Populasi Dunia Berkurang?

Inferno, Dan Brown, 2013. Novel fiksi ini bercerita tentang suatu organisasi yang berfokus dalam mengetahui dampak dari overpopulasi yang akan berdampak pada dunia. Dalam penelitian organisasi ini (yang saya lupa namanya karena organisasi ini tidak fiksi), overpopulasi jika terus dilanjutkan akan membahayakan bagi umat manusia. Proyeksi efeknya sudah bisa dilihat dari zaman sekarang, diantaranya perebutan tata ruang, ketimpangan ekonomi yang semakin tajam, politik dunia yang semakin tidak stabil, perebutan kekuasaan, sumber daya energi yang semakin terkuras, dan lain-lain. Sehingga, organisasi yang terdiri dari berbagai macam latar belakang, seperti peneliti sosial, saintis, politisi, atau juga pengusaha, memutuskan untuk meriset dan mengambil langkah terukur untuk memperlambat pertambahan populasi ini.

Salah satu di antara mereka adalah Bertrand Zobrist, seorang ahli genetika kaya raya, yang berusaha mengurangi populasi dengan menyebarkan senyawa kimiawi yang disebarkan ke seluruh dunia. Senyawa ini setelah menyebar akan melakukan seleksi alam, yang menghasilkan manusia yang bisa bertahan hidup karena keunggulan DNA dan dengan yang tidak. Plot twist digambarkan seperti novel-novel Dan Brown yang biasa pembaca kenal, dimana dihubungkan dengan sejarah dan mitologi romawi klasik. Tentu, usaha kimiawan ini digagalkan oleh Profesor Robert Langdon, dengan kemampuan beliau memecah kode dari Zobrist.

Saya sendiri sering memperhatikan tentang perkembangan overpopulasi ini dan terkadang mengkhawatirkan kemampuan bumi untuk memberikan sumber dayanya kepada umat manusia dan kemampuan manusia untuk bisa duduk bersama dalam memberikan solusi terbaik. Pola pikir Zobrist sendiri cukup menarik digambarkan dalam novel ini, sehingga memberikan tambahan pemikiran setelah menyelesaikan membaca novel Inferno. Untuk yang tertarik mengetahui mengenai pola pikir Zobrist ini, ada baiknya membacanya dari novel, tidak dari film. Memang sudah hal lumrah, tidak banyak film yang mampu menggambarkan semua yang ditulis di Novel. Tetapi, berdasarkan dari yang saya baca dari beberapa literatur internet, reasoning dan langkah dari Zobrist adalah hal yang paling disayangkan karena digambarkan terlalu singkat dan terburu-buru. 
---

Kemarin hari saya membaca artikel internet dari Wired. Artikel ini menulis tentang wawancara mereka dengan seorang jurnalis bernama John Ibbitson, dan ilmuwan politik bernama Darrell Bricker. Melalui buku mereka terbaru, Empty Planet, yang berdasarkan penelitian mereka di beberapa tempat di belahan dunia, bahwa saat ini perkembangan populasi dunia tidak seperti digambarkan selama ini, yang bahkan juga dikonfirmasi oleh United Nations (UN). Hal yang terbalik justru sedang terjadi.

Dalam model forecasting UN selama ini, input yang digunakan adalah tingkat kesuburan, pmigrasi, dan kematian. Tetapi menurut Bricker, ada satu faktor tambahan yang tidak diperhitungkan, yaitu ekspansi pendidikan untuk perempuan dan urbanisasi (yang dalam beberapa hal saling berhubungan). Ketika mereka mewawancari seorang peneliti demografer bernama Wolfgang Lutz, Lutz mempresentasikan efek faktor peningkatan edukasi pada perempuan dalam perhitungan jumlah populasi. Dalam presentasi tersebut, mereka mendapatkan proyeksi jumlah populasi sebesar antara 8 hingga 9 milyar pada tahun 2011, berbeda sekitar 2 milyar dengan yang dilakukan oleh proyeksi dari UN.

Menurut Lutz, organ reproduksi paling penting dari manusia adalah pikiran mereka sendiri. dalam arti kata, jika seseorang mampu mengubah pandangan lainnya dalam memandang reproduksi mereka, seseorang itu mengubah semuanya. Berdasarkan analisanya, efek terbesar pada tingkat kesuburan adalah edukasi pada perempuan. Setelah mendengarkan pemaparan tersebut, Ibbitson dan Bricker mencoba menelitinya ke perempuan dari 26 negara, tidak hanya di Kenya yang menjadi dasar presentasi Lutz. Dan ditemukan tingkat kesuburan juga menurun di Filipina dan Amerika Serikat, dua negara yang mempunyai latar belakang yang sangat jauh berbeda.
---

Saya ada rencana untuk mencari buku yang baru saja diterbitkan pada tanggal 9 Februari 2020. Selain saya pribadi senang membaca hal-hal sosial, pandangan dan proyeksi ini penting juga dalam bidang energi. Tidak hanya yang seperti sudah disebutkan di paragraf paling atas, tetapi di Indonesia, proyeksi kebutuhan akan energi yang dilakukan oleh Kementrian ESDM atau PLN, sering kali bersifat linear, bahkan sesekali seperti eksponensial. Dalam arti kata, muncul pertanyaan, apakah tingkat pendidikan perempuan bisa memperlambat pertambahan kebutuhan energi?

Well, siapa tahu bisa.

Komentar