Setelah Sebulan Rutin Setiap Hari Menulis Blog ...

Terhitung sejak tanggal 2 Maret, saya mencoba (baca : memaksakan) pembiasaan diri menulis blog satu post setiap hari. Sebuah keputusan yang awalnya terlihat tidak terlalu sulit ketika dilakukan, karena di kepala ini sepertinya berputar terus. Seorang teman menilai saya ini bekerja seperti CPU server.

Dan sepertinya realitasnya memang seperti itu.

Ide, analisa, pengalaman, pengetahuan dan media yang dikonsumsi, atau juga kontemplasi yang berputar di dalamnya, seperti tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Meskipun tulisan saya sering berkutat seputar pandemik Covid-19, mungkin karena concern pribadi juga sebagai seseorang yang pernah menjadi korban bencana, tetapi masih ada banyak ruang yang bisa dikembangkan dan dituliskan. Contohnya, seperti ulasan tentang film, series, atau buku.

Dan meskipun terkadang saya seperti belum melepaskan diri mengenai topik Corona, saya mencoba menuliskan dalam bentuk kontemplasi, optimis, atau juga membahas sisi lain yang jarang dimunculkan dari media. Setidaknya, daripada timeline Twitter @afifherya yang cenderung keras atau ungkapan candaan sarkas ke pemerintah pusat, kesan tersebut saya jaga untuk tidak sampai terlalu kebawa kesini. Saya ingin memberikan suasana dan bentuk lingkungan yang berbeda di blog.

Kesulitan yang justru sulit adalah ketika mencari perbendaharaan kata atau kalimat yang tepat untuk menggambarkan yang dipikirkan. Jika dikembalikan lagi analogi server, data itu ada dan tersimpan, tapi banyak bug yang kadang sulit bisa diterjemahkan ke end-user.

End-user yang dimaksud adalah diri sendiri, karena sesuai dengan yang tertulis di profil, blog adalah media bagi saya untuk berkomunikasi dengan diri sendiri lebih dalam dan mengaturnya menjadi tersusun lebih mudah. Terkadang memang melihat menu stats dari dashboard blog ini, penasaran sejauh apa orang-orang berusaha memahami diri sendiri. Tapi saya tahu, bukan itu tujuannya.

Kebiasaan ini kemungkinan besar akan dikurangi setelah dua bulan, mungkin 3 atau 4 postingan dalam seminggu. Memang, masih ada ruang yang bisa dikembangkan, seperti yang disebutkan sebelumnya. Tetapi perlu juga dipahami, bahwa selain menambah konsumsi yang harus dibaca dan diperhatikan, perlu juga memproses hal-hal yang masuk ke kepala. Atau kata yang lebih tepatnya adalah "belajar". Fakta bahwa beberapa kali merasa kebingungan tentang apa yang akan ditulis dan bagaimana membahasakannya, memverifikasi hal tersebut. Kualitas media online yang rendah karena sering dikejar target yang tidak tepat, juga bisa menjadi bahan penilaian.

Apalagi, dalam sebulan ke depan, entah pandemik ini bakal tetap mempengaruhi atau tidak, tetapi kebutuhan untuk aktif dalam bekerja, berorganisasi, atau berjejaring bakal menguras waktu dan fokus. Bahkan, blog ini selama setahun sempat tidak ada pertambahan post, padahal yang dipikirkan bertambah. Jadi cukup pas rasanya jika mengurangi jumlah postingan, tanpa harus kehilangan fungsi dari menulis di blog bagi diri sendiri. Tentu akan saya lihat nanti, dimana titik baru equilibriumnya.

Untuk sementara dan saat ini, saya harus memberi selamat ke diri sendiri dulu. I've done good so far.

Komentar