Belajar Kehidupan Einstein : Perkara Memaafkan

Seiring bertambah umur, perkara memaafkan bukan perkara yang gampang ternyata.

Waktu berjalan, begitu juga dengan pengalaman. Memang ada konsep relativitas dalam memahaminya, dimana ada perbedaan makna dari setiap objek yang mengalami pengalaman tersebut. Tetapi, sepertinya jumlah pengalaman pada suatu objek, berbanding lurus dengan kecepatan dan posisi objek itu bergerak dalam hidupnya.

Dan dalam pengalaman tersebut, tentu bisa saja berkaitan dengan pengalaman sebelumnya, sedikit banyaknya, walau belum tentu berkaitan. Mungkin itu yang dirasakan oleh Mileva Maric, Hans Albert Einstein, dan Eduard Einstein.

Di saat dunia menyoroti dunia Einstein, yang memberikan perubahan dengan teori relativitas umum dan persamaan ekuivalensi massa-energi, serta menantang kekuasaan Hitler, terlepas dari baik dan buruknya sorotan tersebut, keluarga pertama Einstein terlihat hidup dalam kegelapan. Demi memuaskan hasrat Einstein untuk menemukan cara alam bekerja, Maric harus merelakan keinginan masa kecilnya menjadi perempuan yang aktif dalam dunia sains dan ditinggalkan berulang kali, Eduard harus menahan diri tidak bisa bertemu bapaknya berdekade dan terjatuh dalam Skidofrenia, serta Hans yang merasa sangat inferior dan diabaikan di depan bapaknya, salah satunya karena pilihannya dengan menjadi engineer.

Tetapi hidup harus terus bergerak, dan salah satu cara agar hidup memang dengan memaafkan. Proses yang tak mudah, karena dengan berjalan waktu, Maric mencoba menjadi guru les piano dan menginvestasikan ulang hadiah Nobel yang ia minta dari Einstein untuk bertahan hidup di Zurich. Hans berusaha membuktikan sikap bapaknya yang salah karena merendahkan keluarganya, dengan menjadi engineer terkemuka di Swiss atau di Amerika. Eduard-pun, tetap semangat sebagai penikmat Freud. Dalam keberjelanannya, mereka akhirnya bisa memaafkan Einstein, karena sedikit banyaknya pengaruh dalam hidupnya dihargai oleh bapaknya.

Bagi Elsa pun, istri kedua Einstein, hal kurang lebih sama juga terjadi seperti itu. Ketika mengetahui Einstein tidak bisa berhenti sebagai womanizer, terlalu fokus dengan pekerjaannya atau memperhatikan keluarganya atau juga bahkan kondisi kedua anaknya di Swiss, akhirnya ia memilih bersikap keras. Tetapi, sikap keras itu memberikan ruang bagi dirinya untuk memaafkan Einstein.

Apakah hanya pada sekeliling Einstein? Ternyata tidak. Seiring dengan pengalaman yang bertambah di dalam waktunya-Einstein, ia pun akhirnya mengakui kesalahannya. Mungkin dipicu oleh persamaan ekuivalensi massa-energinya dan tuduhan besar ke dirinya yang berkaitan dengan komunis selama di Amerika, ia akhirnya merenung melihat ke dalam dirinya. Pengalaman yang terlewatkan oleh dirinya menampakkan dirinya dalam realitas yang berbeda. Dan pengalaman tersebut, sering berkaitan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang tidak hanya kompleks, tapi bergerak seperti chain reaction jika disentuh, layaknya yang ia pikirkan dalam persamaan ekuivalensi massa-energi.

Sehingga tidak ada cara lain baginya, selain melihat lagi jauh ke belakang, dan belajar memaafkan dirinya. Dan ia mencoba memulainya dengan mengontak anaknya, Hans.

Komentar