Mengupdate Kabar Dunia di 28 November

Hampir semua sosial media saya saat ini sedang di deaktivasi. Rencananya Instagram, Twitter, dan Facebook, tidak akan dibuka selama sebulan. Kenyataannya, ternyata sudah lebih dari yang direncanakan dan saya belum ada mengambil keputusan untuk mengaktivasinya lagi. Sempat terpikirkan tentunya untuk membuka lagi, karena kesibukan dan pilihan-pilihan berbagai pertimbangan, pikiran itu bisa dilewati.

Tentunya datang dengan pengorbanan. Berita-berita terbaru, baik lokal dan internasional, beserta narasi-narasi yang mengiringinya, disengaja atau tidak, tidak bisa saya update secepat sebelumnya. Begitu juga kabar dari gerak atau narasi yang bersifat impulsif dan bersifat otonom. Kali ini, saya harus membuka langsung dari website media yang dituju, atau terkadang membuka link kiriman dari grup telegram atau whatsapp (yang tentunya sangat rentan terpengaruh echo chamber).

Well, keberjalanan waktu, tidak masalah. Pilihan hidup selalu berkaitan dengan prioritas. Dan saya yang terbiasa keras kepala, berusaha mengarahkan sifat itu ke pilihan yang diambil.

But still, I wonder, what is happening currently? Berikut rangkuman hal-hal yang menjadi perhatian saya.

---
 
Pertama, HRS kembali ke Indonesia. Sebuah kabar yang sejatinya biasa saja bagi saya, tetapi mengkonfirmasikan hal-hal yang sudah menjadi bayangan saya dari dulu. Contohnya, pernyataan Mahfud MD yang menyatakan kepulangan HRS adalah hak warga negara, layaknya ketika menetap cukup lama di luar. Padahal, keberangkatan HRS awalnya untuk menghindari pergelutan yang harus dihadapinya dari politik internal dalam negeri, terutama tekanan dari pemerintah pusat. Hal ini bisa dilihat sebagai bentuk konfirmasi, bahwa sejak awal posisi HRS sendiri dibutuhkan untuk menjaga narasi-narasi politik dan kebangsaan yang dibangun dan dijalankan oleh pemerintahan sekarang beserta partai yang mendukungnya, tetapi dalam "ruang atau ukuran" yang secukupnya. Simbiosis mutualisme, sejak dulu, saat ini, dan kemungkinan besar pada akhirnya akan tetap begitu.

Kedua, Menteri KKP, Edhy Prabowo ditangkap oleh KPK, yang dipimpin oleh Novel Baswedan. Terlepas dari jual beli benih lobster yang menjadi konteks kasus korupsi, perlu dicatat langkah yang diambil KPK saat ini memperkuat pernyataan Fahri Hamzah beberapa tahun lalu bahwa KPK sudah mengambil posisi sebagai alat pertarungan politik. Bagaimana tidak? Selain Susi Pudjiastuti dan Luhut Binsar Pandjaitan, ada banyak pihak yang bakal tertarik dalam pusaran kasus ini. Selain itu bisa juga, pilihan yang diambil oleh KPK saat ini mencoba mengembalikan marwahnya yang tertekan oleh perundang-undangan sejak sekitar tahun 2017an.

Di Amerika Serikat, Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Saat ini, Donald Trump masih menyalahkan kecurangan dalam pemilu dan masih menyangkal hasil yang didapatnya. Dalam proses penyangkalan tersebut, di dalam forum G20, Donald Trump memberikan pernyataan untuk tetap bekerja sama dengan para pemimpin negara untuk waktu yang lama. Sebuah tantangan yang semakin berat bagi negara yang mendorong pemahaman demokrasi ke seluruh penjuru dunia setelah memenangkan perang dunia ke 2.

Cukuplah tentang politik, yang seringkali kabar terbaru hanya begitu-begitu saja. Dari Amerika Latin, si penyihir lapangan hijau, Diego Armando Maradona, meninggal dunia. Sampai sejauh ini, masih diselidiki penyebab detail dan kronologis kematian Maradona. Tetapi kemungkinan besar akibat masalah dari jantung, penyakit yang sudah dideritanya sejak lama dan akibat kebiasaan habit buruknya yang tak terkontrol. Video-video aksinya di lapangan saat ini banyak disusun ulang dan ditonton di Youtube. Sebuah kehilangan yang cukup besar juga bagi publik Argentina, mengingat posisinya tidak sekedar sebagai pemain bola. Dia lebih dari itu.

Di Jepang dan tentang Energi, Jepang baru saja mengizinkan salah satu reaktor nuklir yang terkena dampak dari gempa dan tsunami di Fukushima untuk dioperasikan kembali dalam beberapa tahun ke depan, dengan standar keamanan yang terbaru yang sudah disusun ulang setelah bencana tersebut. Sejauh ini, sudah 15 reaktor yang lolos kualifikasi standar keamanan tersebut. Keputusan ini diambil berkaitan dengan tekanan ke Jepang untuk mempercepat proses transisi energi untuk mencapai carbon neutrality pada tahun 2050. Sebelumnya, pembangkit nuklir dinonaktifkan karena pembangunan posisinya yang sekitar patahan lempeng bumi yang membentuk Jepang. Publik Jepang sendiri sepertinya sebagian besar kurang mendukung keputusan tersebut.

Mengenai carbon neutrality sendiri juga dibahas oleh WMO (UN's World Meteorological Organization) . Meskipun pandemi memperlambat emisi gas rumah kaca akibat kebijakan yang diambil, seperti lockdown atau batasan berpergian, tetapi konsentrasi karbon dioksida di atmosfir tetap tertinggi, bahkan tetap memecahkan rekor sebelumnya. Menurt NASA, yang mendukung pernyataan WMO, dampak pandemi hanya lah sebuah perubahan kecil pada grafik jangka panjang. Dibutuhkan kebijakan yang berkelanjutan untuk mengubah kurva menjadi lebih datar.

Sebuah kabar dari Vatikan, Pope Francis mengajak pengikutnya untuk berdoa bersama, agar robot dan AI (Artificial Intelligence) untuk selalu melayani umat manusia. Pope Francis sudah sangat dikenal, sebagai seseorang yang sudah sangat perhatian terhadap perkembangan AI, yang mungkin juga didasari dari latar belakangnya sebagai lulus Master dari jurusan kimia. Kekhawatirannya terbesar adalah ketimpangan sosial yang bisa semakin melebar jika perkembangan dan implementasi AI tidak tepat sasaran, apalagi jika disalahgunakan. Selain sudah menemui beberapa petinggi perusahaan teknologi, seperti Brad Smith, presiden Microsoft, pada awal tahun 2020, Vatikan bersama Microsoft dan IBM mengeluarkan dokumen "Rome Calls for AI Ethics". Dokumen tersebut berisi 6 prinsip umum yang menjadi petunjuk umum dalam AI deployment.

Dari perkembangan vaksin Covid-19, gambaran singkat mengatakan saat ini ada 12 vaksin yang sedang menjalani proses uji klinis tahap 3. Sebuah gambaran yang sepertinya sangat penting untuk negara-negara yang tidak mempunyai dan melaksanakan kebijakan yang memadai untuk menanggulangi Covid-19 di negaranya. 

---

Cukup sudah hari ini. Mari mengamati kabar selanjutnya di kemudian hari.

Komentar