[Resensi Buku] Teh dan Pengkhianat : Area Abu-Abu dalam Penjajahan

Buku Teh dan Pengkhianat adalah kumpulan cerpen tentang sudut pandang orang Belanda mengenai penjajahan mereka di Hindia Belanda, yang dikarang oleh Iksaka Banu. Dengan menggunakan sudut pandang tersebut, ada Banu berusaha bercerita bahwa meskipun penjajahan Belanda adalah sesuatu yang salah, tetapi ada banyak hal yang harus juga harus diperhatikan, sehingga penjajahan tidak bisa dinilai sebagai hitam dan putih. Dalam buku ini, ada beberapa cerpen yang cukup menarik untuk dibahas lebih jauh.

Cerpen pertama bercerita mengenai sudut pandang salah satu relawan dari VOC yang menyaksikan langsung proses genosida yang dialami warga pulau Banda pada tahun 1621. Dalam sejarah dunia nyata, pembataian penghuni warga pulau Banda didorong oleh Gubernur Jenderal JP Coen. Dorongan tersebut datang dari dua hal yaitu balas dendam dari masa lalu dan hasrat VOC untuk menguasai rempah-rempah yang nilai jualnya sangat tinggi pada masa itu. Dalam cerpen fiksi ini, seorang mantan juru tulis mempunyai misi untuk membantu menyelesaikan proses negosiasi, terutama karena kemampuannya bisa berbahasa melayu. Tetapi ketika mencapai pulau Banda, kondisi sudah lumayan rumit, dan juru tulis ini hadir untuk berusaha menengahinya. Sayangnya keadaan berujung dengan pembataian dengan Genosida dan dia harus menyaksikan langsung orang-orang kaya pulau Banda dipenggal kepalanya oleh samurai yang dibawa langsung dari Jepang. Dalam pergulatan batin yang berkecamuk, sang juru tulis terpaksa berteriak kepada algojo dan pasukan lainya, yang sayangnya kemungkinan besar akan berujung kepada kematian dirinya. Pergulatan batin ini diberikan juga digambarkan oleh Banu pada cerpen lainnya.

Selanjutnya, ada dua cerpen yang menggambarkan pertentangan ilmu pengetahuan dengan agama dan mengangkat dua isu yang sering menjadi bahasan sejarah ilmu pengetahuan, yaitu bentuk bumi dan vaksin. Isu ini pun dikaitkan dengan hubungan Belanda dan Hindia Belanda dengan jarak yang cukup jauh dan melintasi lautan, sehingga perbedaan pandangan ini semakin kentara. Dalam pandangan para positivisme, ilmu pengetahuanlah yang mengantarkan Belanda menjejakkan kaki di tanah yang kaya rempah-rempah dan akan menyelamatkan wabah cacar di Hindia Belanda. Sedangkan bagi kaum agama, terutama oleh pastur, pandangan akan bumi bulat bertentangan dengan yang oleh mereka tafsirkan di kitab suci injil. Perihal mengenai penanganan wabah cacar, metode yang dipilih sendiri bertentangan dengan kehendak tuhan yang sudah ditasbihkan kepada umat manusia.

Dua cerpen yang berjudul "Tegak Dunia" dan "Variola" ini cukup menarik untuk dilakukan komparasi. Pada "Tegak Dunia", ilmu pengetahuan datang atas nama penguasaan Hindia Belanda dan melihat kehadiran agama menghambat proses. Hal tersebut berbeda terbalik pada cerpen "Variola", ketika ilmu pengetahuan berjuang untuk membebaskan semua lapisan masyarakat, baik dari kalangan pribumi maupun orang eropa, dari wabah cacar air. Sayangnya, metodologi yang mereka ambil bertentangan dengan pemahaman gereja dalam menafsirkan kitab suci. Pola pertentangan ini juga digambarkan dalam cerpen "Di Atas Kereta Angin" yang bercerita penyebaran teknologi terbaru di antara kalangan masyarakat.

Juga digambarkan dalam cerpen ini mengenai semangat woman empowerement dari Roehana Kudus yang didukung oleh para perempan Belanda. Semangat mereka diterjunkan dalam merintis media dan pemberdayaan kamu perempuan. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi Banu berusaha menggambarkan semangat perjuangan perempuan bisa menemukan pertemuannya setelah melewati batas tersebut. Dan hal berikut sudah terjadi sejak masa lampau, tidak hanya bergaung pada zaman sekarang.

Buku ini ditutup oleh cerpen mengenai kekalutan para pengusaha di tanah Hindia Belanda, apakah akan turut membantu pemerintahan baru dibawah Soekarno, atau pulang ke Belanda dengan pekerjaan yang terlihat belum jelas seperti apa, demi menyelematkan diri dari semangat kemerdekaan yang membabi buta.
---

Secara personal buku ini bagi saya sangat menarik. Perdebatan mengenai sejarah penjajahan dan sejarah pertentangan ilmu pengetahuan dengan agama adalah diskursus yang sering menguak dalam masyarakat. Dan Iksaka Banu berusaha menghandirkan perbenturan itu lebih jauh dalam bentuk fiksi sejarah.

Five start from 5.

Komentar