Bandung yang Sepertinya Belum Terlalu Sepi

Herd immunity. Sepertinya beberapa orang sedang mengharapkan hal tersebut. Dan juga sepertinya mayoritas.

---

Hari ini, setelah kemungkinan besar lebih dari 2 minggu, akhirnya saya keluar dari rumah karena ada kegiatan komunitas untuk mengikuti diskusi publik mengenai ketahanan pangan di Jawa Barat. Dalam perjalanan ke tempat yang dituju, saya memilih berjalan kaki selama sekitar setengah jam, demi menghindari naik ojek online, menggerakkan badan lebih leluasa, serta memperhatikan kondisi sekitar secara langsung. Ingin memperhatikan sejauh apa himbauan untuk melakukan kegiatan dari rumah bisa dilaksanakan.

Data Struktur Ekonomi Bandung tahun 2012
Dari bidang ekonomi, menurut data dari Open Data Bandung pada tahun 2012 (sangat tidak mengerti kenapa tidak ada update terbaru setelah 8 tahun), sehemat saya, sebenarnya banyak struktur ekonomi di dalam kawasan ini dapat menjalankan produktivitas industrinya dengan posisi orangnya dalam berjauhan dan dikoordinasikan melalui gawai pintar. Kemungkinan industri pengolahan yang sebesar 22.55% kebanyakan berada di kawassan ring road Soekarno Hatta.

Tetapi selama perjalanan jalan kaki tadi siang, sepertinya keadaan setengah setuju dan setengah tidak dengan hemat saya di atas. Tentu ada orang-orang yang sangat bandel meskipun sudah ada himbauan dari pemerintah dan tidak ada keadaan yang sangat mendesak. Orang-orang ini memang juga terlihat oleh saya, yang banyak nongkrong di pinggir jalan. Dalam penilaian yang objektif, bolehlah golongan seperti ini diabaikan dulu, untuk bisa melihat secara jelas tentang apa yang sedang terjadi.

Golongan yang bisa diabaikan juga adalah mungkin orang yang mengalami ketimpangan infrastruktur digital. Karena ketimpangan tersebut, mereka tidak bisa mengakses keuntungan yang sama dengan yang lainnya dari kemajuan teknologi.

Setelah memisahkan golongan-golongan tersebut, dengan demikian tentu cukup tepat rasanya pertanyaan berikut diajukan : seberapa sulitkah mengubah kegiatan menjadi work from home? Apakah aplikasi komunikasi dan koordinasi yang tersedia, bahkan secara gratis, seperti Whatsapp, Zoom, Skype, SpredsheetTo Do List, Trello, SAP, OdooNotion, dan lain-lain, masih belum maksimal jika digunakan dalam remote?

Menjawab hal ini tentu bergantung konteks, baik seperti dari sisi bidang, sektor, skala, komunikasi, quality control, atau lainnya. Tidak bisa dengan mudah disamaratakan dalam menganalisa dan mengambil kesimpulan. Saya sendiri sering beberapa kali melewati hambatan seperti ini dalam pekerjaan ataupun berorganisasi. Tetapi tidak bisa disangkal juga, banyak yang reluctant dalam mengadopsi perkembangan teknologi dalam mengubah budaya manajemen atau organisasi.

Tidak hanya Bandung. Teman saya yang sedang menjalani melanjutkan kuliah di Jerman, menceritakan tentang perhatian yang hampir mirip sedang terjadi disana di bidang pendidikan. Saat ia bercerita, para orang tua di Jerman sedang menyebarkan petisi pembatalan sekolah online. Perhatian yang sedikit disambut oleh akademia disana, karena mereka juga kebingungan untuk menyusun kurikulum yang tepat sasaran dengan metode interaksi yang berbeda, dalam kondisi dan waktu yang sangat riskan.

Jadi, selain bisa dimaklumi jika perlu proses dalam mengubah budaya atau kebiasaan, juga momen seperti ini, seharusnya dipertimbangkan juga untuk mengadopsi produk teknologi yang sudah  bersebaran di internet. Mengharapkan membiarkan herd immunity terjadi, tanpa tindakan aktif dari kesadaran masing-masing, akan memakan pengorbanan nyawa yang tidak sedikit. Sayang juga produk gratisan tidak dimanfaatkan. Beberapa produk aplikasi ini juga punya sistem yang cukup aman juga dalam keamanan data. Hal yang memang cukup penting dipertimbangkan demi kerahasiaan data.

Caliak-caliak dulu agak salayang buliah lah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo