman yang lagi panas. Atau bahkan, time out diambil, dan mendiskusikan dan memaksakan perubahan skema yang dijalankan ke semua pemain beserta role-nya.
Setelah itu, jika kondisinya sudah sedikit lebih baik, biasanya saya biarkan berjalan terlebih dahulu. Rasa sabar kembali dibiarkan. Setidaknya, ini lah cara berpikir untuk saya yang hobi basket di level amatiran.
---
Tetapi dengan pengalaman begitu, atau bisa jadi sebenarnya itulah cara hidup saya selama ini, mungkinkah sebenarnya saya membantah quote Tao di atas? Memaksakan diri untuk mengerti kondisi pertandingan yang sengit, padahal air sangat berlumpur? Atau bisa jadi sebenarnya saya juga melakukan langkah Tao, karena melakukan apa saja yang bisa dilakukan terlebih dahulu dan tidak langsung mengekspektasikan lhasil dari awal?
Sejujurnya, saya tidak tahu ...
Komentar
Posting Komentar