Mengatakan "I Don't Know"

Pada Maret 2020, Matthew Backus dan Andrew T. Little menulis jurnal yang berjudul "I Don't Know". Penelitian mereka membahas bagaimana seorang pengambil kebijakan publik politikus mengambil pilihan dalam dunia yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian. Dalam proses tersebut, pengambil keputusan akan bertanya kepada para ahli mengenai pandangan mereka. Tentu sekilas hal yang normal untuk dilakukan, dan memang seharusnya terjadi. Tetapi tidak ketika seorang ahli sangat peduli dengan reputasi akan kompetensinya.

Dalam posisi tersebut, para ahli akan sulit untuk mengakui tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui atau belum dipahami. Bisa diperkirakan, ketika mereka terjebak oleh, katakanlah ego pribadi, kelancaran bisnis di masa depan, atau historikal pengalaman, pandangan yang akan diberikan kepada pengambil keputusan akan menjadi bias. Jurnal ini berusaha menggambarkan dampak dan mencari hasil optimum yang terbaik dengan menggunakan pemodelan Markov Sequential Equilibrium, sebuah konsep equilibrium dalam game theory. Dengan pemodelan tersebut, Backus dan Little memberikan sesuatu rekomendasi bentuk pertanyaan kepada pengambil keputusan yang bisa diajukan kepada para ahli, sehingga para ahli lebih leluasa untuk mengatakan "Tidak tahu" mengenai hal yang tidak dipahaminya. Atau singkatnya, lebih jujur.

Dalam kesimpulan akhirnya, jurnal ini dibangun atas dua dasar teori. Pertama, pembuat keputusan tidak hanya tidak yakin dengan konteks yang dihadapinya, tetapi juga tidak tahu apakah konteks tersebut dipahami oleh ahli terkait. Kedua, kredibilitas yang sudah dibangun oleh para ahli secara konsisten dan struktural. Seringkali dalam eksekusinya, para pengambil keputusan melakukan validasi kepada pihak kedua atau seterusnya. Bisa jadi, kebenaran bisa didapatkan lewat metode tersebut, layaknya metode peer review yang biasa digunakan dalam memerika jurnal-jurnal ilmiah. Bias-bias personal bisa diminimalisasi lewat cara ini. Tetapi sayangnya, kurang cukup untuk mendorong kejujuran dari para ahli, yang bahkan bisa memperburuk keadaan.

Jurnal ini memberikan rekomendasi kepada para pengambil keputusan untuk mendorong pertanyaan, apakah fakta yang berkaitan dengan pertanyaan terkait cukup kuat atau tidak. Menurut Backus dan Little, pertanyaan tersebut akan lebih baik dalam mendorong komunikasi di politik dan organisasi secara general, daripada menanyakan apa yang ahli pikirkan mengenai kebenaran.
 
Bagaimana proses penurunan dan bentuk visualisasi pemodelannya, lebih baik dibaca saja sendiri, karena selain panjang dan saya tidak begitu memahami untuk sehingga bijak untuk dimasukkan dalam tulisan blog ini, tetapi bukan hal itu juga yang ingin saya coba pahami disini.

Tetapi, benarkah? Bisa dieksekusikah?

---
[...] it is in the admission of ignorance and the admission of uncertainty that there is a hope for continuous motion of human beings in some direction that doesn't get confined, permanently blocked, as it has so many times before in various periods in the history of man.

Kutipan tersebut diungkapkan oleh Richard Feynman dalam John Danz Lecture Series pada tahun 1963, yang kemudian dibukukan dalam The Meaning of It All. Kutipan itu juga dimasukan oleh Backus dan Little dalam jurnalnya.

Pada suatu hari, dalam suatu obrolan via telepon dengan salah seorang kenalan, beliau mengatakan menjadi seseorang yang aktif bertanya adalah sesuatu yang wajib dilakukan sebagai manusia. Dengan senantiasa bertanya, akan memaksa seseorang menjadi rendah hati terhadap berbagai keadaan dan senantiasa belajar. Sesuatu penggambaran yang ideal, tentunya.

Sayangnya dalam kerangka kehidupan sosial dan kontemplasi diri, dimana ada kerangka nilai dan norma yang menjadi patokan untuk bergerak, baik kecil atau besar, bertanya terkadang menjadi kendala untuk bergerak secara bersama-sama. Tidak mempunyai pijakan norma dan nilai yang bisa dipegang karena senantiasa berubah, akan memperlambat langkah yang mungkin seharusnya progresif dan pesat. Bertanya, akan menjadi sebuah metode yang kontra produktif, ketika bergerak juga menjadi sebuah kewajiban. 

Dengan demikian, menjadi relevanlah, ketika seorang ahli, atau yang dianggap mempunyai pemahaman atau kemampuan akan suatu konteks, tetap harus mempertimbangkan pandangan yang akan diberikan kepada pihak yang memberikan kepercayaan kepadanya. Bentuk ekstrimnya mungkin ketika secara bisnis atau kredibilitas mulai goyah. Tetapi yang mungkin bisa saja lebih ekstrim adalah, tentu saja ada kemungkinan ketika ahli ini mempertanyakan kemampuan dirinya. Singkatnya, perlu keahlian atau momen yang tepat agar ahli ini bisa mengeluarkan kata I don't know untuk hal yang mungkin perlu dipahami lebih jauh atau bahkan benar-benar tidak dimengerti.

Jika merunut pada saran dari jurnal di atas, bagi para pengambil keputusan, disarankan untuk bertanya kepada ahli mengenai basis fakta yang digunakan untuk memvalidasi suatu pertanyaan cukup kuat atau tidak. Kurang lebih, pengambil keputusan mendorong para ahli untuk melihat jauh lebih luas terlebih dahulu, sebelum memberikan pandangannya pada situasi yang tidak jelas dan kompleks. Sehingga, titik equilibrium bisa diraih, dimana para ahli bisa tetap yakin dengan kemampuannya dan kredibilitasnya, tanpa harus berlebihan, sehingga bisa jujur ketika mengutarakan ketidaktahuannya.

---

Untuk konteks personal, sepertinya jauh lebih sulit. Kemampuan untuk mengakui dan mengutarakan ketidaktahuan untuk suatu hal yang sebelumnya terasa familiar, tetapi tidak di konteks yang kompleks dan tidak jelas, bukanlah suatu metode yang mudah daripada relasi pengambil keputusan publik - ahli.

Alasan saya katakan lebih sulit adalah, sepertinya dibutuhkan ketenangan untuk untuk bisa memposisikan dua pribadi dalam diri seseorang. Salah satu pribadi ini akan bertindak sebagai seseorang yang mengambil pengambil keputusan publik, dan salah satu lagi yang bertindak layaknya seorang ahli. Dalam situasi yang sifatnya sedang kompleks dan tidak jelas, kemampuan untuk tenang akan menjadi kemampuan dasar, sebelum mendorong suatu dialektika.

Ketika ketidaktenangan sulit dicapai, batas garis tebal antara seseorang-pengambil keputusan dan seseorang-ahli akan sulit diraih. Sehingga, di benak personal, akan rentan terjadi campur aduk, yang berujung kepada ketidakmampuan seseorang untuk jujur kepada diri sendiri, dan yang berujung mengambil keputusan yang buruk.

Ketika ketenangan sudah dicapai, akan terlihat hal-hal yang yang belum dipahami atau ketidaktahuannya oleh seseorang-ahli. Dari sana, biasanya akan ada ego yang menghalangi seseorang-ahli untuk mengakui hal - hal tersebut kepada seseorang-pengambil keputusan. Barulah setelah itu, dikembalikan dahulu kepada seseorang-pengambil keputusan untuk mengajukan pertanyaan kepada seseorang-ahli, apakah sudah cukup kuat fakta yang digunakan untuk mengjustifikasi suatu pertanyaan.

---

Dari penggambaran tersebut, kesimpulan yang bisa saya ambil untuk sementara ini adalah mengutarakan ketidaktahuan pada konteks yang kompleks dan tidak jelas membutuhkan, ketenangan, relasi yang seimbang antara keputusan (pengambil keputusan publik/personal) dan pemikiran (ahli), dan momentum.

Validkah hasil penggambaran yang saya dapatkan? Well, tidak tahu juga. Tapi setidaknya, untuk saya pribadi, hal tersebut adalah yang sedang saya coba pegang secara konsisten dalam mengarungi hidup saat ini. Untuk para pengambil kebijakan publik dan para ahli, jurnal Buckus dan Little cukup baik untuk sebagai bahan instropeksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo